Nabi Daud & 99 Fitnah

sheep-17482_960_720

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Dalam perjalanan waktu, kitab-kitab Bani Israil diubah-ubah isinya menurut kata hati maupun kepentingan periwayat, penyalin-ulang, penerjemah, pendakwah, serta tetua-tetua dan pemimpin-pemimpin mereka. Sebagai salah satu akibat, rusaklah pengisahan mengenai para nabi dan rasul terdahulu. Tuduhan-tuduhan serius muncul terhadap mereka, baik dari sisi ajaran maupun dari sisi moral.

Sejumlah cuplikan kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Luth a.s., Nabi Daud a.s., hingga Nabi Isa a.s., misalnya, di dalam berbagai kitab Bani Israil menunjukkan pelanggaran-pelanggaran serius terhadap kehormatan mereka serta terhadap kebenaran dari sisi Allah Subhanahu wa-ta’ala. Melihat moralitas Bani Israil lewat sudut pandang Al-Qur’an, hal ini tidaklah terlalu mencengangkan. Jika suatu kaum tega mengusir hingga membunuh utusan-utusan Allah S.W.T., maka apalah artinya bagi mereka untuk merusak martabat serta kehormatan para nabi dan rasul tersebut. Tak heran, Islam kemudian memandang fitnah lebih kejam ketimbang pembunuhan.

Salah satu alasan Al-Qur’an diturunkan adalah untuk membersihkan nama baik serta mengembalikan kehormatan para nabi dan rasul sebelum Rasulullah Muhammad Shallahu ‘alaihi wa-sallam. Lewat sebuah ceramah yang disampaikan oleh seorang sarjana Islam, Nouman Ali Khan, saya mengambil pelajaran mengenai hal ini. Dalam satu presentasinya di tahun 2015, ia menyampaikan penjelasan mengenai salah kaprah kisah Nabi Daud terkait angka 99. Di dalam Al-Qur’an, dapat kita temui kisah tersebut dalam Surat Shad: 20-26:

(20) Dan Kami kuatkan kerajaannya (Daud) dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (21) Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat tembok benteng? (22) Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (23) “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.’” (24) Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (25) Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (26) Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Sampai di sini, barangkali muncul pertanyaan: Kenapa Nabi Daud a.s. sebegitu takutnya hingga beliau menyungkur sujud dan bertaubat? Tidaklah orang-orang datang untuk meminta keputusan dari beliau sesuatu yang aneh, sebab selaku khalifah sebagaimana Rasulullah S.A.W., Nabi Daud a.s. dikaruniai otoritas selaku pemimpin sekaligus hakim. Apa yang sesungguhnya hilang dari kisah ini?

Dalam kitab-kitab Bani Israil, disebutkan bahwa Daud a.s., atau David, memiliki banyak istri. Kisah-kisah Israiliyat, atau tradisi lisan di kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani pada masa itu, menyebutkan angka yang fantastis: David memiliki 99 istri. Dan menurut dongeng-dongeng mereka, ia menginginkan satu lagi, agar genap menjadi 100. Penafsiran yang lebih mengerikan diberikan oleh kisah yang menyebutkan bahwa David mendapati sosok calon istri-nya yang ke-100 pada pasangan orang lain, yakni istri dari salah satu jenderalnya. David lantas mengutus jenderal tersebut ke medan perang yang tak mungkin dimenangi, sehingga jenderal tersebut tewas, dan David pun leluasa untuk menikahi janda sang almarhum. Pengisahan-pengisahan tentang David versi Israiliyat terkadang memunculkan rincian-rincian yang tak senonoh, dan tak perlu diulang di sini.

Bagi saya, yang paling mengerikan justru ketika beberapa Muslim salah menafsirkan kisah dua orang yang memanjat benteng untuk menemui Nabi Daud a.s. Berulangkali terjadi (silakan buktikan lewat mesin pencarian Internet), penafsiran-penafsiran tersebut merujuk kepada kisah-kisah Israiliyat tadi. Sehingga muncullah anggapan bahwa ketakutan Nabi Daud a.s. disebabkan oleh tersadarnya beliau akan nafsunya yang berlebihan terhadap perempuan. Karena bagi sebagian juru tafsir, 99 kambing adalah perumpaan bagi 99 istrinya, dan Allah S.W.T. menegurnya lewat perumpaan tersebut melalui dua malaikat yang menyamar sebagai dua lelaki yang berperkara.

Benarkah demikian? Mungkinkah ini juga merupakan ujian bagi umat Islam untuk tidak mengikuti jejak Bani Israil? Akankah kita turut menyebarkan fitnah terhadap rasul-rasul yang mulia, sementara tak cukup ilmu kita akan hal itu?

Maka, jika ini bukan soal 99 istri, apa sebenarnya yang jadi perkara? Jawabannya tidaklah tersembunyi, bahkan terpampang begitu gamblang. Ayat 20 sebagai pembuka cuplikan kisah, dan ayat 26 sebagai penutupnya, menyatakan: (20) Dan Kami kuatkan kerajaannya (Daud) dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (26) Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Nabi Daud a.s. adalah khalifah, pemimpin sekaligus pemberi keputusan terhadap perkara-perkara. Dengan kata lain, beliau raja sekaligus hakim. Sebagai seorang hakim, beliau harus berlaku adil. Kesimpulan yang beliau sampaikan terkait persoalan 99 plus 1 kambing tadi barangkali terdengar bijaksana: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” Akan tetapi, sesuatu yang terkesan bijaksana belum tentu adil.

Satu hal yang jelas-jelas tidak adil adalah kelalaian Nabi Daud a.s. untuk mendengarkan kedua belah pihak. Beliau mendengarkan satu versi cerita saja, yakni dari orang yang hanya memiliki satu kambing. Barangkali, sebagaimana disinggung dalam ayat 26, beliau telanjur mengikuti hawa nafsu untuk menyalahkan yang satu dan membela yang lainnya, sehingga beliau seolah-olah membenarkan bahwa si pemilik 99 kambing telah menzalimi si pemilik satu kambing, sebagaimana dituduhkan. Padahal urusan zalim-menzalimi adalah perkara yang serius. Dan apabila kejadian tersebut adalah pengadilan resmi, maka sang hakim telah menzalimi salah satu dari dua lelaki itu, serta menzalimi dirinya sendiri.

Prinsip peradilan lain yang penting untuk digarisbawahi adalah kondisi kejiwaan sang hakim. Ketika kedua orang itu hadir, Nabi Daud a.s. begitu terkejut dan takut. Bahasa Indonesia memiliki padanan kata yang bagus untuk kedua perasaan itu: kalut. Sudah menjadi sesuatu yang dimafhumi bahwa ketika hendak memutuskan suatu perkara, seorang hakim tidak boleh berada di bawah tekanan yang membuatnya kalut. Sementara, Al-Qur’an tidak menggambarkan bahwa Nabi Daud a.s. mengambil jeda waktu untuk menghilangkan rasa kalut sebelum mendengarkan kasus yang dibawa ke hadapannya, maupun sebelum memberi kesimpulan.

Demikianlah kisah Nabi Daud a.s. menjadi pembelajaran bagi Nabi Muhammad S.A.W. dalam Surat Shad, dan terus menjadi acuan bagi hakim-hakim penerus yang diharapkan dapat memberikan keadilan dalam berbagai perkara. Jadi, patutkah kita tetap mencari celah untuk memfitnah Nabi Daud a.s. sebagaimana dilakukan oleh kaumnya sendiri? Rasulullah telah memberi wejangan, bahwa jika seseorang tak punya hal baik (dan benar) untuk diucapkan, maka hendaklah dia diam.

Wallahu a’lam.

n.b.: Ceramah Nouman Ali Khan yang dimaksud bisa ditonton pada tautan https://www.youtube.com/watch?v=gVW… (bahasa Inggris).

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s