Menolak “Dalil Najashi”

camels-1149803_960_720

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Tahun 615 Masehi. Tahun Hijriyah belum lagi ada. Akan tetapi, di tahun itu gelombang hijrah telah dilakukan pengikut-pengikut awal Muhammad sall-Allahu-‘alayhi wa-sallam. Bukan ke Medinah, melainkan ke negeri yang lebih jauh.

Di masa itu, negeri-negeri membara dari barat hingga timur. Perang demi perang berkobar antara Romawi dengan Persia, dan konflik-konflik kekuasaan terus bergulir di antara petinggi-petinggi kedua bangsa tersebut, khususnya di Kekaisaran Bizantium. Sementara itu, di Mekah, demi menghindar dari penyiksaan kaum musyrik, lebih dari 80 orang Muslim berangkat ke Aksum, sebuah kerajaan yang di zaman modern menjadi Etiopia dan Eritrea. Sejarawan-sejarawan Arab menyebutnya Al-Habash, dan sejarawan-sejarawan lain menyebutnya Abisinia. Sebagai kerajaan bercorak Kristen, Aksum menerima para Muslim yang hijrah tersebut dengan baik. Sebuah kisah akan menyebutkan, betapa rajanya tergugah oleh ayat-ayat indah dari Surah Maryam yang menggambarkan sang bunda suci dari ‘Isa ‘alayhis-salaam.

Di tahun yang sama, Tanah Syam yang meliputi sebagian dataran Syria, Yordania, dan Palestina jatuh ke tangan Kekaisaran Sassania atau Neo-Persia, atau kini Iran. Sebelumnya, Syam merupakan bagian dari Kekaisaran Bizantium yang merupakan keberlanjutan dari Kekaisaran Romawi di belahan timurnya. Ketakutan turut menjalari kaum Muslim pada saat itu. Sebab kekalahan pasukan Romawi di Syam bisa meluas, termasuk ke Aksum, tempat mereka berlindung. Tidaklah berlebihan apabila kabar gembira yang kemudian tersalin di awal Surah Ar-Rum menjadi peneguh hati kaum Muslim, sekaligus pembangkit semangat bagi mereka yang menentang Persia.

“Telah dikalahkan bangsa Romawi/di negeri yang terdekat, dan mereka setelah dikalahkan itu akan menang/dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah urusan sebelum dan sesudah (kemenangan itu). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu, bergembiralah orang-orang yang beriman.” (QS Ar-Rum: 2-4)

***

Saat ini, kisah hijrahnya orang-orang Muslim ke kerajaan Kristen tersebut menjadi salah satu dalil bagi mereka yang ngotot bahwa kaum Muslim diperbolehkan memilih pemimpin yang kafir. Kata mereka, Raja Najashi, atau Negus, sebuah istilah bagi pimpinan kerajaan di bawah Kekaisaran Bizantium, adalah seorang Kristen. Dan ia menerima, bahkan kemudian melindungi, para Muslim yang hijrah ke kerajaannya, Aksum. Kesan bahwa peristiwa ini merupakan dalil sejarah yang tepat untuk kampanye politik “kafir tapi adil lebih baik daripada Muslim tapi zalim” dapat dipatahkan dengan dalil sejarah pula.

Di masa itu, baik orang-orang Nasrani maupun Yahudi masih menanti-nanti datangnya seorang utusan Tuhan. Hal ini khususnya berlaku bagi orang-orang Nasrani yang masih memegang nubuat dari ‘Isa ‘alaihis-salaam akan datangnya seorang nabi sesudah beliau, yang sekaligus akan membawa syariat, atau hukum Allah, yang final. Seorang juru selamat sejati tentu akan lebih diharap-harapkan kedatangannya dalam kondisi politik yang sedang berkecamuk, yang pada saat itu ditandai dengan perang yang tak berkesudahan antara Romawi dengan Persia. Maka apa kira-kira yang ada dalam pikiran Raja Najashi ketika ayat 19 hingga 32 dari Surah Maryam dibacakan kepada beliau oleh Jafar bin Abu Tholib, pimpinan kaum Muslim yang hijrah itu? Apapun yang ia pikirkan, ayat-ayat mulia itu membuat ia mengusir delegasi dari Abu Jahl dan Abu Sufyan, dua pembesar musyrikin Mekah, lantas melindungi kaum Muslim di negerinya. Raja Najashi percaya kepada ayat-ayat Allah subhanahu-wa-ta’ala yang dibacakan kepadanya, dan orang yang percaya pada ayat-ayat Allah masuk dalam kategori “mukmin,” sebagaimana disebutkan di awal Surah Ar-Rum tadi. Dan imannya berlanjut pada tindakan.

Setelah Perjanjian Hudaibiyah, Nabi Muhammad sall-Allahu-‘alayhi wa-sallam mengirimkan surat ke berbagai negeri dan mengundang raja-raja dan kepala-kepala suku kepada Islam. Amr bin Umayyah Dhimri dikirim ke Kerajaan Aksum. Raja Najashi lantas membalas surat tersebut, dalam di dalam balasannya ia menyatakan, “Saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah, [utusan] yang benar sekaligus membenarkan utusan-utusan sebelum engkau. Saya telah menyatakan baiat kepada engkau dan saudaramu [Jafar bin Abu Tholib], dan lewat dia saya telah [masuk Islam dan] berserah diri kepada Tuhan Seluruh Alam.” Ketika Raja Najashi wafat, Rasulullah sall-Allahu-‘alayhi wa-sallam melaksanakan sholat ghoib untuk beliau di Medinah.

Maka mungkinkah Raja Najashi dibandingkan dengan orang-orang kafir yang tengah digadang-gadang oleh para penjilat kekuasan di Indonesia? Apakah orang-orang kafir itu percaya kepada ayat-ayat Al-Qur’an? Adakah orang-orang Nasrani di posisi-posisi strategis perpolitikan dan ekonomi di Indonesia sudi mengakui bahwa Nabi ‘Isa ‘alayhis-salaam tidak disalib, bukan Tuhan, dan bukan pula anak Tuhan? Sudikah mereka mengakui Muhammad sall-Allahu-‘alayhi wa-sallam sebagai nabi dan rasul terakhir sekaligus pembawa syariat Allah yang final? Pertanyaan terakhir ini patut ditanyakan pula kepada seluruh umat Islam di Indonesia maupun di dunia. Apabila kita percaya bahwa Muhammad sall-Allahu-‘alayhi wa-sallam adalah nabi dan rasul terakhir sekaligus pembawa syariat Allah yang final, mengapa begitu banyak yang menolak hukum yang beliau bawa dan justru lebih percaya kepada hukum buatan manusia?

***

Nyaris sepuluh tahun setelah Romawi dikalahkan di Syam, posisi berbalik di tahun 624 Masehi, atau tahun 2 Hijriyah. Di tahun yang sama, kaum Muslim mengalahkan kaum musyrik Mekah dalam perang Badr. Kemenangan Romawi yang bercorak Kristen atas kaum penyembah api Persia, dan kemenangan pasukan Rasulullah sall-Allahu-‘alayhi wa-sallam yang membawa panji Islam atas kaum penyembah berhala Mekah secara nyaris berbarengan, menggenapi nubuat Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rum bahwa orang-orang yang beriman akan bergembira. Bagaimanapun juga, sebagian ahli kitab Nasrani pada masa itu masih beriman, sementara Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wa-sallam datang untuk membenarkan kitab-kitab yang terdahulu, sebelum kitab-kitab itu diutak-atik oleh tangan-tangan jahil Bani Isroil.

Kondisi keimanan kaum Nasrani pada masa itu tidak bisa dibandingkan dengan kondisi mereka pada saat ini. Demikian pula kondisi keimanan umat Islam pada masa itu sulit untuk dibandingkan dengan umat Islam di masa sekarang. Maka tidaklah mengherankan apabila janji di awal Surah Ar-Rum seolah terulang kembali, bahwa hanya mereka yang percaya pada tegaknya agama Allah sajalah yang akan bergembira. Dan ini turut diperkuat dengan kondisi negeri Syam yang bergejolak. Syria dan Palestina terus menjadi sorotan media dunia akibat konflik bersenjata dan pembantaian-pembantaian yang masih saja bergulir. Media massa konvensional maupun elektronik turut memperluas arena peperangan. Senjata lawan senjata. Opini lawan opini. Penyembah thogut harta dan tahta melawan orang-orang yang rindu akan kebenaran.

Saat iman dituntut melawan kezaliman, di mana kita berpihak?

Wallahu a’lam bis-showab.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s