Terjemah Sebuah Nubuat

BismilLahirRahmanirRahim.

greek-887735_960_720

Mari berkunjung sebentar, ke Kitab Yohanes, bab 16, ayat 7. Para santri Kristologi Islami, yang menyelidiki Kristianitas lewat sudut pandang Al-Qur’an dan As-Sunnah, mempelajari ayat tersebut sebagai suatu nubuat atau kabar dari Nabi ‘Isa ‘Alayhis-salam. Sebagian akan mengartikan “nubuat” sebagai “ramalan”, karena biasanya terkait dengan kondisi di masa depan. Tapi tidaklah patut nabi disebut peramal. Dalam ayat itu, perkataan Nabi ‘Isa Alayhis-salam (saya tidak menyebutnya Yesus karena tidak sedang menulis dalam bahasa Yunani) menyebutkan hal yang teramat penting, yakni akan adanya seorang utusan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, nubuat itu berbunyi: “Namun benar apa yang kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu jika aku pergi. Sebab jikalau aku tidak pergi, [sang] penghibur itu tidak akan datang kepadamu. Tetapi jikalau aku pergi, aku akan mengutus dia kepadamu.”

Ayat ini, bersama ayat-ayat berikutnya dalam bab yang sama, sering dikutip untuk meyakinkan orang-orang Nasrani bahwa Nabi ‘Isa ‘Alayhis-salam sesungguhnya menubuatkan kedatangan Nabi Muhammad ShallalLahu-‘alayhi-wa-sallam. Sebagian orang Kristen menolak dengan mengatakan bahwa beliau sedang menubuatkan kedatangannya sendiri suatu saat kelak. Dan saya tak heran apabila ada pula yang menafsirkan bahwa “sang penghibur” di situ adalah Malaikat Jibril ‘Alayhis-salam, sebab ayat ke-13 yang turut menggenapi susunan nubuat itu berbunyi: “… apabila ia datang, yaitu roh kebenaran…” Maka saya berkesimpulan, betapa rumitnya memahami suatu nubuat yang telah terdistorsi oleh sekian tahap penerjemahan.

Saya pun memutuskan untuk menyelidiki ayat ketujuh tadi lewat bahasa Yunani. Meskipun Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, banyak pihak percaya Perjanjian Baru ditulis dalam dialek Koine bahasa Yunani, dan Kitab Yohanes termasuk dalam kategori terakhir ini. Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani Koine tersebut bukanlah hasil terjemahan, meskipun bahan-bahan referensinya dianggap berbahasa Aramaik. Akan tetapi, saya tidak tahu apakah salinan berbahasa Yunani untuk Yohanes 16:7 yang saya selidiki ini menggunakan dialek Koine atau dialek modern. Yang jelas, fokus saya terletak pada kata-kata “[sang] penghibur” dan “mengutus”.

Sejak awal saya curiga pada istilah “[sang] penghibur”. Sebagai seorang penerjemah, saya paham rumitnya mencari padanan suatu istilah dalam bahasa lain. Apalagi jika istilah itu adalah gelar. Bayangkan, terjemahan bahasa Inggris-nya saja memunculkan begitu banyak padanan untuk kata yang dimaksud, mulai dari “the advocate” (sang pembela), “the helper” (sang penolong), “the comforter” (sepertinya dari sinilah asal padanan “sang penghibur”), “the counselor” (sang penasihat), “the redeemer of the accursed” (sang penebus bagi para pendosa), hingga “the paraclete” (sang pemberi syafaat). Dari sini sudah terbayang, betapa berat beban seorang penerjemah, terlebih-lebih penerjemah naskah yang dianggap suci. Namun saya terpelongo ketika mengunjungi naskah bahasa Yunani pada bagian yang memunculkan begitu banyak padanan itu. Ternyata yang tertulis di sana hanyalah satu karakter: ò — apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi: the one.

Jadi dari mana asal “the advocate” dan lain-lain itu? Saya menduga, di sini terjadi perujukan atas informasi yang telah disebutkan sebelumnya. Maka, mundur saya perlahan hingga Yohanes 15:26 versi Yunani, namun informasi yang ada ialah ò pula. Mundur lagi, kali ini hingga Yohanes 14. Di bawah judul “Yesus Menjanjikan [Sang] Penghibur” (judul yang menyiratkan bahwa di sinilah letak sumber rujukan itu), terdapat rangkaian ayat yang terjemahannya berbunyi: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu roh kebenaran…” Saya kunjungi pula teks bahasa Yunani untuk ayat-ayat tersebut, dan saya semakin bingung, karena lagi-lagi yang muncul adalah ò serta beberapa variasinya. Dan penyelidikan ini menjadi semakin menantang, karena variasi ò itu tidak hanya berlaku bagi “the one” yang kemudian ditafsirkan menjadi “the advocate”, tapi berlaku pula bagi “the spirit of truth” atau “roh kebenaran” yang kemudian ditafsirkan oleh sebagian pihak sebagai Malaikat Jibril ‘Alayhis-salam.

Sesuatu yang menantang biasanya mengarah pada dua hal: Kau menaklukkannya, atau kau mengaku kalah. Pada titik ini, kebutaan saya atas bahasa Yunani dan keterbataan saya atas sejarah gospel membawa saya kepada kemungkinan ketiga, yakni hipotesis sementara. Bisa jadi, ò dan beberapa variasinya itu menuntut untuk diterjemahkan secara harfiah, yakni “the one” dengan konotasinya sebagai “ia yang terpilih”. Yang membenarkan bahwa Nabi ‘Isa ‘Alayhis-salam menubuatkan kedatangan Nabi Muhammad ShallalLahu-‘alayhi-wa-sallam bisa mengatakan: Seorang nabi dan rasul pastilah orang pilihan, dan malaikat yang diutus menyampaikan wahyu pastilah malaikat pilihan.

Dengan demikian, sebagai catatan bagi diri saya sendiri, terjemahan harfiah Yohanes bab 14 ayat 16 dan 17 berbunyi: “Aku akan meminta kepada Rabb, dan Ia akan memberikan kepadamu orang pilihan yang lain, supaya ia menyertai kamu selama-lamanya, bersama ruh pilihan…” Karena terjemahan kata per kata ke dalam bahasa Inggris dari versi Yunani berbunyi: “And-I I-shall-entreat-unto to-the-one to-a-Father and to-other to-called-beside it-shall-give unto-ye so it-might-be with of-ye into to-the-one to-a-age to-the-one to-a-currenting-to of-the-one” (Yang bingung menghadapi terjemahan kata per kata ini dapat membandingkannya dengan terjemahan kata per kata dari bahasa Arab dalam Al-Qur’an).

Lantas bagaimana dengan kata “mengutus” dalam ayat yang disebutkan paling awal? Bagaimana mungkin seorang nabi mengutus nabi yang lain? Bukankah semestinya Allah-lah yang berhak untuk itu? Maka pertanyaan yang perlu diajukan adalah: Kata apa yang dipakai dalam versi Yunani untuk “mengutus” di sini? Jawabannya: πέμψω, dengan terjemahan bahasa Inggris: I-shall-dispatch. Dalam bentuk kata dasar, ejaannya menjadi πέμπω (perhatikan perbedaan pada karakter keempat). Membuka kamus Yunani, saya temukan bahwa beberapa nuansa membalut kata ini, dan salah satunya terdapat pada makna “meminta agar sesuatu disampaikan kepada seseorang.” Bagi yang membenarkan nubuat Nabi ‘Isa ‘Alayhis-salam tentang kedatangan Nabi Muhammad ShallalLahu-‘alayhi-wa-sallam, makna tadi seolah merujuk kepada (tongkat estafet) kenabian yang (semoga Allah mengampuni saya atas pemaknaan subjektif berikut ini) diserahkan oleh Nabi ‘Isa ‘Alayhis-salam kepada Allah untuk diteruskan kepada Nabi Muhammad ShallalLahu-‘alayhi-wa-sallam. Sebab jelas ada kesan bahwa πέμπω tidak berarti “seseorang mengirim sesuatu” melainkan “seseorang meminta agar sesuatu dikirimkan kepada orang lain.” Makna ini dapat dipahami dengan lebih baik lewat perumpamaan: Jika raja memberi jabatan, maka raja pula yang berhak mengambil jabatan itu untuk diserahkan kepada yang lain. Tidaklah patut bagi pejabat itu untuk menyerahkan jabatannya langsung kepada orang lain dan melangkahi wewenang sang raja.

WalLahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s