Dien: Tata-Ritual atau Tata-Hidup?

Pengantar: Lahir di Halab (Aleppo), Suriah, pada tahun 1952, Mohamed Baianonie menemukan jalan menjadi seorang imam di North Carolina, tepatnya di Islamic Center of Raleigh, Amerika Serikat. Berikut adalah terjemahan teks salah satu khutbah Jumat beliau, dengan judul asli Definition of the Word Deen & the Word Islam, yang disampaikan pada tanggal 27 Desember 1996.

***

kiwi-1143717_960_720

BismiLlahirRahmanirRahim.

Allah SubhanaHu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 19, yang dapat diterjemahkan menjadi: “Sungguh dien (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam….”

Allah juga berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 3, yang dapat diterjemahkan menjadi: “… Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu dien-mu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi dien bagimu.”

Allah pun berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 85, yang bisa diterjemahkan menjadi: “Barangsiapa mencari selain Islam suatu dien, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk golongan yang rugi.”

Kata “dien” dan kata “Islam” disebutkan pada ayat-ayat tadi, juga pada banyak ayat lain dalam Al-Qur’an. Kata-kata itu merupakan dua dari kosakata terpenting dalam kehidupan kaum Muslim, karena petunjuk untuk menggapai kesuksesan di dunia ini serta di Akhirat bergantung pada dua hal: (1) Pemahaman akan makna kedua kata tadi (dien dan Islam), serta (2) perwujudan makna tersebut dalam kehidupan.

Pemahaman kita terhadap kedua kata ini telah memudar karena keterbatasan kita dalam bahasa Arab, padahal dengan bahasa Arab-lah Al-Qur’an diwahyukan. Sebagai akibatnya, kita mengulang-ulang kata “dien” dan “Islam” dengan lidah kita tanpa betul-betul memahaminya, kecuali bagi sebagian kecil orang yang dapat memahaminya sebagaimana kedua kata itu semestinya dipahami. Maka, manalah mungkin kita bisa mewujudkan maknanya [secara tepat] dalam hidup kita, meskipun kita bersikukuh bahwa kita adalah bagian dari dien ini, atau bagian dari Islam.

Jadi apa makna kata “dien” dan kata “Islam”?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, merupakan keharusan bagi kita untuk merujuk kepada kamus-kamus bahasa Arab yang masih menyimpan arti [yang dengan arti itu] orang-orang Arab dahulu memahami kata dien dan kata Islam ketika Al-Qur’an diwahyukan. Pada periode tersebut, tidak ada masalah bagi para sahabat Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alayhi wa sallam untuk memahami kedua kata tadi. Merekalah generasi yang mentransformasi pemahaman kedua kata tersebut ke dalam kenyataan kehidupan individu dan kolektif mereka. Dengan begitu, pemahaman itu membimbing mereka kepada petunjuk, yakni petunjuk Islam. Perubahan yang mereka bawa merupakan perubahan terbesar sepanjang sejarah manusia.

Kata “dien” digunakan dalam bahasa Arab untuk mengutarakan beberapa maksud, dan yang terpenting di antaranya adalah:

1. Penundukan, otoritas, pengaturan, serta pemegangan kendali.

A. “Ia menundukkan orang-orang hingga patuh.” Menundukkan di sini merupakan terjemahan harfiah dari kata kerja dien.

B. “Ia memiliki otoritas atas orang itu.” Memiliki otoritas di sini [juga] merupakan terjemahan harfiah dari kata kerja dien.

Dalam konteks ini, sebuah hadits Nabi ShallaLlahu ‘alayhi wa sallam menunjukkan makna yang serupa: “Orang yang cerdas adalah yang memiliki otoritas atas dirinya sendiri [man daana nafsahu] dan beramal untuk Akhirat.” Ini berarti bahwa orang yang cerdas adalah ia yang telah menundukkan hawa nafsunya dan menjadikan dirinya patuh kepada Allah. Dalam konteks ini juga, bentuk pasifnya adalah “ditundukkan,” “diatur,” dan “dikuasai.” Sebagai contoh, Allah berfirman dalam Surah Al-Waqi’ah ayat 86 & 87, “Maka jika kamu [merasa] tidak dikuasai [madiiniin] (oleh Allah), mengapa tidak kamu kembalikan nyawa itu (pada tempatnya) jika kamu golongan yang benar?” Maksudnya, jika manusia merasa tidak berada di dalam kekuasaan Allah untuk urusan hidup-mati, maka mereka ditantang untuk memasukkan nyawa yang telah dicabut kembali ke dalam tubuh.

2. Kepatuhan dan kebersediaan akibat penundukan.

3. Metode sekaligus kebiasaan.

4. Ganjaran baik-buruk sekaligus peradilan. Ini sesuai dengan pepatah Arab yang maknanya: Kamu diperlakukan sebagaimana kamu memperlakukan orang lain. [Contoh lain yang sangat jelas ada pada Surah Al-Fatihah ayat 4: Maaliki yawmid diin].

Keempat makna linguistik tadi menyusun konsep dien dalam Al-Qur’an yang mengimplikasikan sistem hidup yang komprehensif yang terdiri dari empat hal:

1. Bahwa kekuasaan dan otoritas sejati adalah milik Allah SubhanaHu wa Ta’ala.

2. Adanya kepatuhan dan kebersediaan terhadap kekuasaan dan otoritas sejati Allah oleh mereka yang memeluk dien ini.

3. Adanya sistem (intelektual dan praktis) yang komprehensif yang ditetapkan oleh Allah sebagai Pemilik otoritas sejati.

4. Adanya ganjaran kebaikan yang diberikan oleh Allah sebagai Pemilik otoritas sejati kepada mereka yang mengikuti sistem tersebut, dan hukuman atas mereka yang memberontak atau tidak mematuhinya.

Berdasarkan definisi “dien” di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa “dien” adalah kebersediaan, keikutsertaan, dan penyembahan oleh manusia dalam suatu sistem kehidupan yang komprehensif dengan segala aspek kepercayaan, intelektual, moral, dan praktisnya demi Sang Pencipta Yang Maha Mengatur dan Maha Menundukkan.

Setelah memahami definisi dari kata Arab “dien” [tata-hidup], kita menyadari bahwa penerjemahan kata ini ke dalam bahasa Inggris menjadi “religion” [dan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “agama”] adalah salah [apabila agama dimaknai hanya sebatas tata-ritual]. Lebih lanjut lagi, kita tidak butuh siapapun untuk menyuguhkan pemahaman lain terhadap kata “dien“, sebagaimana dilakukan oleh musuh-musuh Islam saat ini. Justru kita perlu waspada dan memperingatkan kaum Muslim tentang makar-makar yang dirancang terhadap kaum Muslim, yang bertujuan untuk menjauhkan kita dari kebenaran tentang dien kita serta mendistorsi konsep dien maupun membatasinya hanya pada satu aspek hidup — seperti yang telah terjadi pada agama dan gereja Kristen setelah Revolusi Perancis.

Merupakan kewajiban bagi kita untuk menjelaskan kepada khalayak akan kebenaran tentang dien lewat perspektif Islam itu sendiri, serta wajib bagi kita untuk menanamkan kebenaran ini pada generasi muda kita sehingga mereka tidak bingung dengan konsep dien akibat segala definisi yang salah dan menyesatkan.

Itu tadi definisi kata “dien“. Lalu bagaimana dengan definisi kata “Islam”?

“Islam” dalam bahasa Arab dan di dalam Al-Qur’an bermakna kebersediaan dan kepatuhan penuh. Allah SubhanaHu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 83, yang bisa diterjemahkan menjadi: “Maka apakah selain dien Allah yang mereka cari, padahal patuh [aslama] kepada-Nya segala yang di langit dan di bumi, baik rela maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.”

Kata “Islam” di dalam Al-Qur’an telah digunakan sebagai simbol untuk dien yang disampaikan kepada Muhammad ShallaLlahu ‘alayhi wa sallam, dan Allah menjelaskan bahwa Ia tidak akan menerima dari manusia dien lain, meskipun itu merupakan dien-dien samawi yang telah ada sebelumnya. Allah SubhanaHu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 85, yang dapat diterjemahkan menjadi: “Barangsiapa mencari selain Islam suatu dien, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk golongan yang rugi.” Pemaknaan ini ditekankan dalam sabda RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa sallam: “Demi Ia yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, jika seseorang, Yahudi atau Nasrani, telah mendengar tentang aku, kemudian mati [dalam keadaan] tidak percaya terhadap apa yang dengannya aku diutus, maka ia adalah dari [kelompok] penghuni api Neraka” (hadits riwayat Imam Muslim).

Islam adalah sistem ilahiah; dengannya Allah SubhanaHu wa Ta’ala menyegel dien-dien yang lain, dan menjadikannya suatu sistem yang menyeluruh yang menata segala aspek kehidupan manusia (aqidah, pemikiran, moral, dan praktis), dan sistem ini didasarkan pada kebersediaan penuh hanya untuk Allah SubhanaHu wa Ta’ala saja dan tiada yang lain, diiringi dengan ritual-ritual pembersihan diri yang tertuju kepada-Nya, serta mengambil apa-apa yang sahih dari Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alayhi wa sallam.

***

Demikian tulisan di atas mengajak kita untuk memahami hal yang sangat mendasar tentang Islam, yaitu makna linguistik dari kata “dien” dan “Islam.” Ini modal bagi kita untuk menata segala hal dalam kehidupan kita sebagai Muslim, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat — mulai dari masyarakat di lingkungan terdekat, hingga masyarakat dunia. Hal ini juga merupakan modal bagi kita untuk menghadapi akhirat, terutama fase awalnya di alam kubur, di mana akan ditanyakan tiga perkara: Man Robbuka? Wa maa diinuka? [Apa dien-mu?] Wa maa hadzaar rujululladzi bu’itsa fiikum?

Silakan sebarkan. Semoga terhitung sebagai amal menyebarluaskan ilmu yang bermanfaat.

Advertisements

One thought on “Dien: Tata-Ritual atau Tata-Hidup?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s