Mengapa Al-Qur’an Benar

disarikan dari tulisan inspiratif Eka Pratama, Alumni Mesin ITB 2002

birds-691274_960_720
“Ataukah tak mereka perhatikan burung-burung yang di atas mereka mengembangkan dan mengatupkan sayapnya? Tiada yang menahan mereka (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia terhadap segala sesuatu Maha Melihat.” Al-Mulk: 19

BismilLaahirRahmaanirRahiim.

Bermula dengan sebuah pertanyaan lugu tentang Al-Qur’an: Mengapa ayat-ayatnya loncat-loncat, tidak tersusun secara sistematis? Ini bisa mengarah kepada pertanyaan-pertanyaan lain terkait bahasa dan muatan informasi, dua hal yang sangat berpengaruh terhadap arah kehidupan seseorang: Mengapa Al-Qur’an kadang sulit dimengerti? Bagaimana meraih maknanya dengan baik sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari? Adakah pengaruhnya jika dalam mempelajari Al-Qur’an kita bisa berbahasa Arab? Bukankah mampu berbahasa Arab pun belum menjamin seseorang bisa menjangkau makna isi Al-Qur’an?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, jika kita mencari jawabannya dengan tulus dan murni demi mencari kebenaran dan bukan kesombongan, kemudian kita menemukan jawaban-jawabannya, akan membuat iman kita kokoh dan tak tergoyahkan. Sebab bisa jadi Anda telah mencapai titik istimewa dalam hidup sehingga mulai bertanya: Mengapa saya ada di sini? Untuk apa tujuan hidup ini? Apa yang terjadi setelah saya mati? Dari mana saya tahu saya memiliki keyakinan yang benar? Atau bahkan pertanyaan-pertanyan yang terkesan kurang ajar, seperti: Apa buktinya Al- Qur’an itu dari Sang Pencipta, dan bukan karangan manusia? Apa buktinya Islam itu benar?

Dua pertanyaan terakhir saling melengkapi. Kunci untuk menjawab pertanyaan Apa bukti Islam-lah yang benar? adalah Al-Qur’an. Selain menjadi petunjuk dan pedoman hidup, Al-Qur’an juga merupakan sebuah mukjizat. Sebagian hard-proof bahwa ia memang berasal dari Allah Yang Esa adalah betapa isi ayat-ayat Al-Qur’an mendahului modern science. Sesuatu yang baru-baru ini saja dibuktikan sains, ternyata sudah disebutkan Al-Qur’an 1.400 tahun yang lalu, di tengah gurun pasir tandus, melalui seorang manusia biasa yang bahkan mulanya “hanya” seorang penggembala dan pedagang, bukan pelajar yang ditempa di kuil-kuil.

“Di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memerhatikan?” (Adz-Dzaariyaat: 20-21) Maka siapakah yang memberitahu Nabi ShallalLahu’alayhi wa-sallam, jika bukan The Creator, hal-hal berikut ini:

  1. Genesis. Suatu kesatuan massa yang besar mengalami ledakan dahsyat (the big bang) hingga berangsur-angsur membentuk alam semesta yang terus mengembang sebagaimana adanya sekarang. Hal ini sudah diisyaratkan dalam Surat Al-Anbiyaa’ ayat 30: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu padu kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup; maka mengapa tak juga mereka beriman?” Tidak perlu kaget bahwa tokoh-tokoh yang menguatkan teori big bang tergolong kategori yang disebutkan di awal ayat ini. Georges Lemaître, yang menyelidiki bahwa semesta yang mengembang dapat ditelusuri ke satu titik mula, adalah seorang Katolik, sedangkan Edwin Hubble yang menyimpulkan bahwa galaksi-galaksi saling menjauh mulanya seorang Kristen, hingga ia menjadi seorang agnostik.
  2. Bulan bercahaya dengan memantulkan sinar matahari. Penemuan ini juga tergolong modern. Dulu orang menyangka bulan memancarkan cahayanya sendiri. Dan ayat Qur’an sudah menyebutkannya jauh lebih dulu dalam Surat Al-Furqaan ayat 61 dan juga ayat-ayat lain. Al Qur’an selalu konsisten menyebut matahari sebagai “syams” atau “siraaj” (obor) atau “wahhaaj” (lampu menyala). Dan cahaya bulan disebutkan dengan kata “muniir” yang menunjukkan bahwa ia tidak mengeluarkan sinarnya sendiri.
  3. Unsur besi yang sekarang ada di bumi tidak hadir saat bumi terbentuk pertama kali. Penemuan astronomi modern mengungkap bahwa logam besi yang ada di bumi ternyata berasal dari benda-benda luar angkasa. Logam berat di alam semesta diproduksi di dalam inti bintang-bintang raksasa. Hal ini lagi-lagi sudah disebutkan dalam Surat Al-Hadid ayat 25. Pada ayat ini, digunakan kata “anzalnaa” yang berarti “Kami turunkan.”
  4. Gunung adalah pasak yang memiliki root/akar yang menghunjam dalam sebagai penjaga kestabilan kerak bumi. Hal ini baru dibuktikan ilmu geologi modern, sementara Al-Qur’an menyebutkan ini dalam Surat Thaha ayat 6-7, Surat Al-Anbiyaa’ ayat 31, dan Surat Lukman ayat 10.
  5. Gunung-gunung bergerak perlahan (beberapa sentimeter per tahun). Ini juga baru dibuktikan ilmu geologi modern. Al-Qur’an sudah menyebutkan soal ini dalam Surat An-Naml ayat 88.
  6. Fenomena pembatas antara dua perairan, seperti di area Selat Gibraltar, yaitu pertemuan antara Laut Mediterania dan Laut Atlantik. Hal ini sudah disebutkan dalam Surat Ar-Rahmaan ayat 19-20 dan An-Naml ayat 61.
  7. Perkembangan embryo manusia di dalam rahim dideskripsikan secara akurat pada, antara lain, Surat Al-Alaq ayat 1-2, Surat Al-Mu’minuun ayat 12-14, Surat Al-Qiyamah ayat 38 dan Surat Al-Hajj ayat 5.
  8. Kandungan chitin pada struktur tubuh semut menjadikan pilihan kata yang tepat untuk peristiwa terlindasnya badan semut adalah “yahtimannakum” yang artinya “menghancurkanmu sampai pecah”, sebagaimana tertera pada Surat An-Naml ayat 18. Ayat ini sempat dicemooh oleh sebagian orang yang skeptis terhadap Al-Qur’an, dengan anggapan Al-Qur’an telah memuat pilihan kata yang salah. Untuk lebih lengkapnya, silakan baca artikel ini.
macro-2302415_960_720
“Wahai, manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.” Al-Hajj: 73

Sedikit demi sedikit pertanyaan-pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya masing-masing. Maka betapa pentingnya menguasai bahasa Arab klasik, karena terjemahan seringkali doesn’t even scratch the surface — terlalu banyak makna yang hilang. Namun,

kitab agama lain pun ada yang mempunyai kandungan sains. Apakah itu berarti kitab mereka pun benar? Untuk meyakinkan, berarti ada satu hal lagi yang harus dipastikan, yaitu apakah informasi dalam Al-Qur’an itu intact atau utuh dan free from corruption. Pertanyaan Mengapa ayat-ayat Al-Qur’an terlihat seperti lompat-lompat atau tidak sistematis? menjadi relevan, dan di sinilah keajaiban-keajaiban linguistik Al-Qur’an maju sebagai argumen-argumen kuat.

Al-Qur’an sangatlah puitis. Untuk yang cukup paham, keindahan lapisan demi lapisan bahasanya begitu kuat, lebih dahsyat daripada puisi manapun. Ketika dilantunkan, telinga non-Arab pun dapat mengenalinya sebagai irama-irama indah. Bagi penggemar sains yang sering nonton video dokumenter tentang alam, tentang bumi, luar angkasa, bintang-bintang, blackhole, dan sebagainya, ayat-ayat scientific dan luar biasa puitis itu akan benar-benar menembus ke dalam jiwa. Selain itu, ada pula ring composition structure yang teramat simetris, yang menunjukkan keajaiban linguistik Al-Qur’an. Berikut beberapa contohnya:

  1. Dalam Surat Al-Muddatsir ayat 3, Allah SWT berfirman: وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (wa Robbaka fakabbir) yang terjemahan sederhananya: “dan agungkanlah Tuhanmu”, sedangkan terjemahan yang lebih mumpuni bisa berbunyi: “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja”. Huruf و (waw) dalam bahasa Arab sebenarnya tidak selalu berarti “dan”. Bunyi [waaw] yang diwakili oleh simbol و dapat digunakan untuk 21 macam fungsi, dan salah satunya sebagai isti’naf yaitu untuk memulai kalimat baru. Sehingga sisanya berbunyi رَبَّكَ فَكَبِّر (Robbaka fakabbir). Perhatikan dengan baik. Kalimat tersebut dimulai dengan huruf ر (roo’) dan diakhiri dengan huruf ر juga. Huruf kedua adalah huruf ب (baa’) dan huruf kedua terakhir adalah huruf ب juga. Huruf ketiga adalah huruf ك (kaaf) dan huruf ketiga terakhir adalah huruf ك juga. Dan huruf ف (faa’) di tengahnya. Suatu rangkaian simetris yang hanya terdiri dari tujuh huruf. Dalam bahasa Indonesia, kita perlu menuliskan “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja”, sementara Al-Qur’an hanya membutuhkan tujuh huruf yang disusun secara elegan.
  2. Dalam Surat Yaa-Siin ayat 40, Allah SWT berfirman, لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ yang terjemahan sederhananya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” Allah SWT berfirman tentang benda-benda angkasa, di mana masing-masing “berenang” atau “melayang” atau beredar/berputar pada garis edarnya. Sekarang perhatikan كُلٌّ فِي فَلَكٍ (masing-masing pada garis edarnya). Perhatikan huruf pertama ك dan bagaimana diakhiri dengan huruf ك juga. Huruf kedua adalah ل (laam) dan huruf kedua terakhir adalah ل juga. Huruf ketiga adalah ف dan huruf ketiga terakhir adalah ف juga. Dan di pusatnya ada huruf ي (yaa’). Sekarang mari kita ilustrasikan: ك – ل – ف – ي – ف – ل – ك Pusat dari rangkaian huruf tersebut adalah huruf ي yang merupakan huruf pertama kata berikutnya يَسْبَحُونَ yang artinya mengorbit/berputar.
  3. Ayat Kursi tentunya familiar bagi seorang Muslim. Ayat ini terbagi menjadi sembilan klausa: (1) اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ – “Allah, tiada sembahan selain Dia, Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurusi (makhluk-Nya)” – (2) لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ “tak berlaku atas-Nya kantuk dan tak pula tidur” – (3) لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ – “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan apa yang di bumi” – (4) مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ “siapa yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya selain dengan izin-Nya” – (X) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ – “Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka” – (4a) وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء – “dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki” – (3a) وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ – “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi” – (2a) وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا – “dan tidaklah Dia merasa berat memelihara keduanya” – (1a) وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ “dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung.”
19442016_1793310310979489_1102104472046947602_o
Klausa-klausa yang saling bercermin dalam Ayat Kursi ditampilkan dalam kode warna.

Klausa pertama (kode 1) memuat dua nama Allah, yaitu الْحَيُّ (Yang Maha Hidup) dan الْقَيُّومُ (Yang Maha Mandiri/Sumber segala sesuatu). Klausa pembuka ini memiliki kesamaan dengan klausa penutup (kode 1a), di mana disebutkan pula dua nama Allah, yaitu الْعَلِيُّ (Maha Tinggi) dan الْعَظِيمُ (Maha Agung).

Kemudian lihatlah klausa kedua (kode 2), dan hubungannya dengan klausa kedua dari akhir (kode 2a). Mengantuk dan tidur adalah sifat makhluk. Manusia, misalnya, akan mengantuk jika kelelahan. Tapi bagi Allah, memelihara dan menjaga langit dan bumi tidak membuat-Nya lelah atau terbebani.

Kemudian perhatikan klausa ketiga (kode 3), dan koneksinya dengan klausa ketiga dari akhir (kode 3a). Dua klausa tersebut saling bercermin. Pada klausa ketiga, Allah menegaskan bahwa Dia-lah pemilik apa yang ada di langit dan di bumi. Dan pada klausa ketiga dari belakang (kode 3a), Allah menegaskan bahwa Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Di dunia ini, pemilik belum tentu penguasa, dan penguasa belum tentu pemilik. Di dalam ayat ini Allah sedang menegaskan bahwa Allah adalah Pemilik sekaligus Penguasa atas langit dan bumi.

Kemudian perhatikan klausa keempat (kode 4), dan hubungan maknanya dengan klausa keempat dari akhir (kode 4a). Pada klausa keempat, Allah menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki authority, kecuali Allah memberikannya. Dan ini dilengkapi dengan klausa keempat dari belakang yang menegaskan bahwa tak ada seorang pun yang memiliki ilmu kecuali apabila Allah menghendakinya.

Dan lihatlah bagaimana klausa yang ada di tengah (kode X) bertindak bagai cermin bagi kalimat di depan dan di belakangnya, sambil menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di depan dan di belakang makhluk-makhluknya.

Siapa yang bisa bertutur semacam ini?

  1. Surat Al-Baqarah, surat terpanjang dalam Al-Qur’an dengan 286 ayat, takes symmetry to a whole new level. Struktur yang diamati di sini dinamakan ring composition structure. Ini baru-baru saja ditemukan melalui penelitian linguistik modern. Berdasarkan tema, surat ini bisa dibagi menjadi 9 bagian:

Bagian 1: Keimanan & kekafiran

Bagian 2: Penciptaan & pengetahuan

Bagian 3: Hukum yang diberikan kepada Bani Israil

Bagian 4: Ujian yang telah dijalani Nabi Ibrahim

Bagian 5: Perpindahan arah kiblat shalat

Bagian 6: Para Muslim akan diuji

Bagian 7: Hukum yang diberikan kepada Para Muslim

Bagian 8: Penciptaan & pengetahuan

Bagian 9: Keimanan & kekafiran

Perhatikan bagaimana kesembilan tema tersebut simetris dan seperti membentuk struktur cincin, dengan bagian ke-5 sebagai cermin atau pusat tema. Dan di bagian ke-5 ini terdapat ayat ke-143, yang posisinya tepat di tengah surat (total ayat ada 286). Perhatikanlah bunyi ayat ini: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Baqarah ayat 143).

Pernyataan umat Islam sebagai umat pertengahan berada tepat di tengah surat ini. Dan ternyata struktur ini bukan hanya ada pada level makro (tema) saja. Tetapi juga pada sub-tema. Jadi terdapat struktur cincin di dalam cincin. Misalnya saja pada Bagian 8: Penciptaan & pengetahuan. Bagian awal (ayat 254): Mukmin harus mengeluarkan sebagian dari harta yang Allah berikan. Bagian tengah (ayat 255-260): Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui; Allah memberi kehidupan dan kematian. Bagian akhir (ayat 261-284): Perumpamaan tentang zakat/sedekah.

Struktur ini hadir tidak hanya pada level tema atau sub-tema saja, tapi bahkan pada level ayat. Misalnya pada ayat 255 yaitu Ayat Kursi yang telah dibahas tadi.

Presisi yang menakjubkan ini jelas terasa sebagai mukjizat ketika kita mempelajari sejarah hidup Nabi Muhammad ShallalLahu’alayhi wa-sallam. Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sedikit demi sedikit, sesuai dengan kejadian-kejadian atau tantangan-tantangan yang dihadapi Nabi ShallalLahu’alayhi wa-sallam saat menjalankan misinya sebagai utusan Allah. Dengan kata lain, ayat-ayat yang turun adalah jawaban atas peristiwa demi peristiwa yang terjadi di luar kontrol beliau. Misalnya, ketika seorang mukmin bertanya tentang suatu permasalahan spesifik, atau ketika musuh menantang beliau, RasululLah tidak mesti serta-merta memberikan tanggapan. Respon dari peristiwa demi peristiwa ini berupa turunnya ayat kepada beliau, demi menanggapi situasi yang beliau hadapi. Dan turunnya ayat-ayat ini tidak mesti berurutan di surat yang sama dan tidak mesti turun secara kronologis. Selama kurun waktu 23 tahun, ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan, tidak dalam urutan sebagaimana yang tertulis sekarang.

Segera setelah suatu ayat turun, barulah Nabi ShallalLahu ‘alayhi wa-sallam akan diinstruksikan lewat Malaikat Jibril ‘alayhis-salaam untuk meletakkan ayat ini di posisi ini pada surat ini, dan ayat itu di posisi itu pada surat itu. Dan seterusnya, dan seterusnya, sampai fixed. Dan perlu diingat, pada saat itu Al-Qur’an merupakan tradisi lisan. Para sahabat Nabi tidak melihat Al-Qur’an dalam format kitab tertulis. Mereka mendengar Al-Qur’an. Nah, pengalaman audio tersebut setelah dituliskan ternyata membentuk suatu struktur linguistik yang luar biasa. Is that humanly possible? Al-Qur’an ini tidak seperti buku biasa buatan manusia. Ayat-ayat yang sekilas tampak melompat-lompat ternyata membentuk suatu struktur yang berlapis-lapis namun tertata secara menakjubkan.

spider-web-2083087_960_720
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.” Al-Ankabut: 41

Fakta lain sebagai hard-proof bahwa Al-Qur’an memiliki struktur linguistik yang perfectly balanced adalah statistik kata di dalamnya. Di era modern ini Al-Qur’an sudah bisa dianalisis struktur linguistiknya menggunakan komputer. Jumlah total suatu kata tertentu dalam Al-Qur’an bisa dihitung dengan cepat dan mudah. Perhatikan fakta-fakta berikut:

– Kata “ad-dunya” (dunia) terhitung sebanyak 115 kali, dan kata “al-akhirat” (akhirat) persis sama sebanyak 115 kali.

– Kata “malaaikat” (malaikat) terhitung sebanyak 88 kali, dan begitu pun kata “syayaatiin” (syaitan) sebanyak 88 kali.

– Kata “al-hayaat” (kehidupan) terhitung sebanyak 145 kali, dan begitu pun kata kematian sebanyak 145 kali.

– Kata “ash-shaalihaat” (amal baik) terhitung sebanyak 167 kali, dan begitu pun kata “as-saya-aat” (amal buruk) juga sebanyak 167 kali.

– Kata “ibliis” (iblis) terhitung sebanyak 11 kali, dan kata berlindung dari iblis terhitung sebanyak 11 kali.

– Frasa “mereka berkata” terhitung sebanyak 332 kali, dan kata “katakanlah” juga sebanyak 332 kali.

– Kata “bulan” sebanyak 12 kali.

– Kata “hari” sebanyak 365 kali.

Again, is that humanly possible? Bisa jadi selama ini kita telah dibombardir oleh kedahsyatan mukjizat Al-Qur’an tanpa menyadarinya. Dan ternyata tidak sampai di situ saja. Al-Qur’an juga menawarkan dahsyatnya struktur matematis yang dimilikinya.

Salah satu yang mencolok adalah huruf-huruf inisial yang mengawali beberapa surat seperti ق di Surat Qaaf, huruf يس di Surat Yaa-Siin, dan sebagainya.

Mari kita perhatikan beberapa contoh berikut, yang mengindikasikan keajaiban angka 19, yang nantinya akan ditanggapi dengan ayat yang dapat menggugah nalar kita:

– Jumlah huruf ق (qaaf) di Surat Qaaf ada 57. Dan 57 = 3 x 19. Artinya, 57 adalah kelipatan 19. Sehingga jumlah huruf ق di Surat Qaf merupakan kelipatan 19. Dan ternyata jumlah huruf ق di Surat Asy-Syura juga ada 57. Jika jumlah huruf ق di kedua surat itu dijumlahkan, 57 + 57 = 114. Dan 114 = 2 x 3 x 19. Kelipatan 19 lagi.

– Jumlah huruf ي (yaa’) di Surat Ya Sin ada 237, dan jumlah huruf س (siin) ada 48. Jika dijumlahkan, 237 + 48 = 285. Dan 285 = 3 x 5 x 19. Kelipatan 19 lagi.

– Jika initial حم (haa miim) yang terdapat pada Surat Al-Mu’min, Surat Al-Fussilat, Surat Asy-Syura, Surat Az-Zukhruf, Surat Ad-Dukhan, Surat Al-Jasiyah, dan Surat Al-Ahqaf, dijumlahkan maka: Pada Surat Al-Mu’min terdapat 64 huruf “haa’” dan 380 huruf “miim”; Surat Al-Fussilat: 48 “haa’” dan 276 “miim”; Surat Asy-Syuraa: 53 “haa’” dan 300 “miim”; Surat Az-Zukhruf: 44 “haa’” dan 324 “miim”; Surat Ad-Dukhan: 16 “haa’” dan 150 “miim”; Surat Al-Jatsiyah: 31 “haa’” dan 200 “miim”; Surat Al-Ahqaf: 36 “haa’” dan 225 “miim”. Jika kita jumlahkan semua, hasilnya: 2147. Dan 2147 = 113 x 19. Kelipatan 19 lagi.

– Initial عسق (‘ain siin qaaf) di Surat Asy-Syuraa ayat kedua juga tidak terlepas dari ini. Jumlah huruf ع ada 98. Jumlah huruf س ada 54. Jumlah huruf ق ada 57. Jika dijumlahkan, 98 + 54 + 57 = 209. Dan 209 = 11 x 19. Kelipatan 19 lagi.

– Begitu pun inisial كهيعص (kaaf haa yaa ‘ain shood) di Surat Maryam. Dalam surat ini terdapat 137 huruf “kaaf”, 175 huruf “haa’”, 343 huruf “yaa”, 117 huruf “‘ain”, dan 26 huruf “shaad”. Jika dijumlahkan, 137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798. Dan 798 = 2 x 3 x 7 x 19. Kelipatan 19 lagi.

Jika kodifikasi Al-Qur’an ini sudah tercampuri hawa nafsu manusia alias corrupted, dan misalnya satu huruf ق saja hilang, atau satu huruf ي hilang, atau huruf lainnya, maka kita tidak akan bisa menikmati mukjizat kelipatan 19 ini sekarang.

Dan perhatikanlah Surat Al-Muddatsir ayat 27-31 berikut ini: “Dan tahukah kamu apa Saqar itu? Ia tidak meninggalkan dan tidak membiarkan; yang menghanguskan kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas. Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?’ Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (Al-Muddatsir: 27-31)

Dan jangan lupa, ada 19 huruf pada penulisan “bismilLaahirRahmaanirRahiim” dalam bahasa Arab, dan ia merupakan pembuka Al-Qur’an.

Itu baru beberapa contoh saja. Masih banyak lagi contoh lain yang bertebaran di dalam Al-Qur’an. Dan semakin dalam kita menyelam ke dalam Al-Qur’an, semakin banyak harta karun yang kita temukan. Dan harta karun itu seperti tidak ada habisnya. Bagai lautan luas. Dan sepertinya kita tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk memahami semuanya.

animal-21741_960_720
“Katakanlah (Muhammad): ‘Sekiranya ialah lautan itu tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habis laut itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).'” Al-Kahfi: 109

Dan setelah mukjizat demi mukjizat itu tersingkap, sudah saatnya hati dan akal kita tunduk kepada Allah. Jalani perintah-perintah Allah di dalam Al-Qur’an. Patuhilah perintah-perintah Rasul-Nya. Atii’ulLaha wa atii’urrasuul – Taati Allah dan taati Rasul-Nya. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Kita akan terkejut ketika kita sedang menghadapi suatu masalah hidup, dan ketika membuka Al-Qur’an, secara kebetulan kita mendapati ayat yang seakan-akan merespon langsung atas permasalahan kita. Ketika akan melangkah ke dalam kemaksiatan, tiba-tiba saja teringat ayat-ayat Allah yang melarang perbuatan tersebut. Kita akan menerima bimbingan-Nya melalui kata-kata-Nya dalam Al-Qur’an.

Jadilah hamba-Nya. Ringkasan dari seluruh isi Al-Qur’an pada dasarnya penerimaan bahwa kita adalah abdi dan Dia adalah Rabb atau Penguasa kita. Satu-satunya tujuan hidup kita, the sole purpose of this life, adalah mengabdikan diri kepada-Nya. Itulah satu-satunya cara agar kita mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya. Kedamaian di Surga-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 55)

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s