Asia Bibi & Sirah Nabi

garbage-20058_960_720

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah zaman perang pemikiran. Ketika perang senjata di zaman modern cenderung tak peduli aturan (lihat saja Israel), maka jangan heran jika perang pemikiran pun seringkali acakadut tata-cara serta argumen-argumennya. Dan ini bisa terjadi pada kedua belah pihak yang tengah bertikai.

Baru beberapa hari lalu saya dapati tulisan serta beberapa foto di Facebook mengenai Mumtaz Qadri, seorang petugas keamanan yang menembak mati orang yang ia jaga. Sementara itu, dari Wikipedia saya tahu bahwa Salman Taseer adalah seorang gubernur di Pakistan yang kritis terhadap undang-undang anti-penistaan agama, dan ia salah satu dari ribuan hingga jutaan orang di dunia yang membela Aasiya Noreen, atau yang lebih populer dengan panggilan Asia Bibi. Konon, terdorong oleh kecintaan terhadap Rasulullah, Tuan Qadri menembak Tuan Taseer. Lantas Tuan Qadri dihukum mati.

Asia Bibi juga dijatuhi hukuman mati. Ia masih hidup, karena setelah beberapa kali naik banding, kasusnya masih harus menjalani sidang pada tanggal 26 Maret 2016 nanti. Yang sudah meninggal dunia adalah Tuan Qadri dan Tuan Taseer. Berita yang saya baca di Facebook mengklaim bahwa jenazah Mumtaz Qadri disholatkan oleh jutaan orang. Anak Salman Taseer lantas membuat tulisan, dan ia menyebutkan bahwa jumlah itu bukan menunjukkan kecintaan rakyat terhadap Mumtaz Qadri, melainkan kebencian mereka terhadap ayahnya.

Nah, selamat datang di arena perang opini.

Akankah kita memilih salah satu pihak? Atau akankah kita lebih memihak pada kedamaian? Saya seolah-olah mendengar desis tawa mengejek akibat pembacaan terhadap kata terakhir dalam kalimat barusan. “Kedamaian? Oh please…

Lho, kenapa tidak? Setidaknya itu yang dipercayai oleh Asia Bibi sendiri. Ia bertanya kepada rekan-rekannya sesama pemetik buah arbei, “Aku percaya pada agamaku dan pada Yesus Kristus, yang mati di salib demi (menebus) dosa-dosa umat manusia. Memangnya apa yang sudah dilakukan nabimu Muhammad untuk menyelamatkan umat manusia?” Karena pertanyaannya, Asia Bibi dikenai pasal penghinaan terhadap Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa-sallam.

Perseteruan antara Asia Bibi dan rekan-rekannya memiliki latar belakang yang panjang, namun pada hari itu, di bulan Juni 2009, segalanya memuncak dan akan menjadi lebih buruk. Saat beristirahat dari memetik arbei di kebun di Sheikhupura, rekan-rekannya meminta ia mengambil air di sumur terdekat. Ia pun menuju ke sana. Setelah air ditimba, ia melihat satu cangkir di samping sumur. Ia lantas minum dengan cangkir logam berkarat itu. Salah satu tetangganya melihat hal tersebut, dan berkata bahwa sebagai seorang Kristen Katolik ia tak semestinya minum dari cangkir yang sama dengan orang Islam. Rekan-rekannya sesama pemetik arbei kemudian turut menyudutkannya, sekaligus menjelek-jelekkan agama yang ia anut, hingga Asia Bibi meneriakkan pertanyaan tadi.

Keluarga Asia Bibi adalah satu-satunya keluarga penganut agama Nasrani di kampung itu. Keluarga ini akhirnya mengalami kekerasan fisik, dihakimi massa sebelum polisi datang menyelematkan mereka. Akan tetapi, atas desakan warga, Asia Bibi dipenjara. Setelah ditahan bertahun-tahun tanpa kejelasan, satu sidang akhirnya memvoniskan hukuman mati dengan cara digantung kepadanya. Kabar dan desas-desus menyebar. Banyak yang menginginkan Asia Bibi mati. Banyak pula yang membelanya, hingga ada beberapa pihak yang berharap bahwa undang-undang anti-penistaan agama di Pakistan sebaiknya dihapuskan saja, termasuk Salman Taseer.

Saya tidak berani menyentuh urusan pertahankan atau hapuskan undang-undang anti-penistaan agama di Pakitan. Membacanya saja saya belum pernah. Maka saya hanya berani berandai-andai. Sebagai orang cemen yang bisanya cuma mengharapkan kedamaian, saya ingin… ingiiiiin sekali… menjawab langsung pertanyaan Asia Bibi. Karena dari opini-opini yang saya baca, seolah-olah tak ada satu pun Muslim di Pakistan yang mau memberi jawaban langsung kepadanya dengan kepala dingin.

Seandainya saya jadi hakim cemen yang bisanya cuma memimpikan kedamaian, saya akan menjatuhkan hukuman kepada Asia Bibi agar dia belajar membaca. Ya, Asia Bibi buta huruf. Maka berapapun lamanya waktu yang dibutuhkan, biarkan dia belajar membaca. Setelah dia bisa membaca, hukuman “andai-andai” yang saya berikan akan berlanjut dengan adanya seseorang yang mendampinginya untuk membaca salah satu sirah nabi alias biografi Rasulullah Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa-sallam. Barangkali setelah itu dia akan dapat menjawab sendiri pertanyaan yang ia ajukan. Karena jika pemerintah Pakistan tidak bisa memberikan pendidikan minimal yaitu baca-tulis kepada rakyat kecil, dan orang-orang miskin hanya bisa ribut, adu mulut, lalu turun ke jalan-jalan dengan tuntutan-tuntutan beringas, maka saya khawatir di akhirat nanti semua orang Pakistan yang terlibat kasus ini, meskipun secuil, akan ditanyai langsung oleh Rasulullah: “Kenapa tak kalian perkenalkan aku kepada Asia Bibi, sementara dia sudah bertanya tentang aku?”

Biarlah ada yang protes soal saya bawa-bawa akhirat segala. Toh pada akhirnya dua pertanyaan yang relevan (setidaknya bagi saya) masih ada kaitannya dengan kehidupan kini, di masa ini, yakni: Apa pula yang dapat membuat orang-orang seperti Asia Bibi mengenal Rasulullah dengan baik, selain pendidikan? Dan bukankah pendidikan takkan dapat berlangsung dengan baik tanpa kedamaian?

Saya mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, maka jika saya punya opini mengenai insiden duniawi, saya harus mendukungnya dengan argumen yang kuat. Maka dari itu, tak heran jika saya lebih kagum kepada Tuan Qadri yang membunuh karena kecintaannya kepada Nabi Muhammad Shollallahu ’alayhi wa-sallam. Mungkin tak terlalu bermasalah jika Tuan Taseer hanya mengkritisi undang-undang buatan manusia. Namun terlampau ceroboh apabila di tengah-tengah masyarakat yang mengelu-elukan Rasulullah, ia melampaui batas dengan nyata-nyata mencela salah satu figur paling dicintai sepanjang sejarah tersebut.

Wallahu a’lam bis-showab.

#Salaam

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s