Konstantinus Selayang Pandang

diterjemahkan dari potongan artikel National Geographic

istanbul-769793_960_720

Kaisar Konstantinus I sering disebut-sebut meng-Kristen-kan Kekaisaran Romawi. Pada kenyataannya, meski ia mengakhiri perburuan terhadap orang-orang Kristen dan akhirnya turut pindah agama, sebagian sejarawan memperdebatkan keimanannya yang sejati.

Persentuhannya dengan Kristianitas dimulai lewat sebuah perang yang menentukan untuk menguasai Kekaisaran Romawi Barat. Konstantinus menghadapi Maxentius, Kaisar Romawi Barat, di Jembatan Mulvia di Sungai Tiber pada tahun 312 M. Sejarawan abad keempat sekaligus uskup bernama Eusebius dari Caesarea mencatat bahwa sebelum perang besar itu dimulai, Konstantinus melihat sebuah salib terbakar di angkasa bertuliskan kata-kata “dengan tanda ini kau ‘kan menang.” Konstantinus betul menang, menaklukkan dan menghabisi musuhnya pada hari yang pekat menaungi tak hanya bagi sang kaisar namun juga kepercayaan Kristen.

Di tahun berikutnya, Konstantinus yang telah menjadi Kaisar Romawi Barat bertemu dengan Licinius yang merupakan Kaisar Romawi Timur untuk menandatangani Maklumat Milan, yang menetapkan jaminan toleransi beragama bagi orang-orang Kristen. Perjanjian tersebut memberikan kebebasan beribadah bagi siapapun, apapun sesembahannya, dan mengakhiri Era Para Martir, yang dimulai sesudah “wafat”-nya Yesus [tanda kutip dari penerjemah]. Orang-orang Kristen juga diberikan hak-hak hukum khusus seperti dikembalikannya harta rampasan serta hak untuk mengorganisir gereja-gereja persembahyangan.

Selepas menyatukan Kekaisaran Romawi di bawah pemerintahannya pada tahun 324 M, Konstantinus mengukuhkan kekuasaannya di Bizantium, yang kemudian disebut Konstantinopel dan kini Istanbul, yang saat itu bercorak dominan Kristen. Menguatnya kalangan pejabat beragama Kristen di bawah Konstantinus menjadikan pengaruh kepercayaan ini meningkat dan bertahan lewat Kekaisaran Romawi, dan kemudian Kekaisaran Bizantium.

Konstantinus mencetuskan dan ambil bagian pada pertemuan pertama gereja-gereja Kristen, yakni Konsili Nicea, yang diadakan pada tahun 325 di lokasi yang kini bernama Iznik, Turki. Ia berharap dapat membantu para pemimpin gereja menyamakan persepsi untuk beberapa aspek dalam doktrin Kristen yang kerap diperdebatkan. Yang terutama di antara isu-isu yang ada adalah hubungan serta keterkaitan ke-ilahi-an “tuhan-anak” (Yesus) dan “tuhan-bapa”. Arianisme cukup populer pada periode ini. Aliran Kristen ini, yang dipimpin oleh Arius, pendeta dari Alexandria, Mesir, percaya bahwa Yesus, meski berstatus “anak tuhan”, lebih rendah posisinya ketimbang “tuhan-bapa”.

Konsili Nicea pada akhirnya menetapkan kesetaraan antara “bapa” dan “anak” dan menuliskan ini dalam sebuah kredo atau pernyataan universal keimanan, yang disetujui oleh kesemua uskup yang hadir kecuali dua orang. Para uskup yang tak sepakat lantas diasingkan, termasuk Arius. Selepas konsili ini, orang-orang Kristen orthodox sepakat terhadap poin genting bahwa Yesus dan Tuhan sama-sama ilahiah dan tercipta dari unsur yang sama pula. Konsili ini juga mengutuk praktik meminjamkan uang oleh golongan pendeta serta mencoba, meski tak berhasil, untuk menyamakan tanggal perayaan Paskah.

Pada sejarawan kuno Kristen antusias menggambarkan Konstantinus sebagai orang yang taat setelah memeluk agama Kristen. Di masa-masa berikutnya para peneliti memunculkan kemungkinan bahwa sang kaisar sekedar memanfaatkan agama tersebut demi keuntungan politik. Kebenarannya mungkin terletak di antara keduanya, namun tak ada yang meragukan arti penting Konstantinus bagi agama yang ia adopsi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s