“Kafir” dan Para Moyang

red-1746269_960_720

Pada suatu ketika, saya dihadapkan pada pertanyaan yang membuat limbung. Banyak orang Indonesia sepertinya bisa turut bingung, sedih, atau marah bila dihadapkan pada pertanyaan serupa: “Apakah kamu berani menyebut nenek moyangmu ‘kafir’?” Apapun emosi yang muncul pada diri Anda akibat pertanyaan tersebut, bagi saya tanggapan terbaik harus keluar dari pemikiran yang berdasar(kan ajaran agama), yang dengan demikian memiliki argumen-argumen yang santun. Sebab, apabila ditanya demikian seolah-olah sedang sekedar ngobrol di warung kopi, maka lebih baik saya diam. Kini, lewat tulisan, saya menjawab.

Sesuai tebakan Anda, pertanyaan menohok tadi muncul akibat segala persoalan yang berkelindan seputar Ahok. Slogan “Haram Pemimpin Kafir” digaungkan oleh sebagian kalangan Islam karena tuntutan amar ma’ruf nahi munkar, khususnya dalam mengajak umat Islam untuk belajar menerapkan hukum yang lima dalam kehidupan sehari-hari, yakni halal, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Tiap hukum memiliki landasan, dan tentu saja Muslim — yakni orang-orang yang mengharapkan keselamatan sebagai anugrah dari Allah SubhanaHu-wa-ta’ala — melandaskan penerapan hukum yang lima tadi terutama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan umumnya lewat jalur-jalur pemikiran para ‘ulama dan fuqaha, bukan pada percakapan a la warung kopi (kecuali kalau memang mau dipelajari di warung kopi).

Landasan “Haram Pemimpin Kafir” telah banyak dijabarkan oleh orang-orang yang mumpuni dalam hal fiqh. Maka izinkan saya langsung menuju pada masalah yang sedari awal saya sasar dalam tulisan ini. Perlu kita teliti apa yang hendak di-hukum-i di sini, dan bagi saya rumusan pertanyaannya bukan “Apa hukumnya menyebut nenek moyang sebagai ‘kafir’?” melainkan “Apa hukumnya mengungkit-ungkit agama/kepercayaan orang yang telah mati?”

Sebuah contoh yang pas datang dari kisah tentang ‘Ikrimah bin Abu Jahal. Di dalam kitab Usud al-Ghabah karya Ibnu al-Atsir dikisahkan bahwa ketika ‘Ikrimah masuk Islam, banyak orang berkata, “Wah, ini dia anak dari musuh Allah, Abu Jahal.” Ucapan ini menyakiti hati ‘Ikrimah, hingga ia pun mengadukan hal tersebut kepada RasuluLlah ShallaLlahu-‘alayHi-wa-sallam, hingga beliau bersabda, “Janganlah kalian mencela ayahnya karena mencela orang yang sudah mati akan menyakiti orang yang masih hidup” — maksudnya, menyakiti perasaan keluarganya yang masih hidup.

Lebih jelas lagi, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah RadhiaLlahu-‘anha, ia berkata, “Nabi ShallaLlahu-‘alayHi-wa-sallam bersabda, ‘Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah mati, karena mereka itu sudah sampai kepada apa yang telah mereka lakukan” (H.R. al-Bukhariy).

Maka kini saya bertanya balik. Mengapa kami — yakni orang-orang Islam di Indonesia yang mendiang kakek, nenek, dan leluhurnya belum mengenal Islam, belum diajak masuk Islam, atau belum paham kenapa mereka harus masuk Islam — seolah disudutkan untuk menjatuhkan predikat “kafir” kepada mereka yang telah mendahului kami dalam ajal? Sementara itu, yang menjadi pokok persoalan adalah menerapkan salah satu dari hukum Islam yang lima pada seseorang yang masih hidup dan notabene mengincar jabatan vital bagi kepentingan dunia dan akhirat orang banyak. Statement versi warung kopinya barangkali begini: Yang ngincer jabatan gubernur itu bukan nenek moyang gue lho, jadi nggak usah lu usik-usik! Kalau emang nyolot mempersoalkan nenek moyang gue kafir atau bukan, kayaknya lu aja deh ntar yang berurusan sama mereka di akhirat…

Sampai di sini, ada tiga poin. Pertama, RasuluLlah yang menjadi panutan akhlak kaum Muslim melarang umatnya mengungkit-ungkit keburukan orang yang sudah mati, khususnya demi menjaga perasaan keluarganya. Betul, menyembah selain Allah Ta’ala adalah tercela dalam Islam, namun tidaklah patut cela itu diungkit-ungkit dan diangkat-angkat apabila sifat itu melekat kepada orang-orang yang sudah mati. Come on, ‘Ikrimah yang merupakan anak kandung Abu Jahal saja dibela kok oleh RasuluLlah ShallaLlahu-‘alayHi-wa-sallam. Apakah lantas seseorang dalam garis keluarga saya yang telah meninggal dunia tidak layak mendapatkan pembelaan agar tidak diberi julukan apapun? Kalau memang perlu latar belakang, biarlah kini saya sampaikan: Sebagai penganut kepercayaan nenek moyang, beliau baru sempat mempelajari kitab-kitab berbagai agama dan sebelum wafat meminta keluarganya memilih salah satu agama “resmi” (versi Orba). Setahu saya demikian.

Poin kedua, yang berhak menghukumi orang yang sudah mati adalah Penciptanya. Ini bisa ditarik dari (potongan) hadits tadi: “Mereka itu sudah sampai kepada apa yang telah mereka perbuat.” Maksud yang saya tangkap adalah, biarlah Allah yang memberi ganjaran atas amal perbuatan yang telah mereka lakukan semasa hidup.

Ketiga, pertanyaan semacam itu membuat saya teringat pada kisah mengenai sekelompok orang dalam lingkaran Mu’tazilah yang seolah-olah begitu tidak produktif sampai-sampai mereka mengajukan pertanyaan yang super-tidak-etis berikut ini: “Orang tua RasuluLlah berada di surga atau di neraka?” Ada sih sebagian ulama yang kemudian berupaya untuk memberikan jawaban-jawaban berdasarkan dalil-dalil. Namun bagi saya yang sepertinya sudah rada nJawani ini, cukuplah saya berkata: Ngono yo ngono, ning mbok yo ojo ngono.

Apakah “mbok yo ojo ngono” juga bisa diutarakan untuk urusan Ahok? Ya, kalau dia sudah wafat; apabila demikian maka sebaiknya tak usah mengusik-usik urusan apa/siapa yang dia sembah. Tapi sekarang, selama yang dia sembah sepertinya adalah thagut kekuasaan yang mengutamakan segelintir orang, ditambah lagi ia telah mengeluarkan pernyataan yang melecehkan Al-Qur’an, maka tidak bisa tidak saya harus bertanya lagi: Sudah sedemikian tertutupkah mata hati Anda terhadap Islam, sehingga orang-orang yang membela agamanya sendiri pun harus Anda usik nenek moyangnya yang sudah berada di alam barzakh sana? Jika memang demikian adanya, maka ketahuilah bahwa “kafir” itu sendiri menurut asal katanya dalam bahasa Arab bermakna “tertutup.” Your choice.

(Ditulis oleh cucu moyang yang sudah gerah, namun pada akhirnya cuma bisa bilang: WaLlahu a’lam bis-showab.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s