Latar Sejarah Surah Al-Hasyr

Dicuplik dari tafsir karya Sayyid Abul A’la Maududi, Tafhim Al-Qur’an, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris di englishtafsir.com. Tulisan ini hasil terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, sehingga kemungkinan perbaikan-perbaikan sangatlah terbuka. Menurut penerjemah, pemahaman akan latar sejarah Surah Al-Hasyr berguna untuk membaca pengulangan pola kezaliman orang-orang Yahudi, khususnya di bidang ekonomi. Dengan kelicikannya, mereka telah menjerat umat manusia ke dalam hutang-hutang perbankan di masa kini. Hal tersebut merupakan pengulangan dari tipu daya mereka, lewat hutang dan riba, dalam menyengsarakan masyarakat Madinah di era pra-RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam. Pada masa ini, efek dari jebakan-jebakan ekonomi serupa telah merusak secara lebih luas, lebih dalam, dan lebih keji. Dengan mengikuti langkah-langkah tegas yang dicontohkan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam, insya-Allah kerusakan-kerusakan itu dapat diperbaiki oleh orang-orang yang beriman. Semoga pemahaman lebih mendalam akan surah ini dapat membantu membawa Umat Islam kepada kejayaan di atas kehancuran para musuh Allah — amin!

indian-ruins-1340325_960_720

59. Surah Al-Hasyr (Pengusiran)

Judul

Surah ini beroleh judul dari penyebutan “al-hasyr” dalam ayatnya.

Periode Wahyu

Bukhari dan Muslim mencantumkan hadits dari Hadhrat Sa’id bin Jubair: “Ketika aku menanyai Hadzrat AbduLlah bin Abbas tentang Surah Al-Hasyr, ia menjawab bahwa [surah itu] diturunkan terkait perang melawan Bani an-Nadir, sebagaimana Surah Al-Anfal diturunkan terkait Perang Badr.” Dalam hadits lain dari Hadzrat Sa’id bin Jubair, kata-kata yang dikutip dari Ibnu Abbas (RadhiaLlahu ‘anhu) adalah, “Qul, ‘Surah an-Nadir’.” (Katakan bahwa itu Surah an-Nadir). Hal serupa disampaikan oleh Mujahid, Qatadah, Zuhri, Ibnu Zaid, Yazid bin Ruman, Muhammad bin Ishaq, dan lain-lain. Mereka bersepakat bahwa para ahli kitab yang dinyatakan diusir di dalam [surah ini] adalah Bani an-Nadir. Yazid bin Ruman, Mujahid, dan Muhammad bin Ishaq telah menyatakan bahwa keseluruhan surah ini, dari awal hingga akhir, diwahyukan terkait perang tersebut.

Soal kapan perang itu berlangsung, Imam Zuhri telah menyatakan berdasarkan keterangan Urwah bin Zubair bahwa [perang itu] terjadi enam bulan setelah Perang Badr. Namun Ibnu Sa’d, Ibnu Hisyam, dan Baladhuri menganggapnya sebagai peristiwa pada Rabi’ al-Awwal tahun 4 Hijriyah. Itu sama saja, karena semua hadits membenarkan bahwa perang ini terjadi setelah peristiwa Bir Ma’unah, dan diketahui betul dalam sejarah bahwa peristiwa Bir Ma’unah terjadi setelah Perang Uhud, dan bukan sebelumnya.

Latar Sejarah

Untuk memahami dengan baik subjek utama surah ini, perlu dilihat sejarah para Yahudi di Madinah dan Hijaz, karena tanpa memahaminya maka pembaca tidak bisa betul-betul mengetahui alasan-alasan sesungguhnya di balik cara-cara yang ditempuh oleh RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam dalam menghadap suku-suku [Yahudi] tersebut.

Tidak ada sumber sejarah yang sahih mengenai eksistensi Yahudi Arab. Mereka tidak meninggalkan tulisan mereka sendiri dalam bentuk buku ataupun plakat yang dapat memberi gambaran mengenai masa lalu mereka, serta belum pernah pula para sejarawan Yahudi ataupun penulis-penulis non-Arab menyinggung perihal mereka, sebab setelah menetap di jazirah Arab mereka melepaskan diri dari kelompok utama bangsa mereka, dan para Yahudi dunia tidak memperhitungkan mereka sebagai bagian dari kumpulan. Mereka meninggalkan budaya dan bahasa serta nama-nama Ibrani, dan mengadopsi Arabisme. Dalam plakat-plakat yang telah digali pada riset arkeologis di Hijaz, tidak ada jejak Yahudi yang ditemukan dari periode sebelum abad pertama era Kristen, kecuali untuk sedikit nama Yahudi. Maka dari itu, sejarah Yahudi Arab umumnya didasarkan pada tradisi lisan yang lazim bagi orang-orang Arab, dan kebanyakan dari [sejarah lisan] itu disebarluaskan oleh para Yahudi itu sendiri.

Para Yahudi di Hijaz menyatakan bahwa mereka telah datang untuk menetap di Arabia pada tahap akhir kehidupan Nabi Musa (‘alayhissalam). Mereka menyebutkan bahwa Nabi Musa mengutus sekelompok tentara untuk mengusir suku Amalek dari tanah Yatsrib dan memerintahkan mereka untuk tidak menyisakan satu jiwa pun dari suku tersebut. Para tentara Israel itu pun menjalankan perintah Sang Nabi, akan tetapi membiarkan hidup anak dari kepala suku Amalek, seorang pangeran tampan yang malah dibawa kembali ke Palestina. Pada saat itu Nabi Musa telah wafat. Penerus-penerus beliau sangat berkeberatan terhadap perbuatan para tentara itu, karena dengan membiarkan seseorang dari suku Amalek tetap hidup mereka telah jelas-jelas ingkar pada Sang Nabi dan melanggar Hukum Musa. Sebagai akibatnya, mereka mengeluarkan para tentara itu dari komunitas mereka, hingga mereka harus kembali ke Yatsrib dan menetap di sana selama-lamanya (Kitab al-Aghani, vol. xix, hal. 94). Maka orang-orang Yahudi pun mengklaim bahwa mereka telah hidup di Yatsrib sejak sekitar 1.200 SM. Tapi klaim ini tidak memiliki dasar sejarah dan bisa jadi para Yahudi telah mengarang cerita tadi demi memukau orang-orang Arab agar percaya bahwa mereka berasal dari garis keturunan terpandang dan merupakan penghuni awal tanah tersebut.

Imigrasi kedua bangsa Yahudi, menurut orang-orang Yahudi, terjadi di tahun 587 SM ketika Nebukadnezar, raja Babilonia, menghancurkan Yerusalem dan mencerai-beraikan para Yahudi ke segala penjuru. Para Yahudi Arab mengatakan bahwa sebagian dari suku-suku mereka pada saat itu datang untuk menetap di Wadi al-Qura, Taima, dan Yatsrib (Al-Baladhuri, Futuh al-Buldan). Namun ini pun tidak ada bukti sejarahnya. Dan dengan pernyataan ini pula mereka barangkali hendak membuktikan bahwa merekalah penghuni-penghuni awal kawasan itu.

Yang sesungguhnya terbukti adalah bahwasanya pada tahun 70 M, orang-orang Romawi membantai para Yahudi di Palestina, dan kemudian pada 132 M mengusir mereka dari tanah tersebut. Banyak dari suku-suku Yahudi melarikan diri mencari suaka di Hijaz, sebuah kawasan yang berbatasan dengan sisi selatan Palestina. Di sana, mereka menetap di mana pun mereka menemukan mata air dan rerumputan, dan lantas lewat intrik dan bisnis peminjaman uang mereka berangsur-angsur menguasai tanah-tanah subur itu. Ailah, Maqna, Tabuk, Taima, Wadi al-Qura, Fadak, dan Khaibar jatuh ke dalam kontrol mereka pada periode tersebut, dan Bani Quraizah, Bani an-Nadir, Bani Nahdal, dan Bani Qainuqa juga datang pada periode yang sama dan menguasai Yatsrib.

Di antara suku-suku yang menetap di Yatsrib, Bani an-Nadir dan Bani Quraizah paling menonjol karena berasal dari kelas Cohen atau pendeta. Mereka dihormati sebagai keturunan orang-orang terpandang dan menjadi pemimpin di tengah-tengah kalangan yang mengikuti ajaran agama. Sewaktu tiba untuk menetap di Madinah, sudah ada suku-suku yang tinggal di sana, yang lantas mereka tundukkan sampai mereka betul-betul menjadi para pemilik tanah hijau nan subur ini. Kira-kira tiga abad kemudian, pada 450 atau 451 M, terjadilah banjir besar Yaman sebagaimana disebutkan pada ayat 16-17 Surah Saba. Akibatnya, berbagai suku dari penghuni Saba terpaksa meninggalkan Yaman dan menyebar di berbagai bagian Arabia. Maka Bani Ghassan berangkat untuk menetap di Syria, Bani Lakhm di Hirah (Iraq), Bani Khuza’ah di antara Jeddah dan Makkah, dan Bani Aus serta Bani Khazraj pergi dan menetap di Yatsrib.

Karena Yatsrib berada di bawah dominasi orang-orang Yahudi, pada awalnya orang-orang Aus dan Khazraj tidak diizinkan berada di sana. Kedua suku Arab itu pun menetap di lahan-lahan yang belum diolah untuk bercocok tanam, yang sulit untuk memberi hasil demi mencukupi mereka agar dapat bertahan hidup. Akhirnya salah satu pemimpin mereka berangkat ke Syria untuk meminta bantuan saudara-saudara mereka dari suku Ghassan. Ia membawa sekelompok tentara dari sana dan memecah kekuasaan orang-orang Yahudi. Maka orang-orang Aus dan Khazraj pun memperoleh dominasi atas Yatsrib, dan akibatnya dua dari suku-suku besar Yahudi, yakni Bani an-Nadir dan Bani Quraizah, terpaksa berdiam di luar kota tersebut. Suku ketiga yakni Bani Qainuqa tidak akur dengan dua suku tadi, sehingga bisa tinggal di dalam kota sebagaimana biasa, meski harus meminta perlindungan dari suku Khazraj. Sebagai langkah tandingan, Bani an-Nadir dan Bani Quraizah lantas meminta perlindungan dari suku Aus agar mereka dapat hidup dengan aman di pinggiran Yatsrib.

Sebelum RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam hijrah ke Madinah, inilah ciri-ciri utama posisi orang-orang Yahudi di Hijaz pada umumnya, dan di Yatsrib pada khususnya:

  1. Dalam hal bahasa, pakaian, adab, dan cara hidup, mereka telah sepenuhnya mengadopsi Arabisme, hingga nama mereka pun bercorak Arab. Dari ke-12 suku Yahudi yang menetap di Hijaz, hanya Bani Zaura saja yang mempertahankan nama Ibrani-nya. Tidak ada yang menguasai bahasa Ibrani kecuali beberapa cendekiawan yang hidup tersebar. Bahkan tidak ada pada puisi para penyair Yahudi di zaman pra-Islam yang membedakannya dengan puisi-puisi para penyair Arab dalam hal bahasa, ide, dan tema. Mereka juga menikah dengan orang-orang Arab. Maka tidak ada yang membedakan mereka dari orang-orang Arab pada umumnya kecuali agama. Tanpa mengesampingkan ini, mereka tidak kehilangan identitas mereka di antara orang-orang Arab dan mempertahankan pengagungan ke-Yahudi-an mereka dengan teramat kukuh dan membara. Mereka mengadopsi Arabisme pada kulitnya saja karena tanpa itu mereka tidak bisa bertahan.
  1. Akibat Arabisme ini, para orientalis dari Barat telah disesatkan hingga berpikir bahwa barangkali mereka bukanlah orang-orang Israel melainkan orang-orang Arab yang telah menganut Yahudi, atau setidaknya kebanyakan dari mereka terdiri dari para Yahudi Arab. Namun tidak ada bukti historis yang menunjukkan bahwa para Yahudi melakukan ajakan-ajakan untuk menganut Yahudi di Hijaz, dan tak pula para rabbi mereka mengundang orang-orang Arab untuk masuk Yahudi sebagaimana yang dilakukan para pendeta dan misionaris Kristen. Sebaliknya, kita justru melihat bahwa mereka membanggakan garis keturunan Israel dan mengagung-agungkan ras mereka. Mereka menganggap orang-orang Arab sebagai gentile, yang bukan berarti buta-huruf atau tak terdidik melainkan orang-orang buas dan tak beradab. Mereka percaya bahwa para gentile tidak memiliki hak asasi apapun, sebab hak-hak itu hanya dimiliki oleh bangsa Israel, dan karena itu orang-orang Israel halal dan berhak untuk mengambil alih kekayaan mereka dengan cara apapun, baik ataupun buruk. Terkecuali para kepala suku Arab, mereka menganggap kebanyakan orang Arab tak cukup pantas untuk memiliki status yang setara dengan mereka, meski masuk agama Yahudi sekalipun. Memang ada penyebutan khusus bagi individu-individu yang masuk agama Yahudi. Akan tetapi orang-orang Yahudi lebih tertarik pada urusan jual-beli dan bisnis ketimbang mendakwahkan agama mereka. Itulah mengapa Yahudi tidak berkembang sebagai agama dan syariat di Hijaz, namun tersisa sebagai simbol kebanggaan dan keistimewaan bagi beberapa suku Israel semata. Akan tetapi, para rabbi Yahudi menikmati bisnis penyediaan jimat dan guna-guna, ramal-meramal, serta sihir, sehingga mereka dikeramatkan oleh orang-orang Arab karena “ilmu” dan petuah-petuah mereka.
  1. Secara ekonomi mereka jauh lebih kuat daripada orang-orang Arab. Karena mereka bermigrasi dari kawasan-kawasan Palestina dan Syria yang berperadaban tinggi dan maju secara kebudayaan, mereka menguasai kesenian-kesenian yang tidak lazim bagi orang-orang Arab. Mereka juga menikmati hubungan jual-beli dengan dunia luar. Tak heran, mereka menguasai bisnis impor gandum di Yatsrib dan area utara Hijaz, serta mengekspor kurma kering ke kawasan-kawasan lain. Peternakan unggas dan perikanan pada umumnya berada di bawah kontrol mereka, yang juga pandai dalam hal menenun. Di sana-sini, mereka membuka kedai-kedai khamr yang diimpor dari Syria. Bani Qainuqa pada umumnya mempraktikkan keterampilan-keterampilan semisal pertukangan emas dan besi serta pembuatan bejana. Lewat semua profesi, jual-beli, dan bisnis ini para Yahudi memperoleh keuntungan yang luar biasa, akan tetapi kesibukan utama mereka ada pada urusan pinjam-meminjam uang yang mereka jeratkan pada orang-orang Arab di kawasan-kawasan sekitar, terutama kepada para kepala dan tetua suku-suku Arab yang terbiasa hidup megah. Mereka menyebarkan bualan-bualan penuh kebanggaan terkait uang pinjaman. Tak hanya meminjamkan uang dengan bunga tinggi, mereka menerapkan pula sistem bunga di atas bunga, sehingga para peminjam akan sulit lepas dari utang jika sudah terlibat di dalamnya. Dengan demikian, mereka telah menjadikan orang-orang Arab kopong secara ekonomi, dan sewajarnya pula sebentuk kebencian yang mendalam terhadap mereka tertanam di antara orang-orang Arab pada umumnya.
  1. Jual-beli dan kepentingan-kepentingan bisnis mereka menuntut agar mereka tak meminggirkan satu suku Arab dan berteman dengan yang lainnya, namun tidak pula ambil bagian dalam peperangan suku-suku Arab itu. Di sisi lain, mereka pun berkepentingan agar orang-orang Arab tidak bersatu dan justru saling berperang dalam kubu-kubu, sebab mereka tahu bahwa jika suku-suku Arab bersatu, persatuan itu takkan membiarkan orang-orang Yahudi tetap menguasai berbagai macam bangunan, kebun-kebun, serta lahan-lahan subur yang telah mereka caplok lewat bisnis jual-beli dan pinjam-meminjam. Namun pada akhirnya masing-masing suku Yahudi itu terpaksa bersekutu dengan satu atau lebih suku Arab yang kuat, demi perlindungan agar suku kuat lain tak bisa menyainginya. Akibatnya, tak saja mereka harus terlibat dalam perang-perang antarsuku Arab, seringkali mereka harus terjun langsung juga ke medan perang bersama suku Arab yang mereka dukung melawan suku Yahudi lain yang mendukung suku Arab lain pula. Di Yatsrib, Bani Quraizah dan Bani an-Nadir merupakan sekutu dari Suku Aus, sedangkan Bani Qainuqa bersekutu dengan Suku Khazraj. Tak lama sebelum RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam datang, suku-suku Yahudi ini berjibaku satu sama lain mendukung sekutu mereka masing-masing dalam perang berdarah yang terjadi antara Aus dan Khazraj di Buath.

Demikianlah kondisinya ketika Islam datang ke Madinah, hingga kemudian Daulah Islamiyah terwujud setelah hadirnya RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam di sana. Salah satu hal yang pertama kali beliau adakan setelah mewujudkan daulah ini adalah menyatukan suku Aus dan Khazraj sekaligus para Muhajirin ke dalam satu jalinan persaudaraan, dan hal berikutnya adalah membuat perjanjian di antara para Muslim dan Yahudi dengan syarat-syarat yang mengikat, yang di dalamnya tercantum bahwa tak satu pihak pun boleh melanggar hak-hak pihak lain, dan kedua belah pihak harus bersatu dalam sebuah kekuatan pertahanan melawan musuh-musuh di luar lingkup perjanjian. Beberapa pasal penting dalam Piagam Madinah adalah sebagai berikut, yang jelas-jelas menunjukkan apa saja yang mesti dipatuhi oleh para Yahudi dan kaum Muslim dalam hubungan mereka:

“Orang-orang Yahudi harus mengeluarkan biaya perbelanjaannya sendiri, dan orang-orang Muslim mengeluarkan biaya perbelanjaannya sendiri pula. Masing-masing pihak harus membantu satu sama lain melawan siapapun yang menyerang anggota-anggota dalam dokumen ini. Keduanya harus saling meminta saran dan bermusyawarah, dan kesetiaan merupakan penangkal dari pengkhianatan. Mereka harus mengharapkan kebaikan satu sama lain. Hubungan mereka akan diatur berdasarkan kepatuhan dan kesadaran terhadap hak-hak orang lain, dan bukan oleh dosa maupun kezaliman. Orang-orang yang dizalimi harus ditolong; Orang-orang Yahudi harus turut membayar bersama para mukmin selama perang masih berlangsung; Yatsrib merupakan suaka bagi anggota-anggota dalam dokumen ini; Apabila terdapat kemungkinan munculnya perselisihan atau kontroversi, urusan tersebut harus diserahkan kepada Allah dan kepada Muhammad Rasul Allah; Orang-orang Quraisy dan orang-orang yang menolong mereka tidak akan diberikan perlindungan. Pihak-pihak yang mengikat perjanjian diwajibkan untuk menolong satu sama lain melawan serangan atas Yatsrib; Setiap orang memiliki porsi tugas masing-masing sesuai arahan pihak yang ia turuti” (Ibnu Hisyam, vol. ii, pp. 147-150).

Inilah perjanjian yang absolut dan pasti, dan terhadap syarat-syaratnya para Yahudi telah bersetuju. Namun tak lama setelah itu, mereka mulai menunjukkan permusuhan terhadap RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam, Islam, serta kaum Muslim, dan permusuhan serta sikap keras kepala mereka meningkat dari hari ke hari. Ada tiga penyebabnya:

Pertama, mereka menganggap RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam sebagai pemimpin kelompoknya saja, dan ia semestinya cukup bangga karena telah melakukan perjanjian dengan mereka dan sepatutnya menyibukkan diri dengan kepentingan-kepentingan duniawi kelompoknya semata. Namun mereka menemukan bahwa ia menyampaikan panggilan keimanan kepada Allah, Kerasulan, dan Al-Qur’an (yang menyertakan kepercayaan terhadap rasul-rasul dan kitab-kitab dari kalangan mereka), dan mendorong orang-orang untuk meninggalkan ketidakpatuhan terhadap Allah dan merangkul ketaatan terhadap Syariat Ilahi serta mematuhi aturan-aturan moral yang telah disampaikan rasul-rasul mereka dahulu. Mereka tidak bisa menerima keadaan tersebut. Mereka takut bahwa apabila gerakan ideologis universal ini meraih momentum, maka keagamaan mereka yang kaku akan hancur dan kebangsaan-berdasarkan-ras mereka pun terhapus.

Kedua, mereka melihat bahwa suku Aus dan Khazraj dan para Muhajirin bersatu dalam sebuah persaudaraan. Dan orang-orang dari berbagai suku Arab di wilayah-wilayah sekitar pun memeluk Islam, bergabung dalam Ukhuwah Islamiyah Madinah, untuk lantas membentuk suatu komunitas keagamaan. Mereka pun takut bahwa kebijakan-kebijakan mereka yang seenak-jidat, yang telah menyemai permusuhan di antara suku-suku Arab demi keuntungan dan kepentingan mereka sendiri selama berabad-abad, tidak akan berjalan dalam sistem yang baru tersebut. Mereka bisa jadi menghadapi satu barisan bangsa Arab, dan menghadapi barisan ini intrik-intrik dan akal bulus mereka takkan berhasil.

Ketiga, langkah-langkah yang diambil oleh RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam dalam mereformasi masyarakat dan peradaban melibatkan penghapusan metode-metode ilegal dalam bisnis dan transaksi. Tak hanya itu, ia telah mengumumkan bahwa mengambil dan menyerahkan bunga/riba termasuk perbuatan yang keji dan ilegal. Maka para Yahudi pun takut bahwa jika beliau berkuasa di seantero Arabia, beliau akan menetapkan aturan yang merata bahwa riba haram secara hukum, dan mereka melihat hal itu sebagai kehancuran bahkan kematian bagi perekonomian mereka.

Dengan alasan-alasan inilah mereka menjadikan penolakan dan perlawanan terhadap RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam sebagai idealisme kebangsaan mereka. Mereka tak ragu menggunakan tipu daya dan akal bulus apapun untuk menyakiti beliau. Mereka menyebarkan bermacam-macam kebohongan demi memunculkan ketidakpercayaan dalam pikiran orang-orang terhadap beliau. Mereka menciptakan berbagai keraguan, kecurigaan, dan rasa was-was terhadapnya dalam kalbu para mualaf agar mereka berpaling dari Islam. Bahkan ada pula yang pura-pura memeluk Islam, kemudian sengaja murtad, agar kian besar kesalahpahaman yang hadir di tengah-tengah masyarakat terhadap Islam dan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam. Mereka pun bersekongkol dengan para munafiqin untuk menciptakan kerusakan-kerusakan, dan bekerjasama dengan tiap kelompok dan suku yang membenci Islam. Mereka bahkan menciptakan keretakan-keretakan di antara para Muslim, dan rela melakukan apapun demi menghasut mereka ke dalam amarah dan perkelahian. Orang-orang suku Aus dan Khazraj merupakan target utama mereka, karena mereka pernah menjadi sekutu berabad-abad lamanya. Dengan mengungkit-ungkit Perang Buath di hadapan mereka, para Yahudi mengingatkan mereka akan perseteruan-perseteruan mereka yang telah lalu, dengan harapan mereka akan kembali mengangkat pedang terhadap satu sama lain hingga meremukkan persatuan persaudaraan yang telah dibawa oleh Islam.

Mereka juga melancarkan berbagai kecurangan dan penipuan demi mencederai kaum Muslim secara ekonomi. Tiap kali seseorang yang terlibat transaksi bisnis dengan mereka memeluk Islam, mereka akan melakukan apapun agar orang itu mengalami kerugian ekonomi. Jika orang itu berutang pada mereka, maka mereka akan menakut-nakuti dan melecehkannya dengan cara menagih berulang-ulang dalam waktu singkat. Tapi jika mereka berhutang sesuatu kepada orang itu, mereka akan menahan pembayaran dan menyatakan kepada khalayak bahwa pada waktu perjanjian utang dibuat, orang itu belum beragama Islam, dan karena ia masuk Islam maka mereka tak lagi berutang apapun kepadanya. Beberapa contoh semacam ini telah dicantumkan dalam penjelasan atas ayat 75 Surah Ali ‘Imran, dalam komentar-komentar dari Tabari, Nisaburi, Tabrisi, dan dalam Ruh al-Ma’ani. Mereka telah menunjukkan sikap menentang isi Piagam Madinah bahkan sebelum Perang Badr terjadi. Dan ketika RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam dan kaum Muslim menang mutlak atas kaum Quraisy di Badr, orang-orang Yahudi itu pun dipenuhi rasa sedih yang mendalam, kedengkian, serta amarah.

Mereka begitu berharap bahwa dalam Perang Badr, kaum Quraisy dapat memusnahkan kaum Muslim. Sebelum berita kemenangan barisan Islam sampai ke Madinah, orang-orang Yahudi itu menyebarkan rumor bahwa RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam telah gugur sebagai syahid dan kaum Muslim telah ditaklukkan, dan bahwa pasukan Quraisy di bawah Abu Jahl tengah menuju Madinah. Tapi ketika hasil peperangan menjungkirkan harapan-harapan mereka, amarah dan kesedihan mereka pun memuncak. Ka’b bin Ashraf, pemimpin Bani an-Nadir, meneriakkan: “Demi Tuhan, jika Muhammad telah sungguh-sungguh membantai para bangsawan Arabia, maka perut bumi lebih baik bagi kita daripada punggungnya!” Kemudian ia berangkat ke Makkah dan menghasut penduduk di sana untuk membalas dendam dengan cara menulis dan membacakan puisi-puisi provokatif yang dipersembahkan untuk pemuka-pemuka Quraisy yang terbunuh di Badr. Kemudian ia kembali ke Madinah dan mengarang puisi-puisi liris bernada penuh hinaan terhadap perempuan-perempuan Muslim. Pada akhirnya, murka atas kekacauan yang dilakukan orang itu, RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam mengirim Muhammad bin Maslamah Ansari pada Rabi al-Awwal tahun 3 Hijriyah dengan perintah untuk membunuhnya (Ibn Sad, Ibn Hisyam, Tabari).

Setelah Perang Badr, suku Yahudi pertama yang secara terbuka dan berkelompok menarik diri dari perjanjian adalah Bani Qainuqa. Mereka hidup dalam sebuah lingkup di Kota Madinah. Mempraktikkan pertukangan emas, besi, dan gerabah, toko-toko mereka cukup sering dikunjungi oleh penduduk Madinah. Mereka bangga dengan keberanian dan semangat mereka. Sebagai pandai besi, bahkan anak-anak kecil mereka pun dipersenjatai, dan mereka dapat mengumpulkan 700 pasukan perang dari kalangan mereka sendiri. Mereka pun secara pongah memahami bahwa mereka menikmati hubungan persekutuan dengan suku Khazraj, dan AbduLlah bin Ubayy, pemimpin Khazraj, merupakan pendukung utama mereka. Setelah Perang Badr, orang-orang Qainuqa sangat terprovokasi sehingga mereka mulai membuat kekacauan dan melecehkan para Muslim, khususnya kaum perempuan, yang mengunjungi toko-toko mereka. Kejadian demi kejadian berlalu hingga pada suatu ketika seorang perempuan Muslim ditelanjangi di depan umum di pasar mereka. Hal ini berlanjut pada perkelahian di mana seorang Muslim dan seorang Yahudi terbunuh. Karenanya, RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam turun tangan dan mengunjungi lingkungan mereka, mengumpulkan penduduknya, lalu menasehati mereka mengenai akhlak yang baik. Namun tanggapan yang mereka berikan adalah: “O Muhammad, kau mungkin mengira bahwa kami sama seperti orang-orang Quraisy. Mereka tak bisa bertarung; maka, kau pun mengalahkan mereka. Tapi jikalau kau mendatangi kami, kau akan melihat bagaimana lelaki sejatinya bertempur.”

Secara gamblang kata-kata itu merupakan pernyataan perang. Akibatnya, RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam mengepung kawasan mereka di akhir Bulan Syawwal (menurut yang lain di Bulan Dzulqaidah) tahun 2 Hijriyah. Pengepungan ini berlangsung tak sampai dua minggu ketika mereka menyerah dan semua laki-laki petarung mereka diikat dan dijadikan tahanan. Maka hadirlah AbduLlah bin Ubayy untuk mendukung mereka dan mendesak agar mereka diampuni. RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam mengabulkan permintaannya dan memutuskan bahwa Bani Qainuqa akan diusir dari Madinah sekaligus meninggalkan segala bangunan, persenjataan, dan barang-barang dagangan mereka (Ibn Sa’d, Ibn Hisyam, Tarikh Tabari).

Selang beberapa waktu setelah langkah-langkah hukuman dilaksanakan (pengusiran suku Qainuqa dan pembunuhan Ka’b bin Ashraf), orang-orang Yahudi begitu takutnya hingga mereka tak berani melakukan kekacauan lagi. Akan tetapi, pada Syawwal tahun 3 Hijriyah, orang-orang Quraisy yang hendak melancarkan balasan atas kekalahan mereka di Badr berbaris menuju Madinah dengan persiapan yang matang, dan orang-orang Yahudi melihat bahwa hanya ada seribu laki-laki di barisan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam untuk hadapi tiga ribu orang Quraisy, belum lagi dikurangi 300 munafiqin yang berbalik ke Madinah. Mereka melakukan pelanggaran terbuka pertama terhadap isi perjanjian dengan menolak memperkuat barisan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam dalam membela Madinah, meski mereka diwajibkan untuk melakukannya.

Kemudian, ketika pada Perang Uhud kaum Muslim mengalami beberapa kemunduran, mereka pun kian kurang ajar. Sedemikian rupa sampai-sampai Bani an-Nadir diam-diam membuat rencana untuk membunuh RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam, meskipun rencana itu gagal sebelum sempat dijalankan. Menurut rincian, setelah peristiwa Bi’r Maunah (Safar, 4 Hijriyah), sebagai pembalasan Amr bin Umayyah membunuh dua orang secara keliru, karena kedua orang itu ternyata berasal dari Bani Amir yang bersekutu dengan kaum Muslim. Akibat kesalahan ini, kewajiban diyat pun berlaku atas pihak Muslim. Karena Bani an-Nadir merupakan sekutu Bani Amir, RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam pun mendatangi suku tersebut bersama beberapa Sahabat untuk meminta bantuan dalam membayar diyat. Sekilas mereka setuju untuk berkontribusi, sesuai permintaan, namun secara rahasia mereka bersekongkol agar seseorang naik ke atas rumah yang dindingnya bersisian dengan tempat duduknya RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam agar dapat menjatuhkan batu untuk membunuh beliau. Namun sebelum mereka menjalankan rencana ini, beliau menerima informasi mengenai hal tersebut lantas segera bangkit dan kembali ke Madinah.

Maka tidak ada lagi celah untuk memberi mereka kelonggaran. RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam segera mengirimkan ultimatum kepada mereka bahwa pengkhianatan yang telah mereka susun telah beliau ketahui; maka dari itu, mereka harus meninggalkan Madinah dalam waktu sepuluh hari. Siapapun yang masih tinggal di kawasan itu akan dibunuh. Sementara itu, AbduLlah bin Ubayy mengirimkan pesan kepada mereka bahwa ia akan membantu mereka dengan pasukan sebanyak dua ribu orang, dan bahwa Bani Quraizah dan Bani Ghatafan juga akan membantu mereka; maka dari itu mereka sebaiknya tidak beranjak. Dengan berdasar pada jaminan palsu tersebut, mereka mengirimkan jawaban kepada RasulLllah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam dengan menyatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan Madinah, dan beliau dipersilakan melakukan apapun yang dapat beliau lakukan. Akibatnya, pada Rabi’ al-Awwal tahun 4 Hijriyah, RasuluLlah ShallaLlahu ‘alayhi wa-sallam memerintahkan pengepungan atas mereka, dan setelah beberapa hari (sebagian menyebutkan 6 hari, sebagian lagi 15 hari) mereka pun setuju untuk meninggalkan Madinah dengan syarat mereka diperbolehkan untuk membawa apapun yang dapat mereka angkut dengan unta-unta mereka, kecuali persenjataan. Maka Madinah pun menyingkirkan suku Yahudi pengacau yang kedua. Hanya dua orang dari Bani Nadir yang masuk Islam dan tetap tinggal. Yang lain pergi menuju Syria dan Khaibar.

Demikianlah peristiwa yang dibahas dalam surah ini.

Tema dan Subjek

Sebagaimana dinyatakan di atas, tema surah ini adalah pengisahan perang melawan Bani an-Nadir. Di dalamnya, secara keseluruhan, terdapat empat pembahasan.

  1. Dalam empat ayat pertama, dunia diingatkan akan nasib yang dialami oleh Bani an-Nadir. Sebagai satu suku besar yang sama kuatnya dalam hal jumlah dengan kaum Muslim (saat itu), dan orang-orangnya memiliki kekayaan yang jauh lebih besar serta tidak kurang hebatnya dalam hal kekuatan militer, dengan benteng-benteng yang kukuh. Kesemua itu tidak ada artinya, karena hanya dalam beberapa hari pengepungan, mereka menyatakan menerima hukuman pengusiran dari tempat tinggal yang telah mereka bangun dan bina berabad-abad lamanya, meski tak ada satupun dari mereka yang dibunuh. Allah menyatakan bahwa hal tersebut terjadi bukan karena kekuatan yang dimiliki oleh kaum Muslim, namun karena orang-orang Yahudi telah mencoba untuk menentang bahkan memerangi Allah dan Rasul-Nya, dan mereka yang berani menentang kuasa Allah senantiasa menemui takdir yang sama.
  1. Pada ayat 5, aturan dalam fiqh perang yang disebutkan adalah: pengrusakan yang dilakukan di kawasan musuh untuk kepentingan-kepentingan militer tidak termasuk dalam kategori “melakukan kejahatan di muka bumi.”
  1. Dalam ayat 6-10, dinyatakan bahwasanya tanah dan berbagai kepemilikan yang berada di bawah penguasaan Daulah Islamiyah sebagai akibat dari perang atau syarat perdamaian, haruslah dikelola berdasarkan aturan. Dan karena peristiwa ini merupakan kejadian pertama di mana kaum Muslim menaklukkan suatu wilayah, hukum yang terkait dengan hal itu pun diwahyukan sebagai petunjuk.
  1. Dalam ayat 11-17, sikap yang diambil oleh para munafiqin dalam kejadian perang melawan Bani an-Nadir diberi evaluasi dan alasan-alasan yang mendasarinya disampaikan.
  1. Keseluruhan bagian terakhir (ayat 18-24) merupakan peringatan bagi mereka yang telah menyatakan janji keimanan dan bergabung ke dalam masyarakat Muslim namun tidak memiliki semangat keimanan yang sejati. Di dalamnya disampaikan tuntutan iman yang sesungguhnya, perbedaan antara kesalehan dan kezaliman, posisi penting Al-Qur’an yang harus dijadikan pedoman, serta sifat-sifat Allah yang kepada-Nya kita mengaku telah beriman.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s