Mengenal Nafs

diterjemahkan dari The Meaning of Nafs yang dirangkai oleh Muhammad ‘Afifi al-‘Akiti

amazing-736875_960_720

Dengan nama Allah, Maha Pengasih dan Penyayang.

Segala puji bagi Allah, yang telah menghiasi dimensi manusia dengan mengaruniakan kepadanya bentuk dan proporsi yang baik, menjaganya dari kelebihan dan kekurangan pada gatra dan ukuran-ukurannya. Kita mohon ampunan dan petunjuk-Nya; kita berlindung [pada-Nya] dari keburukan, pada diri kita sendiri, serta dari kebatilan dalam perbuatan kita. Dan semoga kesejahteraan dan salam tersampaikan kepada Muhammad, Rasul-Nya, shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.

Amma ba’du.

“Adapun yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun yang takut berdiri [di hadapan] Tuhannya dan menahan diri dari dorongan nafs-nya, maka sungguh surgalah tempat tinggal(nya).” (Surah an-Nazi’at: 37-41)

Ibnu Katsir berkata: “Para mu’min adalah mereka yang telah dihindarkan dengan Al-Qur’an dari memperturuti kenikmatan duniawi; [Al-Qur’an] membatasi antara mereka dan apa-apa yang dapat menghancurkan mereka. Para mu’min bagai terpenjara di dunia ini, mencoba untuk membebaskan diri dari belenggu dan rantai, tiada percaya pada suatu apapun di [dunia], hingga hari ia bertemu dengan Pencipta-nya. Ia tahu betul bahwa ia bertanggungjawab atas apapun yang ia dengar, lihat, dan sampaikan, dan atas apapun yang ia lakukan dengan badannya.” (Al-Bidayah wan-Nihayah, vol. 9 hal. 276, Cairo 1352)

Ada dua macam manusia. Pertama, mereka yang nafs-nya telah menaklukkan dan mengarahkan mereka kepada kehancuran karena mereka menyerah terhadapnya dan patuh terhadap dorongan-dorongannya. Yang kedua adalah mereka yang telah menaklukkan nafs-nya dan menjadikannya tunduk dalam kuasa mereka.

Nafs (jamak: anfus atau nufus) secara leksikal berarti jiwa, psyche, ego, diri, hidup, person, hati, atau pikiran (Mu’jam, Kassis).

Meski sebagian pemikir telah mengklasifikasi nafs hingga tujuh tahapan, terdapat kesepakatan di antara ulama bahwa di dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala telah menggambarkan setidaknya tiga jenis nafs. Dalam urutan mulai dari yang buruk ke baik, ketiganya adalah: nafs al-ammara bissu’ (nafs yang menyuruh kepada kejahatan), nafs al-lawwama (nafs yang menyesali), dan nafs al-muthmainnah (nafs yang tenang) (bab 12 ayat 53 dalam Tafsir ath-Thabari: Jami’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, 30 vol., Bulaq 1323, juga dalam Tafsir Imam Baghawi: Lubab at-Ta’wil fi Ma’alam at-Tanzil, 8 vol., Cairo 1308).

Ringkasan kondisi-kondisi nafs disajikan oleh Imam Thabari dalam tafsirnya atas Surah Yusuf ayat 53:

  1. Nafs al-Ammara Bissu’ (Jiwa yang Menyuruh)

Inilah nafs yang mengantarkan hukuman itu sendiri. Oleh karena sifatnya ia mengarahkan si empunya kepada setiap perbuatan salah. Tiada yang dapat menghilangkan keburukannya tanpa pertolongan Allah. Sebagaimana Allah merujuk kepada nafs ini dalam kisah tentang istri al-Aziz (Zulaikha) dan Nabi Yusuf ‘alayhis salaam: “… sesungguhnya jiwa (manusia) itu selalu menyuruh kepada kejahatan….” (Surah Yusuf: 53)

Allah juga berfirman: … Dan kalaulah bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu akan bersih selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surah an-Nur: 21)

Nafs ini menetap di dunia indrawi [sehingga] didominasi oleh berbagai keinginan (syahwat) dan dorongan seksual (fahisyah) yang duniawi pula.

Setan/keburukan bersembunyi di dalam nafs dan inilah yang menuntunnya untuk berbuat salah. Kalaulah Allah membiarkan saja seorang hamba dengan nafs-nya, maka hamba itu akan hancur di antara keburukan nafs serta keburukan yang diidam-idamkan nafs. Kita berlindung pada Allah Yang Maha Kuasa, baik dari keburukan dalam diri maupun dari keburukan segala perbuatan kita.

  1. Nafs al-Lawwama (Jiwa yang Menyesali)

Allah merujuk kepada nafs ini dalam firman-Nya: “Dan Aku memanggil ‘tuk bersaksi jiwa yang amat menyesali [dirinya sendiri].” (Surah al-Qiyamah: 2)

Nafs ini menyadari cacat yang ada padanya.

Hasan al-Basri berkata, “Engkau selalu melihat mu’min yang menyalahkan dirinya sendiri dan mengatakan hal-hal seperti: ‘Inikah yang aku inginkan? Kenapa aku melakukan itu? Apakah ini lebih baik daripada itu?’”

  1. Nafs al-Muthmainnah (Jiwa yang Tenang)

Allah merujuk kepada nafs ini dalam firman-Nya: “Wahai jiwa yang tenang.” (Surah al-Fajr: 27)

Nafs ini tenang karena ia bersandar pada kepastian Allah. Ibnu Abbas radhiaLlahu ‘anhu berkata, “Itulah jiwa yang tenang dan percaya.”

Al-Qatadah menyatakan, “Ialah jiwa seorang mu’min, yang tentram oleh apa yang Allah janjikan. Si empunya tenang dan puas dengan pengetahuannya akan segenap Asma dan Sifat Allah, dan dengan apa yang telah Ia firmankan tentang Dia dan Nabi-Nya shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, dan dengan apa yang Ia firmankan mengenai apa yang menanti jiwa setelah kematian: mengenai berpisahnya jiwa, kehidupan di alam Barzakh, dan peristiwa-peristiwa yang kemudian menyusul pada Hari Kiamat. Begitu tenangnya sampai-sampai mu’min yang demikian itu seolah hampir melihat semua itu dengan mata-kepalanya sendiri. Maka ia pun tunduk kepada ketentuan Allah dan berserah diri kepada-Nya sepenuhnya, tidak merasa tak puas atau mengeluh, dengan iman yang tak pernah goyah. Ia tak bergembira ria akan perolehannya, dan tak pula kesulitan membuatnya putus asa — karena ia tahu bahwa hal-hal itu ditetapkan jauh sebelum terjadi padanya, bahkan sebelum ia diciptakan….” (Ath-Thabari: Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 13, Bulaq 1323)

Imam Baghawi menyatakan, “Nafs al-muthmainnah memiliki malaikat yang menolongnya, yang membantu dan mengarahkannya. Malaikat itu menaburkan kebaikan ke dalam nafs tersebut sehingga ia menginginkan kebaikan pula dan menyadari akan keutamaan amal-amal sholeh. Malaikat itu juga menjauhkan diri tersebut dari kesalahan dan menunjukkan kepadanya keburukan amal-amal jelek. Pada intinya, apapun yang [dilakukan hanya] untuk dan demi Allah pastilah muncul dari jiwa yang tenang.

Nafs al-ammara bissu’ memiliki setan sebagai sekutunya. Ia menjanjikan [nafs itu] berbagai balasan dan perolehan hebat, namun menaburkan kepalsuan ke dalamnya. Ia mengajak dan merayu jiwa itu untuk melakukan keburukan. Ia terus menuntunnya dengan harapan demi harapan dan menyajikan tipu daya kepada jiwa itu dalam bentuk yang ia sepakati dan kagumi.”

Ibnu Qayyim juga menyebutkan kondisi-kondisi nafs: “Nafs merupakan entitas yang tunggal, meskipun kondisinya dapat berubah: dari nafs al-ammara ke nafs al-lawwama ke nafs al-muthmainna, yang merupakan tujuan akhir kesempurnaan… Telah dikatakan bahwa nafs al-lawwama adalah jenis yang tidak dapat bergeming pada satu kondisi. Ia sering berubah, ingat dan lupa, tunduk dan menghindar, mencintai dan membenci, bergembira dan bersedih, menerima dan menolak, patuh dan berontak. Nafs al-lawwama pun merupakan nafs seorang mu’min… Telah difirmankan bahwa nafs ini menyesali dirinya sendiri di Hari Kiamat — sebab masing-masing [mu’min] akan menyalahkan diri atas kesalahannya, baik itu amal-amal buruknya, jika ia banyak berbuat salah, atau atas kekurangan-kekurangannya, jika ia telah melakukan amal-amal baik. Semua ini betul adanya.” (Madarij as-Salikin fi Manazali Iyyaka Na’budu wa Iyaaka Nasta’in, vol. 1, hal. 308)

Sa’id Hawwa menyatakan terkait nafs: “Tergantung pada kondisinya, keberadaan nafs multidimensional. Ketika nafs tenang karena mematuhi Allah, dan jiwa ini melawan hasrat-hasratnya, ia disebut nafs al-muthmainnah. Mengenai ini, Allah telah berfirman tentangnya dalam Al-Qur’an (Surah al-Fajr: 27-28). Namun jika jiwa ini tidak berdamai dengan ia sendiri, dan justru terpapar pada berbagai hasrat, maka jiwa ini dikenal dengan nafs al-lawwama karena jiwa tersebut mencela si empunya karena keteledorannya dalam memenuhi perintah-perintah Allah, sebagaimana dalam Al-Qur’an (Surah al-Qiyamah: 2). Selain itu, jika jiwa tersebut menyerah pada syahwat dan tunduk pada godaan setan, maka jiwa semacam ini disebut nafs al-ammara bissu’. Allah memfirmankan kisah istri al-Aziz (Zulaikha) di dalam Al-Qur’an (Surah Yusuf: 53).” (Tarbiyatun nar Ruhiyah, hal. 32, Cairo: Dar as-Salam, 1408).

Ada satu pepatah Arab terkenal: “Duhai jiwa. Awas! Bantu aku dengan juangmu, dalam gelap malam demi malam; agar kelak di Hari Kiamat, ‘kan kau menangkan kehidupan yang indah di ketinggian.”

Semoga bermanfaat.

Dan sebagai penutup doa kita: “Maha Suci Tuhanmu, Tuhan [Pemilik] Kemuliaan di atas segala anggapan mereka. Dan kesejahteraan [tercurah] atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam.” (Surah Ash-Shaffat: 180-182)

Belfast, 4 Mei 1997.

Copyright: Dimuat pertama kali di BICNews. BICNews adalah layanan berita global dan fitur Islami yang unggul, dapat dihubungi lewat e-amail. Kirimkan permohonan kepada bicnews-request@mailinglist.net atau kunjungi situs internetnya di belfastIslamiccentre.org.uk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s