Menepis Tuduhan Kalangan Syiah terhadap Abu Hurairah

arabic-298760_960_720

Apapun masalah yang dimiliki oleh sebagian (besar?) kalangan Syiah terhadap para sahabat Nabi Muhammad shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam, maka kalangan ahlus-sunnah wal jama’ah perlu waspada. Bersama keimanan terhadap hari kebangkitan, kita percayai pula bahwa kita akan dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai. Apabila kebencian buta ditunjukkan oleh kalangan Syiah kepada para sahabat, sementara para sahabat itulah yang dicintai oleh Rasulullah shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam, maka syafaat seperti apa yang bisa mereka harapkan di akhirat kelak?

Maka dari itu, diperlukan kehati-hatian dalam menyaring informasi yang diterima di Internet, khususnya teks-teks informasi mengenai para sahabat Rasulullah shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam. Bisa jadi informasi-informasi itu telah diimbuhi niat-niat buruk untuk menanamkan kebencian-kebencian yang aneh nan mengerikan. Sebagai sambungan dari satu artikel lampau, di sini tersaji terjemahan sanggahan terhadap beberapa tuduhan dari kalangan Syiah yang dialamatkan kepada Abu Hurairah radhiy-Allahu-‘anhu. Sanggahan-sanggahan dalam bahasa asli dapat dilihat di website twelvershia.net.

Bismillahirrahmanirrahim.

1. IBNU UMAR DISEBUT MEMBEBERKAN KEBOHONGAN ABU HURAIRAH

Tuduhan – Dalam Sahih al-Bukhari Volume 7, Bab 67, Nomer 391 disebutkan: ‘Abdullah bin ‘Umar menuturkan, “Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] berkata, ‘Apabila seseorang memelihara anjing bukan untuk menjaga ternak, dan bukan untuk berburu, maka pahala amal baiknya akan berkurang sebanyak dua qirat setiap harinya.” Hadits ini mengizinkan seseorang untuk memelihara anjing hanya untuk dua tujuan: pertama untuk menjaga ternak, dan kedua untuk berburu. Abu Hurairah punya ladang dan ia menjaga ladang itu dengan beberapa ekor anjing. Namun tentu saja Abu Hurairah tidak kehilangan pahala, karena ia menambahkan frasa baru ke dalam hadits. Disebutkan dalam hadits riwayat Muslim dalam Sahih Muslim, Bab 10, Nomer 3823: Abu Hurairah [radhiy-Allahu-‘anhu] menyampaikan bahwa Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] bersabda, “Barangsiapa memelihara anjing bukan untuk menjaga ternak, atau untuk berburu, atau untuk menjaga ladang, maka ia kehilangan pahala sebesar dua qirat per harinya.” Zuhri memberi komentar: Kata-kata Abu Hurairah [radhiy-Allahu-‘anhu] ini disampaikan kepada Ibnu Umar, yang kemudian berkata, “Semoga Allah mengampuni Abu Hurairah; IA MEMILIKI LADANG.”

Ketika Ibnu Umar mendengar versi dari Abu Hurairah, ia pun berkomentar dengan menyatakan bahwa Abu Hurairah memiliki ladang. Maka bukankah itu berarti bahwa ia sesungguhnya menuduh Abu Hurairah sebagai seorang pembohong? Abu Hurairah telah mengada-adakan versinya sendiri demi kepentingan pribadi, yakni agar dia tidak (dianggap) bagian dari orang-orang yang berkurang pahalanya setiap harinya karena memelihara anjing.

Sanggahan – Tuduhan ini gagal karena Ibnu ‘Umar sendiri pada akhirnya menggunakan versi yang dituturkan oleh Abu Hurairah. Lihat Sahih Muslim #2946. Ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Umar tidak menuduh Abu Hurairah, melainkan menyetujui bahwa Abu Hurairah mengingat versi yang lebih lengkap karena ia sendiri memiliki ladang, sehingga tidaklah mengherankan bahwa ia akan mengingat detail tersebut. Perlu diingat pula bahwa Sufyan bin Abi Zuhair juga menuturkan bahwa ia mendengar dari Rasulullah shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam bahwa memelihara anjing untuk menjaga ladang juga merupakan salah satu pengecualian. Lihat Sahih Muslim #2951.

2. ABU HURAIRAH DISEBUT BERBOHONG SOAL NAJIS ANJING

Tuduhan – Dalam Sahih Ibnu Majah karya Albani, Vol. 1, Halaman 129, bab mengenai jika peralatan makan dijilat anjing, dikatakan oleh Abu Rizin, “Aku melihat Abu Hurairah memukul kepalanya dengan tangannya sendiri dan berkata, ‘Hai, orang-orang Iraq! Kalian pikir aku berbohong atas nama Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] hanya demi memudahkan kalian; aku bersumpah bahwa aku mendengar Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] berkata bahwa jika seekor anjing menjilat bejana, basuhlah sebanyak tujuh kali.”

Bukankah ini berarti bahwa orang-orang Iraq menganggap Abu Hurairah seorang pembohong?

Sanggahan – Jika orang-orang Iraq (yang menjadi lawan bicara Abu Hurairah pada saat itu, bukan orang Iraq secara keseluruhan) tidak percaya pada kata-kata Abu Hurairah, maka itu adalah masalah mereka sendiri, dan ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa Abu Hurairah adalah seorang pembohong. Kata-kata “aku bersumpah” ia gunakan justru untuk menguatkan apa yang ia dengar. Cukuplah anggapan para sahabat dekat Nabi yang menilai bahwa Abu Hurairah adalah orang yang dapat dipercaya, dan tidak perlu kita mengambil opini dari sebagian orang Iraq yang tak jelas identitasnya dalam cuplikan ini. Sebab jika orang-orang tak dikenal dijadikan rujukan bahwa Abu Hurairah berbohong, cukup kita lihat dalam Al-Qur’an bahwa para nabi pun dianggap pembohong oleh kaumnya, mulai dari Nabi Nuh, Nabi Syu’aib, hingga Nabi Muhammad shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam sendiri.

3. SAYYIDINA UMAR MENYEBUT ABU HURAIRAH MUSUH ALLAH & SEORANG PENCURI

Tuduhan – Dalam sebuah riwayat [Imam Hakim menyatakan sahih berdasarkan Sheikhain namun tidak tertulis, dan Dhabi menyatakan sahih berdasarkan Bukhari dan Muslim] disebutkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Umar berkata kepadaku, ‘Wahai, Musuh Allah dan musuh Islam! Kau telah berkhianat atas uang Allah.’” Ia pun berkata, “Aku berkata: Aku bukan musuh Allah dan bukan musuh Islam namun musuh bagi siapapun yang merupakan musuh keduanya dan aku tidak berkhianat atas uang Allah melainkan itu adalah uang dari seekor unta sekaligus tombak-tombak. Ia pun berkata, ‘Kembalikan’ dan aku mengutarakan lagi hal yang sama.” Ia berkata, “Ia mendenda aku 12.000.” Ia berkata, “Aku lantas mendirikan sholat Zuhur dan berkata: Ya Allah, ampunilah Amirul Mukminin. Dan yang terjadi kemudian adalah ia memintaku untuk menjabat dan aku tidak melakukannya. Lalu ia berkata, ‘Jangan begitu, Yusuf meminta jabatan dan ia lebih baik darimu.’ Lalu aku berkata: Tentu saja, Yusuf adalah seorang nabi, anak dari seorang nabi yang juga anak seorang nabi yang juga anak seorang nabi dan aku adalah anak dari Umaymah dan aku takut dua dan tiga hal. Ia berkata, ‘Kenapa tidak katakan saja lima.’ Aku bilang: Tidak. Dan ia berkata, ‘Apa saja itu?’ Aku berkata: Aku takut berucap tanpa ilmu, dan memberi fatwa tanpa ilmu, serta bila punggungku dijilid, dan bila penggambaran/argumenku dihina.

Catatan: Terjemahan sebagian kata di atas sangat buruk. Misalnya, kata “tombak” dalam bahasa Arab adalah siham, yang berarti “bagi-hasil.” Akan tetapi, sepertinya penerjemah membuat dua kesalahan. Pertama ia menduga kata siham berarti “anak panah,” lalu justru menuliskan “tombak” dan bukan “anak panah.”

Terdapat komentar bahwa semua sahabat berlaku adil, sehingga kita sebaiknya percaya saja kepada mereka, dan yang mereka sampaikan selalu benar. Apakah opini ini berlaku di era para sahabat? Tidak. Kenapa? Sederhana saja, sebab jika demikian, mengapa Umar sampai menyebut Abu Hurairah musuh Allah dan Al-Qur’an, dan juga seorang pencuri. Bagaimana hal ini mendukung pendapat saya? Sederhana saja. Jika ia percaya ia berbuat adil, maka ia tidak mungkin menyebutnya pencuri.

Sanggahan – Riwayat ini dengan sendirinya tidak mendukung kalangan Syiah. Pertama, kutipan komentar memberi kesan bahwa para sahabat tidak mungkin saling menuduh sebab mereka menganggap satu sama lain dapat dipercaya. Ini anggapan yang salah, sebab selalu ada kemungkinan bahwa siapapun dari kalangan sahabat ternyata murtad. Itulah mengapa terdapat pandangan dalam kalangan Ahlus Sunnah bahwa hanya mereka yang mati dalam Islam saja yang dapat masuk ke dalam kategori sahabat. Dengan kata lain, dalam pandangan Sayyidina Umar, orang yang telah menemani Rasulullah shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam bisa saja disebut musuh Allah apabila orang itu telah melakukan pengkhianatan. Dalam hal ini, ia menuduh Abu Hurairah telah mencuri uang dari rakyat Bahrain, sesuai dengan Musanaf Abdulrazzaq #20659, ketika ia menjadi gubernur di wilayah tersebut.

Tentu saja Abu Hurairah menolak tuduhan ini dengan bersumpah bahwa ia mendapatkan kekayaan baru lewat bagi-hasil dan dari penjualan binatang tunggangan yang sedang hamil. Tidak satu pun riwayat menyebutkan bahwa Umar memerintahkan agar tangan Abu Hurairah dipotong.

Reaksi Umar berbeda dalam kedua riwayat. Riwayat di atas menyebutkan bahwa Umar mendendanya, sedangkan riwayat lain dari Abdulrazzaq menyatakan bahwa Abu Hurairah dimaafkan. Karena kedua riwayat itu sahih, bisa kita ambil jalan tengah bahwa pertama ia didenda, namun kemudian dia dibebaskan dari tuduhan. Namun yang paling penting, kedua riwayat menyebutkan bahwa Umar meminta Abu Hurairah untuk kembali bertugas sebagai gubernur. Jika saja Umar tidak menarik anggapan dan tuduhannya terhadap Abu Hurairah, maka ia tidak mungkin menawarkan posisi itu kembali kepadanya, dan justru akan menerapkan hukuman potong tangan. Yang terjadi adalah ia justru puas dengan kinerja Abu Hurairah dan menarik tuduhannya, sebab tidak mungkin bagi Umar untuk menempatkan musuh Allah sebagai seorang gubernur.

4. ABU HURAIRAH TENTANG PUASA DALAM KEADAAN JUNUB

Tuduhan – Sebuah artikel menyertakan satu riwayat dari Musnad Ahmad [versi Urdu, vol. 12, hal. 77-78], dan di situ Abu Hurairah mengajarkan bahwa Rasulullah shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam melarang berpuasa bagi mereka yang bangun setelah Fajar dalam keadaan junub. Penulis artikel tersebut memberi kesan bahwa Abu Hurairah mengada-adakan hadits tersebut, dan kemudian mengubah pandangannya setelah ia dihadapkan pada pandangan dari A’isyah dan Ummu Salamah yang menyatakan sebaliknya.

RIwayat itu berbunyi: Abu Bakar bin Abdurrahman mengatakan, “Aku mendengar Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] mengatakan bahwa siapapun yang sampai pada suatu pagi dalam keadaan junub, maka puasanya tidak sah. Selang beberapa waktu, kami bertemu dengan A’isyah dan Bibi Ummu Salamah bersama ayahku. Mereka berkata bahwa Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] pernah sampai pada pagi dalam keadaan junub dan tetap berpuasa di hari itu. Ketika kami bertemu Abu Hurairah, ayahku menyampaikan ini kepadanya. Raut wajahnya pun berubah. Dan ia berkata bahwa hal [yang pernah ia sebutkan] itu disampaikan kepadanya oleh Fadhl bin Abbas lewat istri-istri Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam].”

Sanggahan – Riwayat ini dengan sendirinya tidak bermasalah bagi pembaca yang objektif. Pertama, riwayat ini tidak menyertakan bukti adanya pelanggaran dari Abu Hurairah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa ia mendengar hadits itu dari Rasulullah shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam. Kesalahannya adalah bahwa ia bersandar pada apa yang ia dengar dari Al-Fadhl bin Al-Abbas tanpa bertanya apakah ia mendengar hal itu dari Rasulullah shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam.

Bersandar pada laporan yang didengar dari orang lain adalah kesalahan yang sering kita buat. Kita mendengar khatib di atas mimbar atau di televisi berbicara mengenai hadits ini-dan-itu yang dihubungkan kepada Rasulullah shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam. Ketika kita sampaikan hadits itu kepada teman-teman kita, kita seringkali alpa menyebutkan sumbernya, dan sekedar menyebut, “Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] bersabda…”

Tentu saja kita yang jatuh ke dalam kesalahan ini tidak bisa bisa begitu saja dituduh mengarang hadits. Sama halnya dengan Abu Hurairah. Ia tidak bisa dibebani tuduhan serupa sebab ia tidak pernah berkata ia mendengar Rasulullah shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam menyatakan kata-kata tersebut.

5. ABU HURAIRAH DISEBUT BERBOHONG SOAL SHALAT WITIR

Tuduhan – Abu Hurairah dituduh telah berbohong oleh sahabat lain. Ibnu Abdul Bar menyebutkan dalam bukunya Jami Bayan ul-‘Ilm wa Fadlaho [tehqeeq oleh Zahiri, Vol. 1, Hal. 1101, riwayat 2148, dicetak Dar Ibnu Joozi]: Taoos(?) berkata, “Kami sedang duduk bersama Ibnu Umar ketika seorang lelaki datang, dan dia berkata, ‘Abu Hurairah mengatakan bahwa witir tidak wajib; kalau mau maka kerjakan, dan jika tidak maka tinggalkan.’ Maka Ibnu Umar berkata, ‘Abu Hurairah berbohong [kadhaba]; seorang lelaki mendatangi Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] dan bertanya kepadanya tentang shalat malam, maka beliau [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] berkata: dua-dua raka’at; tapi bila kau khawatir fajar [segera terbit], maka satu raka’at.’” Peneliti buku ini, Abu Al-Ashbaal Al-Zahairi menyebutnya isnaad sahih.

Sanggahan – Riwayat ini tidak semestinya memberi kesan Abu Hurairah telah berbohong — ia hanya menyatakan pendapat pribadi, dan pendapat pribadi tidak sama dengan menyampaikan hadits. Tidaklah logis bahwa Ibnu Umar menuduh Abu Hurairah berbohong hanya karena ia memiliki pendapat yang berbeda dengannya. Inilah mengapa para ulama memahami bahwa arti yang sebenarnya dari kata kadhaba dalam konteks riwayat ini adalah “keliru.”

Ibnu Katsir dalam Al-Nihaya (hal. 795-796) menyajikan beberapa contoh di mana kata kadhaba digunakan secara lisan dan maknanya adalah “keliru.” Ia lantas menyatakan: Orang Arab menggunakan kata kadhaba untuk menyatakan “melakukan kekhilafan.” Ibnu Katsir kemudian mengutip beberapa riwayat berikut puisi kuno Al-Akhtal dan Dhu Al-Rumma di mana kata kadhaba digunakan dalam konteks yang sama. Dan wajar saja jika kita memahami bahwa inilah yang dimaksud oleh Ibnu Umar, sebab ia sendiri jelas-jelas menyatakan dalam sebuah hadits sahih (Sunan Abu Dawud #1070) bahwa ia tidak menolak hadits apapun yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

6. CARA ABU HURAIRAH MENYAMPAIKAN HADITS

Tuduhan – Sebuah hadits sahih menyebutkan bahwa A’isyah sekali waktu berkata kepada Urwa(?), “Tidakkah kau terkejut oleh Abu Hurairah kala ia datang dan mulai meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] selagi ia duduk di dekat rumahku; dan aku mendengarnya selagi aku sholat namun ia pergi sebelum aku selesai; jika saja aku bertemu dengannya, tentu kukatakan padanya bahwa Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] tidak pernah menyampaikan hadits-hadits sebagaimana ia menyampaikannya.” Referensi: Musnad Imam Ahmad, Urdu, vol. 11, hal. 237-238, hadits 25377 [penerjemah menyatakannya sahih dalam Sahih Al-Bukhari (3568), Sahih Al-Muslim (2493), Ibnu Haban (#100 dan #7153). Juga dalam Musnad Imam Ahmad, Urdu, vol. 11, hal. 339-340, hadits 25754.

Sanggahan – Biang kerok dari artikel ini adalah kesalahan penerjemahan [dari bahasa Urdu]. Hadits dalam bahasa asli menyebutkan (bahwa artinya adalah): “Ia tidak menyampaikan hadits dengan singkat dan berulang-ulang sebagaimana engkau menyampaikannya.” Dan tentu saja kita mafhum bahwa Rasulullah [shall-Allah-u‘alayhi wa-sallam] biasa memberikan pernyataan-pernyataan yang singkat dan ia akan mengulangnya dua atau tiga kali agar para pendengar dapat mengingatnya dengan baik. Dengan kata lain, Ummul Mukminin A’isyah radhiy-Allahu-‘anha mengkritik speed Abu Hurairah dalam menyampaikan hadits, bukan isi dari hadits-hadits itu sendiri.

Wa-Allah-u a’lam bisshowab.

Advertisements

One thought on “Menepis Tuduhan Kalangan Syiah terhadap Abu Hurairah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s