Sarang Laduni

IMG20170401154916-01

Kata “laduni” mengingatkan saya pada seorang pria. Sebagai gambaran, cukuplah saya katakan saya mengagumi kekhusyukan shalat pria itu (semoga Allah menjaganya). Suatu ketika dia bercerita, bahwa dia pernah sangat tertarik mempelajari ilmu laduni, atau yang disebut sebagai ilmunya Nabi Khidr ‘alayhis salaam. Sepenggal kisah dalam Surah Al-Kahfi menjabarkan bagaimana Nabi Khidr ‘alayhis salaam adalah hamba yang diberikan ilmu hikmah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dengan itu beliau menjalankan tugas-tugas yang seolah-olah bertentangan dengan akal sehat. Di hadapan Nabi Musa ‘alayhis salaam, Nabi Khidr ‘alayhis salaam membolongi perahu, membunuh seorang anak, dan memperbaiki sebuah rumah di pemukiman yang penduduknya telah menolak untuk menjamu mereka. Tugas-tugas itu memiliki makna yang berlapis-lapis, yang lantas dijelaskan kepada Nabi Musa ‘alayhis salaam sebagai pelajaran.

Pria yang saya sebutkan di awal tadi kemudian menerjemahkan ilmu laduni sesuai dengan kata-kata yang mendeskripsikan Nabi Khidr ‘alayhis salaam dalam Surah Al-Kahfi: “…wa’allamnaahu MIN LADUNNAA ‘ilmaa” — …dan Kami ajarkan ia DARI SISI KAMI suatu pengetahuan. Pria itu berkata kira-kira begini: “Saya merasa memahami ilmu laduni ketika melihat seekor kucing beranak. Cara induknya mencari tempat, lalu beranak, lalu membersihkan bayi-bayinya dengan cara menjilati darah dan memakan ari-ari membuat saya berpikir: ‘Dari mana kucing ini tahu semua itu? Siapa yang mengajarinya?'”

Demikianlah, sore ini ketika berjalan kaki menuju rumah, saya menemukan sarang burung dalam foto ini, dan saya terpesona oleh bagaimana rumput-rumput kering ini telah disusun oleh seekor burung sebagai tempat bertelur, sebagai suatu pengetahuan dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi burung tersebut. Dan saya limbung mengingat bahwa saya pun pernah tertarik untuk mempelajari ilmu laduni dengan membayangkan bahwa ilmu itu semacam ilmu kebal, bisa menerawang dunia gaib, dan semacamnya. Sementara sesungguhnya ilmu apapun tak akan pernah dapat dikuasai oleh siapapun tanpa izin Yang Maha Mengetahui, entah sebagai sebuah karunia, atau suatu ujian: “…wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmiHii illaa bimaasyaa’.”

WaLlahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s