Henoteisme & Sila Pertama

incense-1961430_960_720

Istilah “ateisme” atau “politeisme” barangkali cukup akrab di telinga. Tapi “henoteisme” — apa itu? Bukan tak mungkin, selama ini pemahaman Anda atas makna “politeisme” sering tertukar dengan “henoteisme”. Dan ketahuilah, ini bukan sekedar soal istilah.

Henoteisme, atau bahasa Inggrisnya henotheism, merujuk pada kepercayaan akan adanya satu Sang Maha Pencipta Yang Maha Kuasa, akan tetapi kuasa-Nya sekaligus hak-Nya untuk disembah — mari ulangi dan garisbawahi yang satu itu — sekaligus hak-Nya untuk disembah, terbagi kepada makhluk-makhluk-Nya. Untuk memudahkan pemahaman, contoh pertama berupa sebuah pengandaian: Seandainya ada kelompok yang mengaku Islami namun menganjurkan penyembahan terhadap malaikat-malaikat, dengan tujuan agar berkah dari Allah Ta’ala yang terdelegasikan kepada malaikat-malaikat itu sampai kepada si penyembah, maka kelompok itu bersifat henoteistik.

Pada kenyataannya, kelompok-kelompok masyarakat di dunia merujuk kepada makhluk-makhluk sesembahan itu dengan nama berbeda-beda, dan terbalutlah mereka dengan gambaran-hakikat yang berbeda-beda pula: theoí, alihah, dewa-dewi, gods, guardianssaints, spirits, leluhur, dan lain-lain.

Hinduisme, misalnya, mengenal Ashta-Dikpala atau penjaga delapan arah mata-angin, dengan tambahan dua guardian gods, yakni Brahma untuk titik zenith, dan Wisnu untuk titik nadir. Sementara itu, Hindu Dharma di Bali mengadopsinya menjadi Dewata Nawa Sanga atau penguasa sembilan titik mata-angin, dengan titik pusat dikuasai Siwa, sementara Brahma dan Wisnu menguasai Selatan dan Utara. Terkait dengan ritual masyarakat Bali, kesembilan dewa tadi dibangunkan pura-nya masing-masing, di lokasi-lokasi yang berkorelasi dengan titik mata-anginnya. Dewa-dewa ini dianggap perwujudan (di jagad yang mengenal konsep ruang) dari pancaran kekuatan Acintya, atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atau Ia Nan Maha Esa Tak Terperi (walaupun ada patungnya).

Sebagai perbandingan, budaya Cina (juga Korea, Vietnam, dan Jepang, dengan beberapa variasi) mencatat makhluk-makhluk mitologis sebagai simbolisasi empat arah mata-angin: Naga Hijau di Timur, Burung Merah di Selatan, Harimau Putih di Barat, dan Kura-kura Hitam di Utara. Oleh sebagian masyarakat Cina, lewat Feng Shui, arah-arah mata-angin dikaitkan dengan semacam “kausalitas metafisikal”. Satu contoh sederhana: Rumah yang menghadap ke selatan mereka yakini menerima arus keberuntungan yang berbeda dengan yang menghadap ke barat, meskipun arus-arus tersebut dapat “dimodifikasi” sesuai kebutuhan atau keinginan. Sebagian aliran Feng Shui bahkan menuntut ketaatan pengikutnya untuk melakukan serangkaian modifikasi pola-pola hidup terkait tata-ruang bangunan atau bentang alam dalam periode-periode tertentu, tentunya demi keberkahan atau hoki maksimal. Meski demikian, mereka tetap mengenal Shangdi atau Tian — the ultimate spiritual power — sebagai sumber segala aliran energi yang ada di semesta. Seiring perjalanan waktu, kepercayaan-kepercayaan Cina kuno memperkenalkan berbagai deities sebagai pengelola aliran-aliran tersebut.

Demikianlah dua budaya tua memandang Zat Yang Maha Kuasa melimpahkan kuasa kepada wakil-wakil-Nya. Wakil-wakil tersebut dianggap menguasai dimensi “jagad makro” (arah mata-angin hingga konstelasi bintang, letak matahari, bulan, dan planet-planet), dan kekuasaan mereka yang spesifik dapat diteruskan kepada “jagad mikro” yaitu unsur-unsur alam di sekeliling individu atau kelompok masyarakat, dengan syarat-syarat (ritual) tertentu.

Sebagai contoh bagaimana pemahaman atas makna henoteisme dan politeisme dapat tertukar dengan gampang, pembahasan ini bergeser ke Sumatra. Kepercayaan kuno Batak mengenal Tuhan Yang Maha Tinggi, yang disebut Debata Mula Jadi. Terkait persemayaman-Nya, kepercayaan ini memiliki (setidaknya) dua versi. Versi pertama, Debata Mula Jadi menempati Dunia Atas bersama-sama dengan Batara Guru, Debata Sori, dan Debata Mangala Bulan (serta ada yang menambahkan Debata Asiasi). Beberapa peneliti, misalnya Johannes Warneck dan Dr. Togar Nainggolan, berpendapat bahwa masyarakat Batak kuno mempertukarkan fungsi maupun kekuasaan kesemua entitas itu.  Tuhan Yang Maha Tinggi dianggap menempati “ruang” yang setara dengan beberapa ciptaan-Nya, dan kekuatan yang satu dapat dimiliki oleh yang lainnya — ini politeisme. Pendapat lain dari W.M. Hutagalung menyebut Debata Mula Jadi bersemayam di langit ketujuh dan mengatur semesta yang terdiri dari Dunia Atas, Tengah, dan Bawah. Lewat kacamata Hutagalung, dengan adanya perbedaan posisi, fungsi, dan kekuasaan Debata Mula Jadi dari debata-debata lain, bisa kita katakan bahwa kepercayaan ini bersifat henoteistik.

Bila dipelajari dengan seksama, hampir seluruh aliran kepercayaan primitif di Nusantara, bahkan di dunia, menunjukkan kecenderungan henoteistik. Pandangan ini diajukan oleh antropolog Skotlandia, Andrew Lang, yang menyatakan bahwa suku-suku pedalaman dunia pada zaman beliau (1800an) mengenal ide high god. Pendapatnya diperkuat oleh peneliti Austria, Wilhelm Schmidt, yang berpendapat bahwa ide Tuhan Yang Maha Tinggi inilah yang kemudian tergusur oleh politeisme, sehingga ia menolak pandangan yang berkembang saat itu, yakni bahwa agama berevolusi dari pre-animisme, animisme, totemisme, politeisme, kemudian monoteisme. Argumen-argumennya ia sokong dengan mitologi-mitologi masyarakat Indian, suku-suku aborigin Australia, dan peradaban-peradaban primitif lain. Istilah yang diperkenalkan para peneliti tersebut adalah “monoteisme primitif”, yang pada dasarnya adalah henoteisme.

Kini izinkan saya mengajukan gambaran dua kutub besar. Islam berada di salah satunya. Dan di kutub lain, kita melihat persamaan antara kepercayaan-kepercayaan henoteistik dengan hampir seluruh aliran Kristianitas dan Yahudi: Di kutub ini, Tuhan Yang Maha Kuasa sepertinya tidak keberatan ketika manusia menyembah makhluk-makhluk yang jelas tidak setara posisi, fungsi, dan kekuasaannya dengan Ia Yang Maha Tinggi. Ini berbeda dengan Islam yang Allah-nya Maha Pencemburu. Ia menghukum siapapun yang berani menyembah apapun atau siapapun selain Dia — syirik, istilahnya — meskipun dengan alasan mediasi dalam rangka memperoleh keberkahan. Al-Qur’an menyebutkan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari [syirik] itu, bagi sesiapa yang Ia tetapkan…” (Q.S. an-Nisa’: 48).

Ketika kita memandang frasa “Ketuhanan Yang Maha Esa”, maka kutub henoteisme, Kristen, dan Yahudi (untuk selanjutnya disebut “kutub henoteisme” saja) mengakui keesaan Tuhan hanya dalam kesendirian-Nya pada hal penciptaan, tempat persemayaman, dan tingkat kekuasaan, namun tidak untuk hak penyembahan terhadap-Nya. Islam mengakui keesaan itu dalam hal keduanya.

Update: Setelah dipelajari lebih lanjut, doktrin Kristianitas versi Konsili Nicea pada tahun 325 sesungguhnya telah menjadikan agama ini bersifat politeistik secara definisi. Pada saat itu, Kaisar Konstantinus hendak menyamakan persepsi para pemimpin gereja terkait aspek-aspek doktrin yang sering diperdebatkan, terutama untuk masalah hubungan dan ke-ilahi-an “tuhan-anak” dan “tuhan-bapa”. Uskup Arius dari Mesir dengan Kristen-Arianisme-nya memandang “tuhan-anak” lebih rendah ketimbang “tuhan-bapa”. Akan tetapi, Konsili Nicea akhirnya menetapkan kesetaraan antara “tuhan-anak” dan “tuhan-bapa” dalam hal ke-ilahi-an dan unsur penciptaan. Ketetapan ini dimuat dalam sebuah perjanjian atau pernyataan universal keimanan Kristen yang disepakati oleh seluruh uskup yang hadir, kecuali dua orang termasuk Arius yang lantas dikucilkan.

Kutub henoteisme juga merupakan gambaran kondisi Makkah dan sekitarnya sebelum kenabian Muhammad ShallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Penduduknya saat itu mengakui adanya the great reality yakni Allah (bukti gampang: ayah RasululLah bernama ‘AbdulLah, “hamba Allah”). Namun, mengikuti kebiasaan suku atau keluarga masing-masing, kebanyakan dari mereka menyembah berhala-berhala sebagai simbol kekuatan-kekuatan spesifik. Akan tetapi, di masa itu, masih ada para Ahli Kitab yang berusaha menjaga pengesaan-sejati penyembahan Allah sesuai risalah asli nabi-nabi mereka (Q.S. ‘Ali Imran: 199; Q.S. al-Qashash: 52-53). Meskipun saat ini masih ada aliran-aliran (yang barangkali secara salah-kaprah dikaitkan dengan) Nasrani dan Yahudi, yang menjaga pengesaan-sejati penyembahan Tuhan, kelompok-kelompok yang paling dominan tetaplah yang “menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan di samping Allah” (Q.S. at-Taubah: 31).

So not much has changed. Dunia saat ini hanyalah gambaran Makkah di awal-awal kenabian RasululLah ShallalLahu ‘alayhi wa sallam. Sebab Islam boleh jadi telah mencapai seantero bumi, namun dibandingkan dengan seluruh orang yang mengaku Muslim, berapa yang benar-benar mengesakan Allah dalam hal kekuasaan sekaligus penyembahan? Dan bila pengesaan murni pun telah tercapai, bisa kita bandingkan dengan kondisi masyarakat Madinah ketika RasululLah ShallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah hijrah. Berapa yang benar-benar ikhlas mematuhi aturan-aturan Islam sebagai suatu dien, yakni suatu sistem yang komprehensif, dan bukan agama yang mengurusi ritual semata?

Melihat gambaran dua kutub yang tegas berbeda itu, maka perjuangan sebagian umat Islam di Indonesia untuk kata-kata “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” adalah perjuangan yang penting. Sebab, pun setelah berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, “tuhan” kutub henoteisme adalah “tuhan” yang terbungkam. Bagi Muslim sejati, bila umat manusia bersaksi bahwa Tuhan telah berfirman kepada para nabi serta melalui kitab-kitab suci, maka “tuhan” yang mengizinkan penyembahan terhadap apapun dan siapapun di sampingnya adalah “tuhan” yang tidak bisa diterima. Tuhan yang diam terhadap penyembahan pada apapun dan siapapun di sampingnya adalah “tuhan” milik kutub henoteisme saja, bukan Tuhan sejati orang-orang Islam, yakni Tuhan yang aktif penuh ketelitian mengurusi makhluk-makhluk-Nya dan menuntun ke arah keselamatan, dengan syarat utama: tidak mempersekutukan-Nya.

Demikianlah kata-kata “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” adalah frasa prinsipil. Pada kata “syari’at” itulah umat Islam di Indonesia bisa “melihat” Tuhan mereka.

Ir. Soekarno pernah menyatakan, kalaulah kelima sila Pancasila hendak diperas menjadi satu prinsip kehidupan saja, yang tersisa adalah “Gotong Royong”. Maka kelompok Islam yang memiliki pemahaman mendalam tentang dien-nya perlu berkata, kalaulah kita hanya akan punya satu prinsip, hendaknya prinsip itu berbunyi “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Sebab, syari’at Islam menyajikan segala sesuatu yang dibutuhkan bagi tegaknya suatu negara dan tertatanya kehidupan bermasyarakat, termasuk untuk urusan perlindungan atas orang-orang non-Muslim.

Advertisements

One thought on “Henoteisme & Sila Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s