Islam Izinkan Homoseksualitas? Sejumlah Argumen & Bantahannya

blur-1788144_960_720

Memelintir nas-nas agama (Islam) demi kepentingan tertentu bukanlah hal baru. Akan tetapi, apabila hal tersebut dilakukan demi membenarkan “homoseksualitas,” ngeri rasanya membayangkan betapa banyak batasan yang telah dilanggar. Toh, hal demikian sudah pula terjadi. Sejumlah pemikir/akademisi yang berkubu pada gerakan LGBT berusaha meyakinkan masyarakat (dunia) bahwa Islam tidak melarang “homoseksualitas,” bahkan sampai pada pernyataan bahwa Islam mengizinkannya. Itulah bagian dari upaya-upaya serius dan terorganisir dalam menjadikan hampir segala hal yang terkait homoseksualitas (juga biseksualitas dan transgender) sebagai hak asasi manusia, sehingga harus diperbolehkan hingga dianggap wajar. Berikut adalah beberapa argumen — yang sedikit-banyak terkait dengan Islam — yang telah dimanfaatkan oleh sebagian advokat gerakan LGBT untuk mencapai tujuannya.

(Artikel ini disadur dan disesuaikan dari esai oleh Mobeen Vaid pada situs MuslimMatters.org berjudul Can Islam Accommodate Homosexual Acts? Quranic Revisionism and the Case of Scott Kugle.)

Argumen 1: Islam mengakui keberagaman, sehingga tentunya mengakui keberagaman-seksual pula.

Mereka yang mengajukan argumen ini merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan betapa keanekaragaman adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan, mulai dari tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, hingga manusia yang berbangsa-bangsa. Ada pula yang sampai mengutip Surah An-Nur ayat 31, yang menyinggung tentang “pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan).” Dengan demikian, menurut mereka, menafikan keberagaman seksual bisa berarti mendustakan ke-Maha-Kuasa-an Tuhan. Mereka tidak tahu — atau barangkali pura-pura tidak tahu — bahwa menghukumi sesuatu (sebagai wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram) tidak bisa bersandar semata-mata pada ayat-ayat yang sifatnya ‘aamm (umum) apabila terdapat nas-nas khas (spesifik) terkait hal yang hendak dihukumi tersebut.

Menjadikan ayat-ayat tentang keberagaman sebagai satu-satunya basis argumen untuk membolehkan “homoseksualitas” sama artinya dengan menghapus seluruh ayat mengenai Nabi Luth ‘Alayhis salaam serta perkataan-perkataan RasuluLlah ShollaLlahu ‘alayhi wa sallam, baik itu yang menjabarkan kisah kaum Nabi Luth maupun yang secara spesifik terkait dengan perbuatan-perbuatan sesama-jenis. Salah satu hadits dari Jabir bin Abdullah berbunyi, “Rasulullah ShollaLlahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth’ (diriwayatkan Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Hakim).”

Argumen 2: Ketertarikan sesama-jenis adalah genetis, sehingga merupakan sunnatuLlah.

Tidak ada penelitian ilmiah yang sudah membuktikan adanya penanda epigenetis (epigenetic marking) yang berkorelasi dengan ketertarikan sesama-jenis atau yang mendukung anggapan adanya determinan biologis untuk orientasi seksual.

Argumen 3: Bahwa “ketertarikan sesama-jenis adalah genetis” belum terbukti, bukan berarti tidak akan terbukti.

Argumen ngeyel semacam ini mirip dengan pernyataan: “Daging babi haram karena mengandung cacing pita; apabila suatu teknologi dapat menjadikannya bebas dari cacing pita ataupun mikro-organisme merugikan lain, maka ia menjadi halal.”

Ada pendapat yang penting untuk disimak, agar meskipun kelak suatu penelitian ilmiah berhasil membuktikan keberadaan penanda epigenetis untuk ketertarikan sesama-jenis, maka penggunaannya sebagai dasar diperbolehkannya perbuatan-perbuatan homoseksual (dalam Islam) dapat dikubur sedalam-dalamnya. Sentilan ini datang dari penulis Daniel Haqiqatjou atas sebuah studi yang mengklaim bahwa manusia berjenis kelamin laki-laki memiliki “impuls yang genetis dan evolutif untuk berbuat serong.” Kata Haqiqatjou: “Akankah lantas ada kebutuhan untuk mengelompokkan manusia ke dalam grup-grup atau komunitas identitas berdasarkan [klaim] tersebut [yakni kecenderungan genetis untuk berbuat serong]? Sebagai contoh, akankah mereka yang memiliki kecenderungan lebih besar untuk serong mengidentifikasi diri sebagai ‘ekstraseksual’ sementara yang lainnya adalah ‘intraseksual’? Akan adakah ‘parade pride ekstraseksual’ serta ‘gerakan hak-hak ekstraseksual’ yang akan menuntut sekolah-sekolah Islam dan Katolik untuk menyediakan ruang bagi ‘gaya hidup alternatif (baca: zina-isme)’ serta memberi suara bagi para pelaku serong yang begitu bangga akan keserongannya?”

Perhatikanlah, bagaimana berbagai upaya mencari-cari pembenaran serta pengajuan tuntutan untuk memperoleh berbagai keistimewaan sudah dilakukan oleh para advokat gerakan-gerakan dan kelompok-kelompok LGBT. Di beberapa negara, pernikahan sesama-jenis telah dilegalkan, dan perubahan pada satu hal prinsipil (yakni definisi pernikahan) dalam undang-undang tentu merembet pada perubahan berbagai aturan hukum. Satu contoh sederhana: sertifikat kelahiran. Di Spanyol, kata “ibu” dan “ayah” pada sertifikat kelahiran diganti dengan “progenitor A” dan “progenitor B”; sementara Kanada menghapus konsep “orang tua kandung” dalam produk-produk hukumnya; dan Swedia berencana menghapus kata “anak laki-laki” dan “anak perempuan” untuk menggantinya dengan satu istilah saja.

Kericuhan-kericuhan hukum sudah terjadi, sementara riset ilmiah yang hasilnya mendukung klaim “genetically gay” belum lagi ada. Bayangkan bila benar-benar ada. Betapa besar kericuhan yang dapat terjadi apabila setiap kelompok “menyimpang” merasa berhak atas berbagai keistimewaan (hukum), hanya karena “penyimpangan” itu ternyata didukung oleh ilmu genetika. Hukuman terjungkir-baliknya negeri Sodom-Gomorrah serasa menemukan pengertian baru, ketika cara berpikir yang jungkir-balik telah menggiring masyarakat-masyarakat yang terlampau permisif pada homoseksualitas menuju kekacauan, khususnya di ranah sosial dan hukum.

Argumen 4: Tanpa pembuktian genetis pun, ketertarikan sesama-jenis adalah sebuah kenyataan yang harus diakui keberadaannya, maka tetap merupakan sunnatuLlah.

Eksistensi Iblis dan setan pun merupakan sunnatuLlah. Meski sifatnya gaib, keberadaannya ditunjukkan oleh banyak dalil dalam Islam, khususnya Al-Qur’an. Mengikuti prinsip bahwa Al-Qur’an harus diimani, maka setiap Muslim harus pula mengimani dan mematuhi ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk tidak mengikuti langkah-langkah setan. Mengakui keberadaan sesuatu tidak serta-merta berarti mendukung atau memperbolehkannya. Kita tahu, pembunuhan tanpa haq terjadi di mana-mana; apakah itu berarti Anda akan bertepuk-tangan ketika melihatnya?

Argumen 5: Islam tidak memiliki penilaian yang komprehensif mengenai “homoseksualitas,” sebab wacana tentang orientasi seksual yang menghasilkan biner hetero/homo baru muncul pada sekitar abad ke-19. Maka dari itu, Islam perlu melengkapi dan menyesuaikan ajarannya dengan temuan-temuan modern dalam studi tentang gender dan seksualitas.

Islam memandang manusia sebagai makhluk yang perlu diatur, dan aturan-aturan itu harus datang dari Penciptanya sebagai seperangkat panduan yang objektif, absolut, dan tidak berubah. Akan tetapi, tidak bisa disangkal bahwa sebagian manusia beranggapan mereka dapat — atau bahkan harus — mengatur diri dengan aturan-aturan yang mereka buat sendiri. Dengan menafikan wahyu ilahiah, dan dengan mempercayai bahwa akal yang didukung oleh indera-indera dapat menjawab segala masalah, sistem sekuler melihat Islam sebagai sistem yang perlu menyesuaikan diri. Di lain pihak, dengan prinsip bahwa wahyu-wahyu ilahiah telah sempurna, dan dengan mengharuskan akal serta indera yang terbatas untuk mengikuti kaidah yang ditentukan dalam menafsirkan wahyu-wahyu itu, Islam menilai justru sistem sekuler dan produk-produknyalah yang harus melewati sistem penilaian Islam yang khas.

Misalnya, apa pendapat Islam mengenai konsep “orientasi seksual”?

Berbeda dengan pandangan sistem sekuler, istilah-istilah dalam Al-Qur’an dan Sunnah mencerminkan kerangka panduan yang riil. Untuk ranah gender dan seksualitas, segala pertanyaan mengenai hasrat dan hubungan seks serta hal-hal terkait dinavigasikan seputar istilah syahwat, fahisyah (perbuatan kotor), farj (organ seksual), bud’ (genitalia; hubungan seks), liwath (sodomi), ma’bun (resipien tindakan sodomi), harth (penyemaian), nikah, nasl (garis keturunan), ‘iffa (penundukan syahwat), dan lain-lain yang kesemuanya sejatinya memiliki padanan pada masyarakat dan zaman manapun.

Penggunaan istilah-istilah riil dalam Islam dibutuhkan karena yang akan dinilai mestilah hal-hal riil pula. Sebagai contoh, laki-laki lajang Muslim diperintahkan untuk menundukkan syahwatnya, termasuk menjauhkan pikirannya dari hal-hal cabul. Akan tetapi, kecenderungan seorang lajang untuk terus-menerus berpikir tentang melakukan zina tidak serta-merta menjadikannya seorang pezina sebelum ia benar-benar berzina. Demikian pula hasrat laki-laki untuk melakukan hubungan seks sesama-jenis tidak menjadikannya seorang luthi (pelaku sodomi) apabila tidak diikuti dengan tindakan sodomi. Sampai di sini, jelaslah bahwa hukum Islam membedakan antara ketertarikan sesama-jenis dengan perbuatan sesama-jenis. Istilah “homoseksual” yang terlalu kabur pemaknaannya justru tidak perlu (atau tidak boleh) dimaksukkan ke dalam taksonomi hukum Islam (karena dapat menimbulkan kerancuan). Meskipun Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak secara spesifik memakai istilah-istilah yang digunakan di zaman modern terkait wacana “homoseksualitas” atau “orientasi seksual,” bukan berarti kedua sumber hukum utama Islam itu tidak memiliki doktrin normatif terkait substansi yang terkandung dalam istilah-istilah modern tersebut.

Dalam pandangan para advokat gerakan LGBT secara umum, homoseksualitas perlu berangkat dari patologisasi serta stigmatisasi menuju afirmasi dan selebrasi. Sedangkan dalam Islam, segala kecenderungan kepada hal-hal yang dinilai buruk atau kotor harus ditundukkan lewat cara-cara yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Gerakan-gerakan LGBT hingga saat ini jelas berusaha mendapatkan pembenaran untuk segala perbuatan sesama-jenis. Jangankan untuk hal-hal yang dalam Islam dinilai sekedar haram tanpa hukuman tertentu (misalnya, Madzhab Syafi’i melarang memandangi pemuda tampan yang belum dewasa alias amrad); untuk soal sodomi saja mereka berusaha mendapatkan pembenaran lewat nas-nas agama. Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam bukan saja tidak boleh menyesuaikan ajarannya dengan temuan-temuan modern dalam ranah gender dan seksualitas; Islam justru perlu menghadang hingga memusnahkan produk-produk sistem sekuler di bidang akademis, politis, maupun sosial yang sesat dan menyesatkan menurut penilaian Islam, demi menyelamatkan umat manusia dari terjungkir-baliknya pola pikir dan perilaku.

Argumen 6: Al-Qur’an tidak menyatakan bahwa kisah kaum Nabi Luth harus dijadikan pertimbangan dalam penarikan hukum terhadap perbuatan seks sesama-jenis.

Al-Qur’an juga tidak secara eksplisit menyebutkan hukuman-hukuman untuk pemerkosaan, inses, bestiality, nekrofilia, ataupun perbuatan-perbuatan seks lain yang secara konsensus disepakati oleh para ‘ulama sebagai tindakan-tindakan amoral yang dilarang. Sama halnya Al-Qur’an memerintahkan orang Islam untuk sholat, namun tidak secara spesifik menjabarkan gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan dalam sholat. Untuk memahami hukum Islam, diperlukan referensi-referensi keilmuan yang jauh lebih luas ketimbang pembacaan sepintas atas ayat-ayat Al-Qur’an.

Argumen 7: Hubungan seksual sesama-jenis dilarang pada masa Nabi Luth karena jumlah manusia saat itu masih sedikit, padahal reproduksi diperlukan agar manusia dapat memakmurkan bumi. Kini, jumlah manusia sudah terlalu banyak, sehingga populasi harus ditekan, dan hubungan sesama-jenis merupakan salah satu population control yang efektif.

Argumen ini tidak terdapat dalam esai yang menjadi sumber saduran argumen-argumen lain dalam tulisan ini. Akan tetapi, saya menemukan hal tersebut disampaikan dalam pengantar sebuah jurnal yang diterbitkan oleh salah satu universitas Islam di Yogyakarta. Argumen ini lemah untuk setidaknya dua hal. Pertama, tidak ada yang dapat memastikan jumlah manusia di muka bumi pada zaman Nabi Luth ‘Alayhis salaam, sehingga tidak dapat dibuktikan bahwa jumlahnya saat itu memang masih sedikit. Kedua, argumen ini tidak (bisa) didukung oleh nas manapun dalam sumber-sumber hukum Islam. Apabila hubungan (seksual) sesama-jenis dianggap lewat sudut pandang agama sebagai population control yang efektif, maka itu tak jauh beda dengan mengatakan bahwa zina diperbolehkan apabila menggunakan alat kontrasepsi.

Argumen 8: Al-Qur’an menyebutkan bahwa kaum Nabi Luth dihukum bukan secara spesifik karena tindakan seksual sesama-jenis, melainkan karena “menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan.”

Di dalam Al-Qur’an, cuplikan kisah Nabi Luth ‘Alayhis salaam muncul sebanyak sembilan kali dalam 76 ayat. Apabila dirinci, maka kesembilan cuplikan itu terdapat pada: Surat al-A’raf ayat 80-84; Surat Hud ayat 77-83; Surat al-Hijr ayat 57-77; Surat al-Anbiya’ ayat 74-75; Surat asy-Syuara’ ayat 160-175; Surat an-Naml ayat 54-58; Surat al-‘Ankabut ayat 28-35; Surat ash-Shaffat ayat 133-136; dan Surat al-Qamar ayat 33-40.

Dari kesembilan cuplikan itu, tiga di antaranya (al-Anbiya’, ash-Shaffat, dan al-Qamar) tidak menyebutkan perihal tindakan seksual sesama-jenis, melainkan penjelasan singkat tentang Nabi Luth sebagai hamba yang sholeh dan gambaran kezaliman umatnya secara umum. Selebihnya, pemaparan perbuatan seksual sesama-jenis disampaikan pada enam cuplikan. Dari enam kali itu, tiga kali hal tersebut disampaikan secara eksplisit lewat kata-kata Nabi Luth ‘Alayhis-salaam (pada al-A’raf, asy-Syuara’, dan an-Naml), dengan redaksi: “kamu mendatangi lelaki (ta’tuna ar-rijal/adz-dzukran) untuk melepaskan nafsumu, bukan kepada perempuan.” Ada pula penyampaian yang implisit, yakni ketika Nabi Luth menghadapi orang-orang di luar rumahnya dan ia meminta mereka mempertimbangkan untuk mengambil putri-putrinya (sering ditafsirkan sebagai gadis-gadis dari sukunya) sebagai pasangan, karena hal itu lebih “suci” bagi mereka (ketimbang melepaskan nafsu pada sesama lelaki).

Dari enam kali penyebutan hal perbuatan seksual sesama-jenis, hanya satu kali terdapat tambahan “menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan,” yakni pada Surat al-Ankabut. Dengan demikian, argumen bahwa kaum Nabi Luth dihukum bukan secara spesifik karena tindakan seksual sesama-jenis melainkan karena kejahatan-kejahatan selain itu adalah argumen yang sangat lemah.

Argumen 9: Dikisahkan malaikat dalam wujud lelaki-lelaki tampan bertamu ke rumah Nabi Luth, dan kaum Luth hendak memperkosa mereka. Boleh jadi sebenarnya perbuatan seks sesama-jenis diperbolehkan dalam Islam apabila tidak diiringi dengan kekerasan atau pemaksaan. Mungkin kaum Luth tidak akan diadzab apabila mereka tidak berniat memperkosa tamu-tamu Nabi Luth tersebut.

Mari amati keenam cuplikan kisah Nabi Luth ‘Alayhis salaam di mana perbuatan seksual sesama-jenis disebutkan. Di sana, Nabi Luth berkali-kali memperingatkan kaumnya tentang perbuatan amoral (fahisyah) yang belum pernah dilakukan oleh manusia mana pun sebelum mereka, yakni mendatangi lelaki (ta’tuna ar-rijal/adz-dzukran) untuk melepaskan nafsu (syahwat). Kata-kata dalam bahasa Arab tersebut tidak memiliki konotasi kekerasan.

Al-Qur’an memiliki banyak kosakata yang mengindikasikan kekerasan atau pemaksaan, namun tidak ada satu pun dari kata-kata itu yang digunakan untuk menggambarkan “homoseksualitas” kaum Luth. Tanpa adanya kata-kata berkonotasi kekerasan pun, Allah lewat Nabi Luth ‘Alayhis salaam sudah menjuluki kaum tersebut sebagai “kaum yang melampaui batas,” dan segala sesuatu yang melampaui batas merupakan kejahatan yang layak mendapatkan hukuman. Boleh jadi, niat mereka untuk mengganggu tamu-tamu Nabi Luth adalah “batas” terakhir sebelum kaum tersebut benar-benar dihancurkan.

Advertisements

One thought on “Islam Izinkan Homoseksualitas? Sejumlah Argumen & Bantahannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s