Semut dan Syariat

ant-697329_960_720

Sebagai orang-orang yang insya-Allah berilmu, mungkin kita terbiasa menanyakan definisi-definisi. Maka jika kita bertanya, “Apa itu Al-Qur’an?” — Allah segera menjawabnya di bagian awal Al-Qur’an itu sendiri: “Inilah kitab yang tiada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”

Lantas kalau ada isi Al-Qur’an yang memunculkan keragu-raguan, bagaimana? Jika itu terjadi, maka keragu-raguan itu pastilah muncul dari ketidakpahaman atau kurangnya latar belakang pengetahuan kita terhadap Al-Qur’an. Kita ambil satu contoh. Sebuah penggalan (yang tampak) sederhana dari Al-Qur’an, yakni dalam Surat An-Naml:

Untitled-1

“Sehingga apabila mereka sampai ke lembah semut, berkatalah seekor semut: Wahai sekalian semut, masuklah ke sarang kamu masing-masing, supaya kamu tidak remuk (terlindas) oleh Sulaiman dan bala-tentaranya, sementara mereka tidak menyadari (keberadaanmu).” (An-Naml: 18)

Ayat tadi merupakan penggalan kisah tatkala Nabi Sulaiman ‘alayhis salaam dan bala-tentaranya yang terdiri dari jin, manusia, dan burung-burung berbaris-baris melewati sebuah dataran. Di sana terdapat negeri semut, dan salah satu dari semut-semut itu memperingatkan kawan-kawannya untuk bergegas masuk ke dalam sarang mereka agar tidak hancur terinjak-injak oleh pasukan tersebut. Dan hal ini ternyata didengar oleh Nabi Sulaiman, sehingga beliau pun tersenyum, kemudian mengucapkan doa kepada Allah subhanahu wa-ta’ala agar beliau dijadikan hamba yang senantiasa bersyukur.

Ketika membaca kisah itu, bisa saja kita sebatas kagum pada kemampuan Nabi Sulaiman dalam memahami bahasa semut. Kita belum sadar, ternyata ayat itu menyimpan keajaiban-keajaiban bahasa sekaligus sains.

Dalam ayat tadi, kata yang digunakan untuk mendeskripsikan “kondisi semut yang terlindas” adalah “yahtimannakum,” yang artinya “menghancurkanmu sampai pecah.” Ayat ini sempat dicemooh oleh sebagian orang yang skeptis terhadap Al-Qur’an. Mereka berkata, “Kenapa Allah menggunakan kata ‘pecah’ yang hanya sesuai untuk gelas atau kaca? Kenapa tidak gunakan saja kata umum yang bermakna ‘hancur’  atau ‘lumat’, misalnya?

Di zaman modern ini, manusia telah diizinkan oleh Allah subhanahu wa-ta’ala untuk mampu melihat unsur-unsur terkecil yang menyusun benda-benda di sekeliling mereka, misalnya dengan mikroskop. Dan atas izin Allah, para ilmuwan kini mengetahui bahwa tubuh semut tersusun oleh rangkaian kimia yang disebut chitin. Rangkaian chitin merupakan komponen utama kulit hewan semacam kepiting dan lobster, dan juga merupakan penyusun kulit dan tubuh semut. Jadi bila dilihat dari susunan kimianya, remuknya tubuh semut bisa disamakan dengan remuknya kulit kepiting atau lobster, dan remuknya kulit kepiting atau lobster, sebagaimana kita ketahui, lebih mirip dengan pecahnya gelas atau kaca daripada dengan lumatnya daging. Sehingga tentunya tepat jika Allah memilihkan kata “yahtimannakum” untuk digunakan dalam ayat tadi. Sains modern telah membuktikan ketepatan bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an.

Ada satu keajaiban lagi dari ayat ini yang telah dibuktikan oleh sains modern. Seorang profesor bernama Jeremy Thomas dari Oxford University membeberkan penemuannya dalam bidang zoologi, yaitu ilmu tentang binatang. Setelah melakukan berbagai riset mengenai semut, menggunakan peralatan-peralatan canggih yang salah satunya adalah mikrofon yang dapat merekam suara yang sangat halus, Profesor Thomas menyimpulkan bahwa semut mengeluarkan suara-suara yang pola-polanya bisa diteliti. Menurutnya, ada interaksi bahasa yang terjadi di dunia semut, baik itu di antara para semut pekerja, maupun dari ratu semut kepada semut-semut bawahannya. Tak hanya itu, ia juga telah meneliti bagaimana komunikasi suara bisa terjadi antara semut dan kupu-kupu. Ia pun mempelajari bagaimana semut dapat berubah sikap. Semut-semut yang tadinya sedang bekerja dengan tenang, misalnya, bisa langsung siap siaga untuk menyerang ketika ada gangguan. Temuan terakhir ini seolah dengan gamblang membuktikan ayat Al-Quran tadi, yakni bagaimana seekor semut dapat memberikan aba-aba kepada semut-semut lain untuk menghindar dari langkah-langkah balatentara Nabi Sulaiman ‘alayhis-salaam. Dan tentunya mudah saja bagi Allah untuk mengizinkan hambanya yakni Nabi Sulaiman ‘alayhis-salaam untuk memahami bahasa semut, tanpa beliau perlu repot-repot melakukan riset.

Untuk beberapa hal, ternyata dibutuhkan waktu ratusan bahkan lebih dari seribu tahun bagi manusia untuk membuktikan berbagai keajaiban yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an yang diturunkan di tengah-tengah gurun kepada seorang calon penghulu dunia bernama Muhammad [shalla-Llahu ‘alayhi wa-sallam] menyebutkan dengan rinci langkah demi langkah terbentuknya janin di dalam rahim, mulai dari segumpal darah, lalu berbentuk seperti lintah, hingga akhirnya seperti janin pada umumnya. Dunia kedokteran kemudian membuktikan hal ini. Al-Qur’an memberitahu bahwa ada pacak-pacak yang menahan gunung-gunung pada posisinya, dan ilmu geologi akhirnya membuktikan hal ini. Mayat Firaun disimpan Allah di dalam laut, untuk kemudian dimunculkan dan ditemukan oleh masyarakat modern, sehingga menjadi jejak sejarah Nabi Musa ‘alayhis-salaam dan kaumnya. Al-Qur’an menunjukkan titik daratan terendah di bumi, dan teknologi manusia pun telah membuktikan hal itu. Maka informasi dari Tuhan kita yang manakah yang berani kita dustakan?

Maka jika Allah mengatakan bahwa tidaklah Allah membuat aturan-aturan atau syariat melainkan untuk kebaikan manusia, masihkah kita, masihkan Anda, akan berpaling darinya? Jika untuk perihal semut saja Allah memilihkan kosakata yang sedemikian teliti, maka mungkinkan Allah Yang Maha Pengasih menunjuki manusia kepada hal-hal salah? Allah Maha Tahu, Allah Maha Mengawasi, Allah Maha Kuasa. Dan Allah tidak pelit informasi. Kalau manusia belum tahu, Allah beri jalan bagi mereka untuk memahami. Anak kecil tidak tahu kalau api berbahaya, maka Allah buat ia tertarik kepada cahaya api, untuk kemudian membuatnya menjauh karena panasnya. Jika anak itu kukuh untuk menyentuh api tersebut, sengatan panas lantas membakar kulitnya. Kebanyakan orang Quraisy enggan mengikuti Nabi Muhammad [shalla-Llahu ‘alayhi wa-sallam] pada awalnya, maka Allah turunkan ayat demi ayat demi ayat demi ayat Al-Qur’anul Karim, dan Allah perintahkan kepada Rasul: Datangi mereka, sampaikan terus ayat-ayat itu. Dan jika mereka tetap kukuh dalam kezaliman mereka, maka sungguh Allah telah memberikan ancaman berupa api neraka.

Tidaklah Allah membuat aturan-aturan atau syariat bagi ciptaan-Nya yang istimewa, yaitu manusia, melainkan sudah Allah terangkan dalam Al-Qur’an dan dalam peri-kehidupan para nabi dan rasul sebagai tauladan, khususnya rasul-Nya yang terakhir Nabi Muhammad [shalla-Llahu ‘alayhi wa-sallam]. Allah jadikan pula begitu banyak tanda di langit, di bumi, dan pada diri kita sendiri, agar kita mau berpikir dan meyakini. Maka — para jamaah yang dirahmati Allah — di Bulan Ramadhan ini, bulan diturunkannya Al-Qur’an yang mulia, marilah kita berdoa agar Allah membukakan sanubari kita dan sanubari saudara-saudara kita sesama Muslim agar ikhlas menerima kemudian menerapkan aturan-aturan itu, syariat itu, perihal peribadatan manusia kepada Tuhannya, aturan untuk manusia dengan dirinya sendiri, antara sesama manusia, dan antara manusia dengan lingkungannya, supaya tercurah rahmat Allah dari langit dan dari celah-celah bumi. Amin.

Advertisements

One thought on “Semut dan Syariat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s