Kembali kepada Dalil, Bukan Bunga & Dupa

… Dan barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat membuat perhitungan. Surah Ali ‘Imran ayat 19

day-of-the-dead-1778064_960_720

Seolah lumrah, sesaji itu diletakkan di bawah tangga, berupa nasi kuning berbentuk tumpeng kecil beserta dupa. Ditaruhlah di situ dengan niat: Semoga pertunjukan seni yang akan digelar dapat berjalan dengan lancar. Seorang lelaki melihat hal tersebut dan meminta agar benda itu disingkirkan. Menurutnya, selain syirik, praktik itu juga mubazir. Tentu saja, dalam Islam, syirik memiliki konsekuensi lebih fatal ketimbang mubazir.

Mungkin akan ada yang bertanya, “Islam yang mana?” Jawabannya ialah Islam yang berdasar pada Al-Qur’an, juga pada As-Sunnah yang tersaring lewat ilmu hadits yang ketat, bukan pada cerita-cerita rakyat yang tak punya standar verifikasi. Keaslian Al-Qur’an yang terpelihara, serta tak adanya kesanggupan siapapun meladeni tantangan Allah untuk membuat satu surat pun yang setara dengan isi Al-Qur’an, cukup menjadi kekuatan kebenaran Islam. Barangkali akan ada pula yang berargumen, urusan kepercayaan tidak bisa disamaratakan. Maka tulisan ini memang tidak bermaksud menyamaratakan, melainkan mempertegas batas. Sebab telah jelas bahwa Tuhan di kubu Islam tidaklah sama dengan “tuhan” orang-orang selain Islam. Tuhan para Muslim sungguh murka apabila manusia menyembah kepada selain Dia, sedangkan “tuhan” di kubu lain seakan mempersilakan atau tak peduli. Dan tak mungkin kedua kubu ini sama-sama benar.

Syirik bermakna menyepadankan Yang Maha Esa berikut segenap kekuasannya dengan yang lain. Kita dapat memilah pembahasan syirik ke dalam dua bagian, pertama di ranah konsep dan perbuatan, dan kedua untuk ukuran besar dan kecilnya. Sebab syirik bisa berada pada tataran rububiyyah, yakni pemikiran yang salah terhadap konsep ketuhanan. Misalnya, ada yang menganggap Tuhan itu berkuasa di langit saja, dan punya wakil-wakil yang berhak disembah di bumi. Ada pula kesalahan menganggap Tuhan memiliki bentuk dan sifat yang sama dengan bentuk dan sifat makhluk. Sebagai dalil penolakan, cukuplah kembali kepada Surah Al-Ikhlas ayat 1-4. Atau bolehlah mencari ketegasan di Surah Saba’ ayat 22, yang artinya: Katakan, “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tak memiliki (kuasa) sebesar zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tak punya andil dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.”

Selain urusan alam pemikiran, syirik pun diekspresikan ke dalam perbuatan nyata, dan ini disebut syirik uluhiyyah. Misalnya, menyembah atau berdo’a kepada selain Allah, atau mengadakan suatu bentuk ibadah seperti qurban atau nadzar kepada selain Allah Ta’ala. Untuk perkara yang satu ini, perlu ditanyakan apakah pelakunya siap untuk menerima langsung konsekuensinya, sebab Allah telah berfirman dalam Surah Al-Mu’minuun ayat 117, yang artinya: Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tak ada dalil apapun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sungguh tak akan beruntung orang-orang kafir itu.

Berikutnya, syirik terbagi pula ke dalam syirik besar dan syirik kecil (yang dimaksud syirik kecil adalah riya’). Secara sederhana, ada tiga macam syirik besar. Pertama adalah syirik dalam niat, do’a, dan ibadah. Termasuk di dalamnya adalah seseorang berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berdo’a pula kepada selain-Nya [lihat Surah Al-Ankabut ayat 65], atau seseorang mempersembahkan suatu ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan biasanya dilakukan karena adanya keinginan-keinginan duniawi semata [lihat Surah Al-An’am ayat 128, Surah Hud ayat 15-16, dan Surah Al-Jinn ayat 6]. Syirik besar yang kedua adalah syirik ketaatan, yakni menaati siapapun dalam rangka melakukan maksiat yang jelas-jelas dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala [lihat Surah At-Taubah ayat 31].

Ketiga adalah syirik mahabbah atau kecintaan. Kategori ini ditopang oleh, di antaranya, Surah Al-Baqarah ayat 165, yang terjemahannya: Dan di antara manusia ada yang menyembah ilah selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya paham orang-orang zalim itu, tatkala tampak adzab (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). Sebagian ulama menafsirkan bahwa kecintaan para mukmin kepada Allah adalah murni, sedangkan di dalam cinta para musyrik kepada Allah terkandung unsur penyekutuan dengan selain Ia. Mereka memang percaya bahwa yang memberi rezeki dan menjauhkan mudharat hanyalah Allah, akan tetapi cinta mereka dalam urusan penyembahan terbagi antara untuk Allah dan untuk yang lain.

Cinta memang abstrak dan personal, namun perwujudan syirik mahabbah dalam hidup sehari-hari bisa sangat gamblang, dan efeknya dapat meluas secara sosial. Misalnya, ada yang menganggap ibadah di sisi kubur wali atau leluhur lebih afdhol ketimbang di masjid-masjid Allah. Atau ada yang rela mengeluarkan banyak uang untuk memperindah tempat-tempat yang dianggap keramat, ketimbang menginfakkannya kepada fakir miskin. Bahkan ada yang berani membela fasilitas-fasilitas kesyirikan dengan harta dan jiwa karena merasa terusik oleh seruan dakwah tauhid. Untuk menguji skala kecintaan kepada Allah dalam hal penyembahan, barangkali bisa kita tanyakan kepada diri sendiri apa yang terasa dalam hati ketika membaca Surah Az-Zumar ayat 45, yang artinya: Dan apabila yang disebut hanya nama Allah, kesal sekali hati orang-orang yang tiada beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira.

Sebagai ancaman serius bagi para pelaku syirik besar, disebutkan sebanyak dua kali di dalam Surah An-Nisa, yakni di ayat 48 dan diulang di ayat 116, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengampuni dosa syirik, dan Ia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Ia kehendaki. Ditambahkan bahwa barangsiapa mempersekutukan Allah, maka ia betul-betul melakukan dosa yang besar dan telah tersesat jauh. Selain itu, disebutkan dalam Surah Al-Maidah ayat 72, yang artinya: … Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tiada penolong pun bagi orang-orang zalim itu. Ancaman lain adalah terhapusnya segala amal-baik akibat berbuat syirik [lihat Surah Al-An’am ayat 88 dan Az-Zumar ayat 65].

Menurut sebagian ahli tafsir, balasan-balasan mengerikan di atas berlaku bagi mereka yang berbuat syirik dan mati tanpa sempat bertaubat. Dengan demikian, syirik adalah dosa besar yang paling besar, kezaliman yang paling zalim, dan kemungkaran yang paling mungkar sehingga RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa sallam pun bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (sembahan yang berhak diibadahi dengan benar) selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan (pembawa syariat) Allah, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka telah melakukan hal tersebut, maka darah dan harta mereka aku lindungi kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka ada pada Allah Azza wa Jalla” (H.R. Bukhari No. 25 dan Muslim No. 22 dari Sahabat Ibnu ‘Umar RadhiyaLlahu ‘anhu).

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kesyirikan bermula di tataran pemikiran, dan semakin berbahaya apabila diyakini kemudian diekspresikan ke dalam tindakan-tindakan. Lebih fatal lagi jika pemikiran-pemikiran yang menyimpang dari kebenaran tauhid disebarluaskan, lantas memangsa akal dan iman yang lemah, khususnya pada generasi muda. Dunia pendidikan yang cenderung kepada sekulerisme kian lama kian mencerabut fitrah tauhid berikut norma-norma Islam dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak muda sesungguhnya memiliki naluri untuk mencari kebenaran, yang senantiasa berkisar pada tiga hal: “Dari mana saya berasal? Untuk apa saya di dunia ini? Dan akan ke mana saya kelak?” Pendidikan sekuler memudahkan mereka untuk terhalau kepada kesesatan berpikir. Tak heran, kesesatan yang menjurus kepada kesyirikan telah hadir di sekitar kita. Atau yang lebih parah lagi, keberadaan orang-orang yang sama sekali mengabaikan konsep ketuhanan dan berasyik-masyuk dengan angan-angan ateis/komunis yang sejatinya distopis alias mencabut segala harapan bagi kemanusiaan.

Karena Islam adalah rahmat bagi sekalian alam, maka Islam tentu merupakan rahmat bagi alam pikir manusia. Mengingkari segala kesyirikan dan berpegang teguh pada tauhid di tataran pemikiran berpeluang untuk membawa kita kepada kebaikan-kebaikan. Dan kebaikan-kebaikan itu dapat diraih secara nyata apabila konsep tauhid ini diekspresikan ke dalam ibadah-ibadah yang sesuai dengan tuntunan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Insya-Allah demikianlah perwujudan dari do’a dalam tiap shalat kita: “Ihdinash shiraath al-mustaqiim”­ — Tunjuki kami (duhai Rabb sekalian alam) ke jalan yang lurus.

Dalam sebuah hadits qudsi, diriwayatkan dari Anas bin Malik RadhiyaLlahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi berfirman, ‘… Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika mati tidak menyekutukan Aku sedikit pun, pasti Aku akan berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula’.”

Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s