Abu Hurairah – Narator Hadits yang Masyhur

cat-1288531_960_720

 

(Sebuah Terjemahan)

Pengantar dari penerjemah: Berbulan-bulan lalu, saya tersandung beberapa tulisan karya kalangan Syiah. Betapa terkejutnya saya menemukan keburukan-keburukan yang dialamatkan kepada orang-orang terdekat Rasulullah shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam, termasuk ‘Aisyah dan Abu Hurairah, radhi-Allahu ‘anhum.

Kala itu, saya belum paham soal kebencian sebagian kalangan Syiah kepada para sahabat. Saya pun berusaha untuk melupakan tulisan-tulisan itu, sebab saya khawatir larut dalam kebencian yang terasa begitu aneh dan mengerikan. Semakin banyak informasi yang saya telusuri, saya kian mengenali dikotomi Sunni – Syiah.

Nah, baru-baru ini saya menemukan sebuah tulisan di twelvershia.net (website Sunni yang khusus menyangkal klaim-klaim kalangan Syiah) yang membela Abu Hurairah radhi-Allahu ‘anhu dengan argumentasi yang baik serta penghormatan yang pantas. Di sini, saya hendak menampilkan terjemahannya. Ini merupakan apresiasi atas sebuah tulisan yang telah disusun dengan apik, yang telah membantu mengikis hal-hal yang mengganggu batin saya akibat pembacaan artikel-artikel lancang di masa lalu itu. Saran-saran tentu saja akan berharga, selama disampaikan dengan cara yang bermartabat. Wallahu a’lam bish-shawab.

***

BIOGRAFI SINGKAT

Abu Hurairah memeluk Islam di tahun Khaybar. Ia lantas menjaga hubungan yang dekat dengan Rasulullah shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam, dan menemaninya ke mana pun ia pergi, menimba ilmu dari beliau. Ia tergolong yang memiliki ingatan paling kuat di antara kelompok Ansar maupun Muhajirin. Rasulullah shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam menyadari bahwa ia teliti dalam belajar dan menyampaikan hadits. Abu Hurairah pernah berkata, “‘Wahai Nabiyullah, aku telah mendengar begitu banyak hadits darimu dan aku takut kalau sampai ada yang terlupa.’ Rasulullah shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam lantas berkata, ‘Bentangkan jubahmu.’ Maka aku lakukan. Beliau pun memasukkan kedua tangannya ke dalam (jubah itu), lalu memintaku mengenakannya kembali. Maka aku lakukan. Sejak saat itu, aku tak pernah lupa satu hadits pun.”

Al-Bukhari berkata: “Lebih dari delapan ratus orang dari kalangan sahabat dan tabi’in menyampaikan hadits dari Abu Hurairah. Di antara para sahabat yang menarasikan dari beliau adalah Ibn Abbas, Ibn Umar, Jabir bin Abdullah, Anas bin Malik, dan Wathilah bin al-Aska’. Beliau menjadi gubernur Bahrain pada masa kekhalifahan Umar. Ia lalu menetap di Madinah dan wafat di sana.

Khalifa bin al-Khayat menyebutkan Abu Hurairah wafat di tahun 57 Hijriyyah. Al-Haytham bin ‘Adi menyebutkan beliau wafat di tahun 58 Hijriyyah. Al-Waqidi menyebutkan beliau wafat di tahun 59 Hijriyyah pada usia 78 tahun, dan Ibn Numayr menyatakan hal yang sama. Sebagian lain menyebutkan beliau wafat di Al-‘Aqiq. Shalat jenazah untuk beliau diimami oleh ‘Utbah bin Abi-Sufyan, yakni gubernur Medinah ketika Marwan bin al-Hakam diturunkan dari jabatan khalifah.

Catatan: Pada bagian komentar untuk artikel ini, seseorang bernama Muhammad Wisal menunjukkan versi lain perihal kapan Abu Hurairah memeluk Islam. Ia menyebutkan: “Saudaraku, Anda mengatakan Abu Hurairah r.a. memeluk Islam di tahun Perang Khaybar, dan ini tidak betul. Beliau memeluk Islam sejak awal ketika seorang pemimpin sukunya, Tufayl ibn Amr ad-Dawsi, memeluk Islam di Makkah lantas kembali kepada sukunya untuk mengajarkan Islam kepada mereka. Dan pada saat itulah Abu Hurairah memeluk Islam. Ia berasal dari suku yang sama. Nama aslinya Abdusshams, namun Rasulullah shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam mengganti namanya menjadi Abdurrahman. Ia kelak bergabung bersama Rasulullah shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam dalam Perang Khaybar. Terima kasih.” Dan pihak penulis menjawab: “Jazak-Allah khairan, Saudara Muhammad Wisal. Yang Anda sebutkan juga merupakan sebuah kemungkinan.”

STATUS ABU HURAIRAH

Di bagian pendek ini, kami salinkan sebagian pujian yang diterima oleh Abu Hurairah dari rekan-rekan sezaman beliau, demi menghalau berbagai keraguan yang meliputi tokoh ini. Kami bersandar pada narasi-narasi sahih, atau akan menunjukkan kelemahan atau kekurangan apa saja yang terdapat dalam narasi-narasi yang kami ajukan.

Pujian Umum

Al-Bukhari mengatakan bahwa Abu Hurairah punya delapan ratus murid dari kalangan sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadits dari beliau. Ini merupakan keutamaan besar, karena para sahabat tidak mungkin mengizinkan seseorang untuk memiliki begitu banyak murid tanpa kritik apabila orang itu tidak cocok untuk posisi tersebut. Dan jumlah muridnya merupakan bukti kuat bahwa tokoh ini teramat dipercaya dalam pandangan para sahabat dan tabi’in.

Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 6/2224 menyebutkan, adanya dua puluh delapan sahabat Rasulullah shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah merupakan bukti bahwa beliau dipercaya.

Abu Hurairah juga merupakan seseorang yang didatangi demi mencari keputusan-keputusan terkait syariat. Itulah sebabnya Ibn Sa’ad menyertakan beliau dalam sebuah bab sebagai satu dari empat belas sahabat yang biasa memberikan fatwa sesudah wafatnya Rasulullah shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam (Al-Tabaqat Al-Kabir 2/312).

Pujian Khusus dari Para Sahabat

Ibn Umar berkata, “Umar lebih baik daripada aku, dan Abu Hurairah lebih baik daripada aku” (Musanaf Abdulrazaq #8342). Ia juga berkata, “Wahai, Abu Hurairah, di antara kita semua, engkaulah yang paling sering berada di dekat Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] dan yang paling kuat mengingat hadits” (At-Tirmidzi #3771).

Thalhah berkata, “Tidak ada keraguan bahwa dia [Abu Hurairah] mendengar dari Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] apa-apa yang tak kami dengar dan dia adalah tamu Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] karena dia miskin, maka tangannya ada pada tangan Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam]” (At Tirmidzi #3772 – terdapat kelemahan karena Ibn Ishaq bisa jadi tak mendengar ini dari Mohammad bin Ibrahim al-Taymi).

Zaid bin Tsabit menuturkan bahwa Nabi [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] mengaminkan sebuah doa dari Abu Hurairah, yang di dalamnya ia meminta pengetahuan yang takkan bisa terlupakan (Tarikh Dimashq: Abu Hurairah #187).

Abu Ayub berkata, “Aku lebih senang meriwayatkan dari Abu Hurairah (sebagai perantara) ketimbang (langsung) dari Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam].” Maksudnya, ia lebih percaya kepada Abu Hurairah daripada kepada dirinya sendiri dalam hal menuturkan hadits (Al-Mustadrak #6175 – Ibrahim bin Bistam tidak dikenal, tapi narasi ini telah diriwayatkan dalam Tarikh Dimashiq lewat alur-alur sanad alternatif. Lihat Tarikh Dimashq: Abu Hurairah #260-#263).

Abdullah bin Abbas menuturkan kisah bagaimana ‘Ali diutus menemui Abu Bakar untuk membacakan ayat-ayat Surah Bara’ah (Taubah), karena Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] telah mengatakan bahwa hanya laki-laki dari keluarganya yang boleh melakukan hal tersebut. Ia menuturkan bahwa ketika suara ‘Ali telah serak akibat membacakannya, ia menunjuk Abu Hurairah sebagai pengganti untuk membacakannya kepada yang hadir (Al-Sunan Al-Kubra, Bayhaqi 9/222).

Pujian Khusus dari Para Tabi’in

Abu Salih: “Abu Hurairah adalah salah satu sahabat yang paling kuat dalam mengingat hadits-hadits Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] (Mustadrak al-Hakim #6161).

Muhammad bin Iyas bin al-Bukair sering mengambil fatwa dari Abu Hurairah (Muwatta Malik #1037).

Abu Hazim membanggakan bahwa ia berguru kepada Abu Hurairah selama lima tahun (Al-Ma’rifa wal Tarikh 2/65).

Abu Utsman al-Nahdi mengatakan, “Abu Hurairah, istrinya, dan pelayannya biasa bergantian (untuk sholat) pada masing-masing dari satu per tiga malam (Al-Tabaqat Al-Kabir 5/248).

Tawus: “Abu Hurairah tidak mengizinkan putrinya mengenakan emas akibat takut akan panasnya api neraka (At Tabaqat al-Kabir 5/245).

Maymun bin Mihran terlibat dalam argument dengan seorang sheikh yang membanggakan diri sebagai orang yang berilmu hanya karena telah mendengar hadits-hadits dari Abu Hurairah. Maymun berargumen bahwa tidak semua orang yang duduk bersama Abu Hurairah menghadirkan hatinya pada saat yang sama. Dengan kata lain, menurut Maymun, mereka yang bersungguh-sungguh mendengarkan Abu Hurairah akan menjadi orang-orang yang berilmu (Al-Tabaqat al-Kabir 2/326).

Daftar pendek pujian yang kami sebutkan di sini insya-Allah cukup untuk menunjukkan tingginya status Abu Hurairah di generasi awal Islam, di mana ia dikenal luas karena pengetahuan dan kesalihannya.

YAMANI, DAWSI, FAQIH, DAN PENYENDIRI

Nama Abu Hurairah seringkali dikaitkan dengan kata-kata di atas [Yamani: dari Yaman; Dawsi: dari suku Daws; faqih: ahli syariat]. Namun yang paling sering didengar oleh para pencari ilmu adalah kata “muhadits,” atau orang yang meriwayatkan hadits.

Meskipun [menurut satu versi] Abu Hurairah memeluk Islam di tahap akhir [kenabian], yakni sekitar empat tahun sebelum wafatnya Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam], ia menuturkan hadits dalam jumlah paling besar ketimbang sahabat-sahabat yang lain. Karena inilah musuh-musuh Islam hendak mendiskreditkannya, dengan tujuan merusak sistem perumusan dan pengumpulan hadits yang sungguh unggul, yang telah diupayakan oleh kelompok Islam ahlus sunnah wal jama’ah pada periode awal.

Kesalahpahaman umum yang biasanya diajukan oleh orang-orang yang mengkritik Abu Hurairah adalah kemampuannya menuturkan lebih dari lima ribu hadits, sementara ia berada di dekat Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] dalam waktu yang cukup singkat. Angka yang seringkali dipakai adalah 5374 hadits. Akan tetapi, kebanyakan pembaca tidak sadar bahwa rujukan statistik itu adalah buku Ibn Hazm mengenai “Nama-nama Sahabat yang Meriwayatkan” serta jumlah hadits mereka. Statistik ini, menurut pengakuannya sendiri, disandarkan pada Musnad Baqi bin Makhlad, yang merupakan (salah satu) koleksi hadits terbesar yang pernah dikumpulkan.

Akhirnya, semua Muslim harus faham bahwa kebanyakan koleksi hadits (jika tidak semua) menyertakan pengulangan-pengulangan. Repetisi terjadi dalam beragam bentuk. Terkadang koleksi hadits menyertakan narasi yang dipendekkan agar fokus pada bagian tertentu. Di kala lain, sebuah hadits diulang untuk menyertakan sanad lain. Sering ditemukan, satu hadits diulang-ulang dengan alasan hadits itu relevan untuk lebih dari satu bab. Contoh yang paling terkenal adalah hadits termasyhur: “Amal itu (tergantung) dari niatnya.” Hadits ini diulang beberapa kali dalam Sahih Al-Bukhari, karena memang cocok untuk disertakan dalam bab yang berbeda-beda.

Satu sisi yang perlu diingat oleh pembaca, banyak hadits yang disandarkan kepada Abu Hurairah memang tidaklah sahih. Musnad Baqi bin Makhlad bukanlah koleksi yang seluruh isinya sahih, sehingga hadits yang disandarkan kepada Abu Hurairah berjumlah cukup besar. Mungkin Anda bertanya-tanya, sebenarnya ada berapa hadits yang bisa disandarkan kepada Abu Hurairah dalam kumpulan-kumpulan yang sahih? Al-Hafith al-Ala’i menghitung dalam Sahih Al-Bukhari dan menemukan jumlah 418 hadits (lihat Kashf Al-Niqab hal. 187).

Aspek lain terkait Abu Hurairah yang sering dilupakan adalah kenyataan bahwa ia hidup lima puluh tahun setelah wafatnya Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam]. Hidup lebih lama ketimbang sahabat-sahabat lain menjadikannya guru yang ideal. Sangatlah umum bagi kelompok-kelompok belajar di masa itu untuk berguru kepada orang yang sudah tua. Semakin tua orang itu, semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan sanad yang lebih pendek hingga sampai kepada Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam]. Ketika kebanyakan sahabat telah wafat, sudah sepantasnya para tabi’in yang lebih muda untuk berguru kepada tabi’in senior yang mendengar hadits dari para sahabat, atau untuk berguru langsung kepada sahabat yang masih hidup dalam usia uzur.

Aspek lain yang perlu pula diperhatikan adalah tempat tinggal Abu Hurairah. Tidak seperti kebanyakan sahabat, beliau menetap di Madinah. Banyak dari para sahabat yang hijrah ke Basra, Kufa, Syam, Yaman, atau bahkan Makkah. Madinah, pada masa itu, merupakan “Makkah”-nya ilmu Islam.

Akan tetapi, meski hal-hal di atas telah dijabarkan, perlu diakui bahwa Abu Hurairah memang menuturkan hadits dalam jumlah yang lebih besar ketimbang sahabat-sahabat lain. Hal ini dapat dimaklumi karena di masa hidup Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam], Abu Hurairah tidak memiliki pekerjaan. Tidak seperti kebanyakan dari kalangan Muhajirin maupun Ansar, yang menghabiskan kebanyakan waktu mereka di ranah perdagangan. Abu Hurairah tidak memiliki usaha apa pun, dan terpaksa meminta-minta makanan di jalanan Madinah untuk dapat bertahan.

Berada dekat dengan Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] membuat beberapa hal lebih mudah untuknya, sebab Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] sering menerima makanan dari para sahabat. Abu Hurairah, dengan tujuan bertahan, selalu berada pada jarak di mana ia dapat mendengar ucapan-ucapan Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam], dan hal ini membuat paparan sunnah menjadi lebih besar kepadanya.

Hal Lain yang Perlu Ditambahkan

Penuturan-penuturan Abu Hurairah tanpa repetisi tidak berjumlah 5.000+, melainkan sekitar 1.400 (menurut penelitian Dr. ‘Abduh Yamani dan Diya’-ul Din al-A’zami). Dan tidaklah seluruh penuturan itu betul-betul bersumber dari Abu Hurairah, karena sebagian palsu, sehingga angka itu dapat dikecilkan lagi. Sebagian besar hadits dari Abu Hurairah yang tidak palsu tidak bersumber dari beliau saja, melainkan bisa ditemukan dituturkan oleh sahabat-sahabat yang lain, dan hal ini menghilangkan kemungkinan bahwa beliau “mengarang.”

Banyak narasi dari Abu Hurairah bukanlah hal-hal yang beliau dengar secara langsung dari Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam], namun merupakan hal-hal yang ia dengar dari sahabat-sahabat senior sepeninggal Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam]. Inilah mengapa Abu Hurairah tidak selalu mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] mengatakan ini dan itu.” Artinya, narasi-narasi beliau tidak terbatas pada periode di mana beliau berada di sisi Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam].

Sebagian dari narasi Abu Hurairah bukanlah kata-kata dari Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam], maka tidaklah termasuk hadits dalam makna umum, melainkan hal-hal tertentu dalam peristiwa-peristiwa yang ia saksikan, atau dalam perang yang ia ikuti, atau mengenai bagaimana Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] berjalan, atau apa warna turbannya, dan rincian-rincian lain.

FAKTA MENARIK: ABU HURAIRAH MENGUASAI TIGA BAHASA

Sudah menjadi kesalahpahaman umum di kalangan Muslim rasionalis dan Syiah bahwa Abu Hurairah adalah orang biasa yang bodoh. Ini kadang menjadi pandangan umum yang diberikan kepada mereka yang masuk ke dalam kategori muhadits (orang yang menarasikan hadits), dan berlawanan dengan faqih, yakni mereka yang menggunakan intelektualitas dalam memahami hadits. Tuduhan-tuduhan serupa telah diajukan kepada para muhadits generasi-generasi berikutnya, seperti Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, dan para penyusun koleksi hadits lain.

Akan tetapi, hal itu sungguh jauh dari kebenaran, sebagaimana kita temukan dalam I’ilam Al-Muwaqi’in karya Ibn Qayyim, bahwa menurut Ibn Hazm, Abu Hurairah dianggap berada di deretan kedua para sahabat yang tergolong futya (berhak mengeluarkan fatwa). Termasuk dalam deretan ini adalah sahabat-sahabat terkenal seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Awf, Salman al-Farisi, Jabir bin Abdullah, Mu’ath bin Jabal, Ummu Salamah, dan lainnya.

Lebih lanjut lagi, Abu Hurairah adalah sahabat yang menguasai banyak bahasa (multilingual), meski tinggal di Madinah, di mana kebanyakan orang hanya berbicara dalam bahasa Arab. Diakui oleh sains modern, kemampuan multilingual tidak hanya memiliki efek positif terhadap aktivitas otak, namun juga memungkinkan orang-orang untuk memiliki akses lebih besar pada ilmu beliau. Selain Arab sebagai bahasa utama, sebab Abu Hurairah tumbuh dan hidup dengan bahasa itu di Yaman dalam suku Daws, beliau juga berbahasa Abisinia dan Persia. Di bawah ini kami kutipkan dua narasi yang membuktikan fakta yang jarang diketahui ini.

Sahih Muslim #2221: Harits bin Abu Dhubab (seorang sepupu dekat Abu Hurairah) berkata, “Abu Hurairah, aku pernah mendengar darimu bahwa kau menuturkan kepada kami hadits satu dan yang lainnya [mengenai penyakit menular], namun kini engkau memilih diam soal itu. Engkau pernah berkata bahwa Rasulullah [shall-Allahu ‘alayhi wa-sallam] berkata: ‘Tidak ada penyakit menular.’” Abu Hurairah menyangkal memiliki pengetahuan soal itu, namun ia mengatakan bahwa unta yang sakit tidak boleh dibawa kepada yang sehat. Namun Harits tidak setuju dengannya, dan hal ini membuat Abu Hurairah kesal, hingga beliau mengucapkan kata-kata dalam bahasa Abisinia kepadanya.

Sunan Abu Dawud #2277: Selagi saya duduk bersama Abu Hurairah, seorang wanita Persia datang kepadanya bersama anak laki-lakinya. Dia telah diceraikan oleh suaminya, dan mereka berdua menyatakan berhak atas anak itu. Wanita itu berkata: “Abu Hurairah,” katanya dalam bahasa Persia, “suami saya hendak membawa pergi anak saya.” Abu Hurairah berkata, “Lakukan undian atasnya,” dalam bahasa asing.

Meski tampaknya sangat aneh bahwa Abu Hurairah mempelajari dan menguasai dua bahasa itu, tidaklah demikian bagi mereka yang mengetahui bahwa Yaman pernah dikuasai oleh Persia-Sassanid dan Abisinia-Aksumit di zaman pra-Islam.

Menyusul: Terjemahan sanggahan-sanggahan terkait beberapa tuduhan kalangan Syiah terhadap Abu Hurairah, insya-Allah.

Naskah asli berbahasa Inggris dari tulisan ini dapat dibaca di: http://twelvershia.net/2015/01/11/abu-huraira/

Advertisements

One thought on “Abu Hurairah – Narator Hadits yang Masyhur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s