Habib Bertanya, Aisha Menjawab?

pigeons-1862173_960_720

Aisha Nurramdhani — entah nama asli bersosok nyata atau bukan — mengaku sebagai seorang Muslimah NU yang suka belajar perbandingan agama. Terasa kesan ia sedang memperjuangkan kerukunan beragama di Indonesia, ketika ia meluncurkan sebuah artikel yang berupaya menjabarkan doktrin Nasrani mengenai bagaimana orang-orang Kristen memandang Yesus. Tulisannya kemudian disebarluaskan, dielu-elukan oleh sebagian umat Kristen, hingga dinilai telah mengalahkan pemikiran Habib Rizieq Syihab, pemimpin Front Pembela Islam itu, yang oleh Aisha dinilai telah salah langkah melontarkan pertanyaan “Kalau Tuhan beranak, yang jadi bidannya siapa?” beberapa waktu lalu.

Tulisan ini berusaha menanggapi penjabaran Aisha mengenai doktrin Nasrani, mulai dari soal inkarnasi Tuhan, kodrat-ganda Yesus, hingga idenya mengenai apa sebenarnya logos yang mengejawantah sebagai Yesus, dan menurutnya setara dengan Al-Qur’an sebagai kalamuLlah. Karena jangan-jangan, tulisan Aisha sebenarnya telah memperburuk citra doktrin Nasrani itu sendiri di mata para Muslim, akibat klaim-klaim tanpa dasar kuat yang telah ia lontarkan, sehingga counter-productive terhadap kerukunan beragama yang ia harapkan.

Tanggapan-tanggapan saya hadir sebagai sisipan-sisipan (dengan font bold-italic seperti tampak sekarang) di antara tubuh tulisan tersebut. Demi pembacaan yang lebih mulus, tulisannya saya bersihkan dari kesalahan eja/tanda baca/huruf besar-kecil dan sebagainya, serta diberi tambahan seperti gelar-gelar untuk para nabi, dan lain-lain, tanpa mengubah isi tulisan sama sekali. Semoga bermanfaat.

***

TUHAN KOK BERANAK

penjelasan seorang Muslimah NU kepada Habib Rizieq & para Wahabi yang suka memancing keributan

“Kalau Tuhan beranak, yang jadi bidannya siapa?”

Pertanyaan Habib Rizieq ini saya rasa lebih asyik untuk dibahas daripada pernyataan Ahok yang sudah jelas maksudnya apa, yaitu hanya mengkritisi politisi yang memanfaatkan ayat-ayat untuk kepentingannya sendiri. Berbeda dengan pernyataan Ahok yang memang niatnya bukan menyinggung agama, tapi lebih kepada menyinggung politisi agama, pernyataan Habib Rizieq ini malah masuk ke dalam dan menyentuh dasar keimanan Kristen sendiri.

Namun sayang, sudah telanjur basah tapi yang keluar hanya pertanyaan dangkal seperti itu. Pernyataan Habib Rizieq kemarin saya nilai tidak berbobot. Bobotnya tidak lebih dari kebanyakan salah paham Muslim-Muslim yang belum pernah belajar perbandingan agama sebelumnya. Muslim yang sama sekali tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Dia masuk ke dalam, menyentuh dasar, tapi kualitasnya hanya setara dengan pertanyaan anak sekolah minggu/santri kecil. Muslimah seperti saya saja, yang suka belajar agama, bisa menjelaskannya dengan mudah

SIAPA SIH YESUS ITU?

Pertama-tama, kita harus mengerti terlebih dahulu posisi Yesus di mata Kristiani. Ya, lepas dahulu kacamata Islam kita yang penuh dengan doktrin dan ayat-ayat Al-Qur’an tentang Nabi Isa [‘alayhis salaam] agar dapat melihat dengan jelas perspektif Kristiani terhadap Yesus (lepasin perspektif islamnya, bukan lepasin agama Islamnya yach).

Bagi umat Kristen, Yesus adalah Tuhan yang berinkarnasi (menjelma) menjadi manusia, bukan manusia yang diangkat menjadi Tuhan seperti yang selama ini disalahpahami umat Muslim. Menurut perspektif Kristen, manusia tak mungkin jadi Tuhan. Tapi Tuhan Maha Kuasa, tiada yang mustahil bagi-Nya, jadi Tuhan bisa menjelma menjadi apapun, termasuk menjadi manusia. Menyangkal bahwa Tuhan bisa menjelma menjadi manusia, berarti menyangkal ke-Maha-Kuasa-an Tuhan.

Hal ini bukan tanpa dasar. Mereka melihat banyaknya nubuatan mengenai kedatangan Messiah — sang pembebas, Tuhan yang mengambil rupa manusia — ini dari kitab Taurat, kitabnya para Yahudi. Kitab yang sama yang juga memuat cerita mengenai Nabi Adam [‘alayhis salaam], Nabi Ibrahim [‘alayhis salaam], dan Nabi Musa [‘alayhis salaam].

Ummat Islam mungkin akan sulit mengerti ajaran Kristen mengenai kodrat ganda Yesus: sepenuhnya-insani (kamil bi al-nasut), sekaligus sepenuhnya-ilahi (kamil bi al-lahut) sebagai Kalimatullah.

Tanggapan: Di sini kita temukan satu persamaan mendasar antara ajaran Islam dan Kristen, yakni Tuhan itu Maha Kuasa. Menurut penulis (saya memosisikan diri sebagai “penanggap,” bukan “penulis”), dalam ajaran Kristen, dengan ke-Maha-Kuasa-an-Nya, Tuhan bisa menjelma menjadi apapun. Saya telanjur membayangkan Zeus yang malih menjadi sapi putih, turun ke bumi, lalu menculik Europa. Dalam Islam, pemikiran seperti itu melanggar rambu-rambu aqidah. Tapi tunggu, ini bukan soal aqidah Islam saja, tapi juga soal akal sehat, yang saya rasa diharapkan umat Kristiani menjadi dasar doktrin mereka pula, serta agar tak dianggap menjiplak mitologi Yunani.

Begini… Se-maha apapun Tuhan, dalam lingkup alam pikir manusia yang penuh keterbatasan, pendekatan terhadap konsep “maha” membutuhkan rambu-rambu tersendiri. Misalnya, ke-Maha-Kuasa-an Tuhan itu absolut, sehingga tidak mungkin mengakibatkan ke-tidak-kuasa-an bagi-Nya. Contoh yang sering diberikan kepada kami adalah pertanyaan ini: Jika Allah Maha Kuasa, mampukah Allah menciptakan batu yang begitu berat sampai Ia pun tidak mampu mengangkatnya? Silakan pilih redaksi jawabannya seperti apa. Mungkin begini: Dzat yang Maha Kuasa tidak mungkin sekaligus tidak-kuasa. Atau: Ke-Maha-Kuasa-an Allah tidak mungkin mengadakan “sesuatu” yang membatalkan ke-Maha-Kuasa-an tersebut, karena itu akan berarti ada yang sebanding atau justru melebihi-Nya.

Saya khawatir menuduh orang-orang Kristen tak mampu berpikir secara runut dan konsisten seperti di atas. Tapi apabila ada cara pandang yang berbeda terhadap ke-Maha-Kuasa-an Tuhan dalam doktrin Kristen, saya pun harus bertanya: Apakah Tuhan Islam memang berbeda dari Tuhan Kristen?

Jika pendekatan Kristen terhadap ke-Maha-Kuasa-an Tuhan runut dan konsisten seperti di atas, maka tawaran Aisha tentang kodrat-ganda Yesus menjadi problematis pula. Sebab, jika Yesus yang sepenuhnya-insani pun sepenuhnya-ilahi, maka ke-sepenuhnya-ilahi-an Yesus tentu membawaserta ke-Maha-Kuasa-an Tuhan. Terlepas dari adanya sesuatu yang sepenuhnya-insani, di sini terdapat dua yang sepenuhnya-ilahi. Izinkan saya untuk sejenak menjadi “sedangkal” Habib Rizieq sebagaimana dituduhkan penulis, karena ingin menambahkan ini: Barangkali penulis mau mengatakan, dalam ajaran Kristen, ada Yang Maha Kuasa 1.0 dan ada Yang Maha Kuasa 2.0. Perhaps they were manufactured by Yang Maha-Maha Kuasa 1.0, which in itself makes it possible that there is Yang Maha-Maha Kuasa 2.0. Are you dizzy too? Jika Anda termasuk yang terpeleset hingga terjun-bebas ke dalam black-hole pola pikir semacam itu, berdoalah bahwa Yang Maha Kuasa Sejati akan menangkap dan menyelamatkan Anda.

Dan kata “menangkap” membawa kita pada tanggapan berikutnya. Kira-kira, dalam pikiran Anda, Tuhan “menangkap” dengan tangan atau dengan kekuasaan yang mengejawantah dalam bentuk apapun yang Tuhan mau? Demikianlah, lewat satu lensa Ahlus-sunnah wal-Jama’ah yang bertajuk Asy’ariyah, sifat-sifat Allah tidak begitu saja kita samakan dengan contoh-contoh yang berada dalam keterbatasan alam pikir manusia. Poin ini akan kita bahas lebih lanjut.

Berikutnya, saya tidak tahu dari mana penulis mengambil definisi “messiah” sebagai “Tuhan yang mengambil rupa manusia.” Yang saya pahami, dalam ajaran Yahudi, “messiah” bermakna seseorang yang akan membawa syariat atau aturan-aturan (baru), yang dengan syariat berlandaskan wahyu-wahyu Tuhan itu ia akan membebaskan bangsa Yahudi dari ketertindasan. Jika Mbak Aisha sebagai penulis melakukan kekeliruan di sini, maka orang-orang Kristen justru perlu meluruskan kekeliruannya. Sebagaimana orang-orang Islam sering menyatakan “tunjukkan di mana dalam kitab-kitab kalian Yesus menyatakan minta disembah sebagai Tuhan,” maka kini perlu pula ditunjukkan di mana dalam kitab-kitab mereka “messiah” bermakna “Tuhan berwujud manusia.”

Apabila pemahaman Aisha tentang Taurat hanya sebatas “Kitab … yang juga memuat cerita mengenai Nabi Adam [‘alayhis salaam], Nabi Ibrahim [‘alayhis salaam], dan Nabi Musa [‘alayhis salaam]” barangkali Aisha sudah sepatutnya sadar diri dan tak menuliskan artikelnya, sebab betapa sempitnya definisi yang ia tawarkan. Tapi mari coba berprasangka baik, dan kita lanjutkan membaca tulisannya…

***

Agar mengerti, kita mungkin dapat membandingkannya dengan ajaran Islam sendiri mengenai kitab suci Al-Quran al-Karim.

Bagaimanapun, sebenarnya konsep dalam Kristen ini juga ada dalam Islam, dengan posisi Yesus dalam iman Kristen dibandingkan sejajar dengan posisi Al-Qur’an dalam iman Islam.

Perbandingannya bukan Yesus dengan Nabi Muhammad [shallAllahu ‘alayhi wa-sallam]. Karena dalam Islam, Nabi Muhammad [shallAllahu ‘alayhi wa-sallam] sekedar penerima Firman Allah, padahal dalam Kristen Firman-Nya adalah Yesus itu sendiri. Sebaliknya, posisi Nabi Muhammad [shallAllahu ‘alayhi wa-sallam] sejajar dengan Maria (Maryam), karena keduanya adalah “sarana turunnya Firman ke dunia” menurut keyakinan masing-masing.

Secara teologis, keperawanan Siti Maryam juga paralel dengan kebuta-hurufan Nabi Muhammad (Nabi al-Ummi) [shallAllahu ‘alayhi wa-sallam]. Karena fakta bahwa Maria tetap perawan dan Nabi Muhammad [shallAllahu ‘alayhi wa-sallam] buta huruf, menegaskan kemurnian Firman Allah, tanpa intervensi atau campur tangan manusia.

Jadi sebenarnya ada hubungan paralel antara keyakinan Kristen mengenai Firman Allah yang menjadi manusia dengan keyakinan Islam akan Kalam Allah yang kekal yang turun menjadi al-Qur’an atau nuzul al-Qur’an.

KALAU YESUS ITU TUHAN/FIRMAN ALLAH/KALIMATULLAH, KENAPA DIA BUTUH MAKAN? KENAPA DIA BISA MATI? KENAPA?

Salah satu hal yang sering menjadi olok-olok kepada kaum Nasrani adalah ketika orang awam membenturkan sifat keTuhanan Yesus dengan kodratnya sebagai manusia. Rata-rata karena mereka tidak paham sifat “sepenuhnya insani” (kamil bi al-nasut) dan “sepenuhnya ilahi” (kamil bi al-lahut) yang dimiliki Yesus diatas.

Yesus adalah 100% Allah (dalam kapasitasnya sebagai Firman Tuhan) namun juga 100% manusia (dalam fisik insaninya). Sama persis dengan Al-Quran yang 100% Kalimatullah dan 100% buku.

Tanggapan: Let’s pause it right there… Kini menurut penulis, menurut ajaran Kristen, Yesus tidak saja sepenuhnya-insani, dan tidak saja sepenuhnya-ilahi, tapi juga (sepenuhnya-)Kalimatullah alias logos (Yunani) alias memra alaha (Aramaik), dengan catatan bahwa Kalimatullah pun sejajar dengan Allah. Poin terakhir gamblang pada bagian di mana Aisha menyatakan Yesus adalah 100% Allah (dalam kapasitasnya sebagai Firman Tuhan).

Catatan: Saya akan menggunakan istilah yang lebih umum untuk menggantikan “Kalimatullah,” yakni “KalamuLlah” pada bagian tanggapan-tanggapan saya sendiri.

Cara berpikir yang runut dan konsisten dalam Islam mengajak manusia untuk menempatkan segala sesuatu pada posisi-posisinya yang patut. Barangkali Anda pun pernah bingung, mengapa Al-Qur’an dan hadits memuat kata-kata “tangan Allah,” “wajah Allah,” dan lain-lain semacam itu. Lewat penafsiran yang sejalan dengan rambu-rambu aqidah, kiasan “tangan” dapat diterjemahkan sebagai “kuasa,” dan “wajah” sebagai “pengawasan,” sehingga sesuai dengan sifat Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Mengawasi. Dengan demikian, mudahlah bagi Muslim yang berpikir hati-hati untuk menilai bahwa “tangan Allah” sebagai “kuasa Allah” bukanlah Dzat Allah; “wajah Allah” sebagai “pengawasan Allah” bukanlah Dzat Allah; sehingga KalamuLlah pun bukanlah Dzat Allah, melainkan berada pada lingkup kuasa Allah.

Oleh Aisha, Yesus yang merupakan KalamuLlah disejajarkan dengan Al-Qur’an. Ini menarik, namun dengan cara berpikirnya yang tidak menempatkan hal-hal pada tempatnya, konsekuensinya jadi mengerikan. Dalam Al-Qur’an disebutkan, Al-Qur’an itu sendiri tercantum di dalam Lauh Mahfuzh, atau sering diterjemahkan menjadi Kitab Induk. Apabila Aisha menawarkan konsep bahwa KalamuLlah sejajar dengan Allah, sementara Al-Qur’an yang juga merupakan KalamuLlah terdapat dalam Lauh Mahfuzh, maka apakah penulis telah menyatakan bahwa Allah pun tercantum dalam Lauh Mahfuzh? Lauh Mahfuzh memuat rencana-rencana akan kuasa Allah, maka apakah Allah merencanakan diri-Nya sendiri di sana? Islam menjawab, Allah itu azali atau qadim dan baqa, tak bermula dengan masa dan tak berakhir dengan waktu.

Aisha memang tak menyebut keberadaan konsep Kitab Induk di dalam Kristen, namun ia telanjur membandingkan konsep Yesus sebagai KalamuLlah dengan Al-Qur’an sebagai KalamuLlah. Sehingga jika kita mengikuti jalan pikiran yang mengerikan itu, rumusnya menjadi: Yesus = Al-Qur’an = KalamuLlah = Allah < Lauh Mahfuzh. Na’udzubillahi min dzalik. Padahal Lauh Mahfuzh itu terpelihara di sisi-Nya.

Mari kita saksikan kelanjutan dari kekacauan cara berpikir ini…

***

Secara fisik mungkin buku tersebut dapat rusak, robek, atau bahkan terbakar sampai habis, bukan? Namun ketika Al-Quran rusak secara fisik, apakah artinya Firman Allah juga telah rusak? Tentu tidak. Yesus pun dalam rupanya sebagai manusia tentu dapat mengalami kerusakan secara fisik – merasakan rasa sakit, lapar, mati (namun bangkit lagi). Tapi kerusakan secara fisik tentu tidak berpengaruh apa-apa terhadap statusnya sebagai Firman Allah. Apalagi sampai hal-hal fisik ini dipandang sebagai bukti bahwa Yesus bukan Firman Allah.

Mungkin lho ya, olok-olok kaum awam ini dipandang oleh umat Nasrani sebagai hal yang tidak lucu sama sekali, sekaligus menyedihkan. Bukan, bukan karena mereka sedang tersinggung sehingga merasa olok-olok itu tidak lucu. Tetapi lebih kepada rasa miris karena mengetahui pemahaman pengolok-olok itu terlalu dangkal. Sama mirisnya ketika kita kedatangan orang yang niatnya menghina Al-Quran yang kebetulan ketumpahan kopi: “Iiihh…. Kok lucu sih Firman Allah bisa rusak ketumpahan kopi? Bukan Firman Allah tuh namanya kalau bisa rusak!”

Kalau kamu dengar olok-olok itu apakah kamu tersinggung? Apakah menurutmu olok-olok itu lucu? Tentu tidak. Kita tidak merasa lucu bukan karena kita merasa tersinggung. Kita merasa tidak lucu karena memang olok-olok itu sangat menyedihkan. Menggunakan sifat-sifat fisik sebuah buku untuk menyangkal Al-Quran sebagai Kalimatullah adalah sesuatu yang sangat tidak nyambung. Ini menunjukkan dengan jelas kapasitas dan volume otak si pengolok.

Konsep “dualisme” Yesus (Kalimatullah-manusia) dan Quran (Kalimatullah-buku) ini juga bukanlah sebuah konsep yang dibuat-buat hingga terkesan unik bin antik, di mana suatu hal ternyata dapat memiliki 100% sifat A namun sekaligus juga memiliki 100% sifat B (sesuatu yang menjadi anggota himpunan sifat A dan B yang saling lepas).

Dalam dunia sains, cahaya juga memiliki sifat 100% partikel namun secara bersamaan juga memiliki sifat 100% gelombang. Tapi bagaimanapun juga, kita tidak bisa membenturkan segala hasil eksperimen yang menunjukkan bukti cahaya adalah partikel untuk menyangkal fakta bahwa cahaya juga merupakan gelombang. Begitupun sebaliknya.

Tanggapan: Sudahlah sepenuhnya-insani, sepenuhnyailahi, lalu KalamuLlah, sekarang Yesus disamakan dengan cahaya. Ini bukan penyamaan yang istimewa, karena menurut saya manusia memang mirip cahaya, dalam hal sama-sama punya partikel dan punya gelombang. Semua anggota tubuh Anda dan saya punya partikel zat-zat padat maupun cair, dan otak saya punya gelombang beta, alpha, delta, dan theta. Perbandingan kodrat-ganda Yesus dengan kedua sifat cahaya menunjukkan bahwa tawaran-tawaran pemikiran si penulis semakin runyam. Apakah ketika saya diketahui tersusun dari unsur-unsur yang sama dengan yang ada pada tanah maka saya sepenuhnya-insani, lantas ketika tubuh saya menghasilkan panas lantas saya sepenuhnya-jin?

***

Hal ini karena memang tidak nyambung. Yang mau diuji apa, parameternya apa. Ibarat kita yang adalah 100% anak ibu, namun juga merupakan 100% anak dari bapak kita. Fakta bahwa hidung kita mirip ibu tidak lantas bisa dipertentangkan untuk menyangkal bahwa kita bukan anak dari bapak. Begitupun dengan fakta bahwa mata kita yang mirip bapak tidak bisa dijadikan bukti bahwa kita bukan anak dari ibu.

Lebih tepat kalau mau mempertanyakan Yesus adalah Tuhan atau bukan, ujilah apakah Ia pernah berbuat dosa atau tidak (karena kodrat manusia adalah berdosa). Dengan unsur ilahi pada beliau, adakah mukjizat besar yang Ia perbuat dimana mukjizat ini hanya bisa dilakukan Allah sendiri? Membuat sesuatu menjadi mahkluk hidup, misalnya. Dst, dst.

Sama halnya dengan jika kita ingin menguji Al-Quran adalah Firman Allah atau bukan. Ujilah apakah Al-Quran pernah bertentangan dengan sifat kemanusiaan atau tidak. Apakah ada ayat Al-Quran yang isinya memerintahkan perbuatan jahat, seperti mencuri atau membunuh misalnya. Dst, dst.

Tanggapan: Memang tidak nyambung. Akal manusia mencari-cari parameter untuk mengukur ke-ilahi-an adalah ibarat semut berjalan di atas layar handphone, lalu Anda berharap semut itu bisa membaca tweet Anda. Tidak heran apabila istilah-istilah yang muncul dari Aisha (seorang manusia dengan segala keterbatasan akalnya) adalah sejenis “sepenuhnya-ilahi” dan “kodrat-ganda,” sehingga membuka celah untuk istilah “setengah-ilahi,” “seperempat-ilahi,” hingga “kodrat-rangkap-tiga” atau “kodrat-rangkap-seratus.” Yang ditunjukkan oleh Aisha justru ngeyelnya manusia dalam mematuhi rambu “Allahu ahad,” sehingga pencarian akan “hakikat Tuhan” membawa kepada ide-ide yang keblinger.

Padahal kalau mau mengukur kualitas ‘Isa [‘alayhis salaam], pakailah parameter yang sudah ada, yakni hamba Allah yang saleh, dan kesalehannya inilah yang dapat dicari dalil-dalil untuk setidaknya membayangkan sebesar apa kualitasnya itu. Sebab, kalau dalam satu hari saya sama sekali tidak berbuat dosa, apakah hari itu saya lantas bisa dibilang sedang sepenuhnya-ilahi? Tidak. Tapi bisa saja disebut hari itu saya sedang sepenuhnya berusaha untuk menjadi hamba yang saleh. Atau, dengan kosakata lain, bisa dibilang saya sedang sangat spiritual.

Apakah penulis berani mengatakan, bahwa lewat kacamata Kristen, Nabi Muhammad [shallaLlahu ‘alayhi wa-sallam] dapat disebut ilahi karena beliau maksum, sehingga perlu disembah? Inilah garis batas yang sangat penting, yang memisahkan Islam dengan ajaran-ajaran lain yang mengajak kepada penyembahan terhadap orang-orang saleh, bahkan kepada para jin dan malaikat, sebagaimana telah diperingatkan dalam berbagai ayat di dalam Al-Qur’an.

***

LANTAS WAKTU YESUS TURUN KE DUNIA SIAPA YANG NGATUR ALAM SEMESTA?

Mengatur alam semesta tidak ada hubungannya dengan hadirnya Yesus di dunia. Kita umat Islam juga percaya kan bahwa Allah memiliki sifat omnipotent (Maha Kuasa) dan omnipresent (Maha Hadir).

Begitupun dengan umat Kristiani. Saat kita percaya bahwa Allah sedang hadir menjawab doa kita sekarang, tentu tidak perlu menyangsikan kemampuanNya di mana pada saat yang bersamaan Ia juga bisa hadir di tengah-tengah saudara kita di belahan dunia lain. Bukankah Allah itu Maha Kuasa?

APAKAH BENAR YESUS ADALAH ANAK BIOLOGIS TUHAN?

Teman-teman harus paham bahwa umat Nasrani memiliki pemahaman yang sama dengan Islam, yakni Tuhan itu tidak beranak. Bibel tidak mengajarkan Allah melakukan hubungan biologis dengan Maryam sehingga melahirkan allah baru, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Inilah pemahaman sebagian umat Muslim yang salah.

Banyak dari mereka menganggap Tuhannya Nasrani itu ada 3: Tuhan Bapa, Tuhan Istri (Maryam), dan Tuhan Anak (Yesus). Mereka yang mempunyai pemahaman demikian, bahwa Yesus anak biologis Tuhan, sulit membedakan antara bahasa figuratif dan bahasa harfiah. Tapi anehnya, bila mendengar kalimat “Muhammad adalah kekasih Allah” mereka tahu ungkapan tersebut hanya kiasan, sedangkan saat mendengar kata “Anak Tuhan” mereka langsung mengartikannya secara harfiah.

Kiranya kita mengerti bahwa Bible dan orang Nasrani manapun (bahkan bid’ah Nasrani paling melenceng seperti Saksi Yehuwa atau Mormon sekalipun) tidak ada yang mengajarkan Isa Al-Masih adalah hasil hubungan biologis antara Allah dan Siti Maryam!

Tanggapan: Aisha tampaknya sedang berandai-andai bahwa Habib Rizieq dan kebanyakan Muslimin yang berbahasa Indonesia tak bisa berandai-andai. “Kalau Tuhan beranak, bidannya siapa?” justru tidak mengajak orang Indonesia untuk berpikir bahwa ada hubungan biologis antara Tuhan dengan Maryam. Di sini penanya justru mengajak untuk berpikir dengan melakukan dua lompatan. Pertama, melompati makna “beranak” sebagai “melahirkan anak.” Dan kedua, melompati makna “beranak” sebagai “memiliki anak.” Mereka diajak untuk memahami bahasa Indonesia. Diajak untuk membedah imbuhan “ber-“, agar tak menyamakan Tuhan dengan perempuan yang punya rahim, dan tak pula menyamakan Tuhan dengan laki-laki yang meneruskan garis keturunan (patrilineal). Dan demikianlah salah satu cara memaknai Surah al-Ikhlash, betapapun dangkal Aisha menilainya.

Kini akan saya cantumkan buah pikir dari dua orang yang saya kenal, Mas Ridwan Taufik dan Ridwan Kholid. Mereka berpendapat bahwa penulis artikel seolah menyatakan ada kesalahan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kafirlah orang yang berkata ‘Isa adalah putra Allah, dan orang yang berkata Allah adalah satu dari yang tiga. Argumen penulis juga menimbulkan pertanyaan akan sangkalan Allah kepada kaum Nasrani bahwa Dia ahad bukan tiga, khususnya pada ayat “lam yalid wa lam yulad.” Apakah menurut penulis, Allah yang memfirmankan Al-Qur’an ini juga berpemahaman dangkal? Apakah Allah tak paham perbedaan bahasa figuratif dan bahasa harfiah?

KALAU YESUS BUKAN ANAK BIOLOGIS TUHAN, TRUS KENAPA DIA DISEBUT ANAK TUHAN?

Anak Tuhan itu hanyalah istilah, sayang. Sama halnya dengan anak kunci atau anak tangga. Kunci dan tangga tidak melahirkan anak kunci dan anak tangga bukan? Istilah “Anak Tuhan” disematkan kepada Yesus dalam kapasitasnya sebagai manusia. Patut dipahami oleh ummat Islam bahwa istilah anak Tuhan tersebut tidak hanya terbatas untuk Yesus saja. Tiap individu umat Nasrani menyebut dirinya anak Tuhan, oleh karena itu mereka memanggil Tuhan mereka dengan sebutan “Bapa.” Istilah anak dan Bapa ini digunakan untuk menunjukkan kedekatan ummat Nasrani dengan Tuhannya. Layaknya seorang bapak yang memelihara, membimbing, melindungi, dan mendisiplinkan anaknya, begitu pula sikap Tuhan pada ummat-Nya.

Akhirul kalam, seperti itulah Yesus. Bagi umat Nasrani dia adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Jadi tidaklah heran dalam dirinya terkandung atribut-atribut illahi yang tidak dimiliki oleh siapapun, bahkan oleh nabi manapun, seperti dapat menghidupkan orang mati. Pun demikian, sosoknya tidaklah lepas dari sifat-sifat kemanusiaan (karena Ia memang menjelma menjadi manusia) seperti dapat merasakan rasa sakit, kantuk, lapar, sekaligus atribut anak Tuhan juga tersemat padanya, sebagaimana umat Nasrani mengenal Allah.

Sementara itu, kita umat Islam memandang Yesus adalah suci (QS 19:19), dapat meniupkan nafas kehidupan pada tanah liat hingga menjadi burung (QS 3:40), dan banyak hal senada lainnya.

Hendaknya dari hal-hal yang sudah saya paparkan diatas dapat membantu teman-teman untuk memahami iman saudara kita yang beragama Nasrani, sehingga rasa saling menghormati dapat lebih terjalin. Aamiin…

Tanggapan: Ya, saling menghormati sesama manusia itu penting. Akan tetapi ajakan kepada ajaran yang memuaskan akal jauh lebih penting. Dengan apa-apa yang disampaikan oleh Aisha, saya menyimpulkan bahwa Yesus dalam Kristen sangat berbeda dari Nabi ‘Isa [‘alayhis salaam] dalam Islam, sehingga saya meringis membaca kata-katanya “kita umat Islam memandang Yesus…” Memang, sudah dijanjikan bahwa bagi mereka yang mendustakannya, kebenaran mengenai Nabi ‘Isa [‘alayhis salaam] hanya akan tampak di akhir zaman serta di akhirat kelak. Namun itu tidak berarti umat Islam tidak berhak untuk mendakwahkan kebenaran menurut Islam itu sendiri, apalagi sampai harus mencopot perspektif Islam ketika berinteraksi dengan umat lain.

Akhirnya, sebagai pembelaan sederhana bagi Habib Rizieq, saya hanya ingin menyatakan: Pendakwah perlu memperhatikan siapa yang sedang dia dakwahi. Mungkin saja di antara orang-orang yang hadir di ceramah beliau, terdapat banyak anak kecil, atau setidaknya remaja, sehingga pemikiran mereka perlu dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana. Intinya, Habib Rizieq sedang ceramah, bukan menulis disertasi. Kalaulah Habib sedang menulis disertasi yang judulnya Bahaya Filsafat Kristen, saya rasa poin-poin yang beliau angkat akan lebih berbobot daripada isi tulisan di atas.

Kalau tulisan Mbak Aisha diserahkan kepada salah satu anak TPA di kampung belakang rumah saya, baru membaca deretan judul saja dia mungkin sudah bertanya: “Mas, Wahabi itu apa?” (By the way, aneh juga apabila menyamakan Habib Rizieq dengan para Wahhabi, sementara beliau mengkritik keras aliran Wahhabi itu sendiri).

Advertisements

One thought on “Habib Bertanya, Aisha Menjawab?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s