Setan di Pangkal Hidung

breakwater-379252_960_720

Istilah “demonologi,” atau studi mengenai setan atau pemujaan setan, bisa punya implikasi yang berbeda-beda pada yang mendengar atau membacanya. Bagi saya, kata tersebut kini mempunyai implikasi yang praktis, yakni berwudhu — atau lebih tepatnya, memperhatikan kesempurnaan wudhu.

Ketika kecil, saya belajar mengaji kepada seorang perempuan tua. Dia seorang janda, dan punya anak dan cucu yang menemaninya di sebuah rumah di tepi sawah. Entah siapa nama lahirnya. Kala itu, kami yang menjadi murid-murid beliau cukup menyebutnya “Nenek Ngaji.” Sering saya dan seorang sepupu main-main ke rumahnya di luar jam mengaji. Entah itu untuk mengajak cucunya memancing belut, membantu menyusun kelapa yang baru dipetik, atau sekedar mengobrol di dapurnya yang luas. Saya ingat betul, di sumur yang bersisian dengan dapur itulah saya diajari untuk berwudhu dengan benar. Menurut Nenek Ngaji, salah satu bagian dari wudhu yang benar adalah istinsyaq, yakni memasukkan air ke dalam hidung kuat-kuat, lalu menghembuskannya keluar.

Diskusi singkat mengenai istinsyaq terjadi saat saya dan dua orang sahabat mengobrol di depan masjid seusai buka puasa Ramadhan lalu. Meski sudah lama tahu soal praktik itu, dalil yang menguatkannya belum lama ini saya temukan. Setelah saya sampaikan, salah seorang sahabat nyeletuk, “Hah, [menghirup air ke dalam hidung dengan kuat] kan sakit…” Dari situlah saya mendapatkan gambaran, bahwa walaupun saya sudah melakukan istinsyaq sejak kecil, tidak semua orang paham bahwa praktik tersebut merupakan sunnah yang patut dilestarikan.

Dalam sebuah hadits yang panjang dari Laqith bin Shabrah, salah satu utusan dari Bani Muntafiq kepada Rasulullah, terdapat satu potongan yang menyebutkan soal praktik ini. Ketika ia bertanya tentang cara berwudhu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa-sallam menjawab, “Sempurnakanlah wudhu, sela-selalah di antara jari-jemarimu, dan bersangatlah dalam beristinsyaq kecuali jika kamu sedang berpuasa.” Bagi saya, jawaban ini kurang-lebih menggambarkan, pada saat itu banyak yang sudah tahu urut-urutan berwudhu, akan tetapi sedikit yang paham bahwa membersihkan sela-sela jari serta beristinsyaq merupakan dua hal yang dapat menyempurnakannya. Hadits ini diriwayatkan oleh keempat imam dan dinilai sahih oleh Ibnu Khuzaimah.

Lantas mengapa saya mengaitkan istinsyaq dengan demonologi? Jauh-jauh hari pernah saya dengar hadits lain yang berhubungan dengan hal ini. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa-sallam bersabda, “Jika kalian bangun tidur, maka hendaknya berwudhu lalu memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya dengan menggunakan nafas sebanyak tiga kali, karena setan itu menginap di pangkal hidung.” Hadits ini tercantum dalam sahih Imam Al-Bukhari dengan nomer 3121, dan Imam Muslim dengan nomer 238. Syaikh Muhammad bin Sulaiman bin Abdul Aziz Al-Bassam, seorang mantan pengajar di Masjidil Haram, berpendapat bahwa “menginapnya” setan di pangkal hidung bisa terjadi apabila seseorang tidak membaca wirid sebelum tidur, khususnya Ayat Kursi. Ini terkait dengan isi hadits lain dari Abu Hurairah, yakni orang yang membaca Ayat Kursi tidak akan didekati setan hingga pagi, sesuai riwayat nomer 3273 dalam sahih Al-Bukhari.

Kata “menginap” saya beri tanda kutip karena beberapa hal. Pertama, saya tidak menguasai Bahasa Arab, sehingga bisa saja ada kata yang lebih tepat untuk menerjemahkan istilah yang ada dalam teks asli hadits tersebut. Kedua, karena memang tertarik pada demonologi dan berusaha untuk memahami bagaimana setan dapat mencengkeram manusia dan — yang lebih penting — bagaimana cara menaklukkan mereka, maka saya berusaha untuk mempelajari implikasi dari “menginapnya” setan di pangkal hidung. Bagi orang yang (pernah) malas berwudhu dan melakukan wirid, bukankah ada kemungkinan bahwa setan tak hanya menginap di pangkal hidungnya, melainkan menetap di situ? Barangkali sudah bangun rumah dan beranak-pinak segala. Sehingga pertanyaan berikut menjadi menarik: Bagaimana cara membantu orang yang sekitar pangkal hidungnya sudah jadi perkampungan jin?

Untunglah demonologi dalam Islam banyak mengedepankan hal-hal praktis. Sehingga ketika seseorang sudah bisa melampaui pemikiran bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam tadi tergolong konyol, maka ia dapat melakukan langkah-langkah kecil maupun besar untuk menolong dirinya sendiri maupun orang lain dari gangguan jin.

Pernah saya bertanya kepada seorang pakar ruqyah, mengapa saya sering lupa urut-urutan berwudhu, dalam arti ketika misalnya saya telah membasuh kepala, saya lupa apakah saya sudah membasuh wajah atau tangan. Ia menjawab, itu gangguan jin. Dan saya pun menemukan dalil-dalil yang menjadi dasar jawaban ustadz tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Abbas, Rasulullah menyatakan, “Berlindunglah kepada Allah dari bisikan yang timbul pada saat berwudhu.” Diriwayatkan pula oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dari Ubay bin Ka’ab bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa-sallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam wudhu ada setan yang dikenal dengan al-Walhan. Karena itu berhati-hatilah kalian dari bisikan air.” Dalam riwayat Ibnu Majah dan Al-Hakim, redaksinya berbunyi, “Sesungguhnya dalam wudhu itu ada setan yang dinamakan al-Walhan, karena itu waspadailah dia.”

Kemudian, apabila kita menilik kata kunci “air” dan “bisikan,” maka kita temukan satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i, yakni dari Abdullah bin Mughaffal bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa-sallam berkata, “Janganlah kamu kencing di air pemandian, karena umumnya bisikan itu berasal dari tempat tersebut.” Redaksi dalam riwayat Abu Dawud berbunyi, “Janganlah kamu kencing di tempat pemandian lalu mandi di tempat itu…” Sedangkan dalam redaksi Imam Ahmad ditambahkan, “… kemudian berwudhu [di tempat itu], karena sesungguhnya was-was pada umumnya berasal dari situ.”

Wallahu a’lam bisshowab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s