Batas Gerak LGBT

city-1487891_960_720

 

LGBT dalam Berita
Seusai sholat Jum’at, seseorang menanyakan tanggapan saya mengenai isu LGBT yang kembali mencuat di media massa; LGBT masuk kampus. Sebelumnya kita dengar soal pernikahan sesama jenis di Bali, yang memancing sebagian ulama untuk mengeluarkan fatwa hukuman mati. Kita dapat melihat ke belakang dan menemukan kasus-kasus, gosip-gosip, maupun kisah-kisah dalam satu bingkai besar. Ada seorang transgender yang dibunuh oleh pacarnya. Ada Riyan si jagal. Ada foto panas Evan Sanders. Ada tokoh LGBT yang hendak jadi anggota DPR. Dan masih banyak lagi.

Semoga isu LGBT kali ini bukan sekadar pengalih perhatian masyarakat dari kasus-kasus korupsi maupun pelanggaran-pelanggaran hukum akut lain di Indonesia. Namun baiklah, kita bahas saja, sebab seolah sebuah kebetulan, saya memang pernah dekat dengan isu ini. Saking dekatnya, saya katakan kepada yang bertanya tadi bahwa saya tahu orang-orang yang mengganggap label LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender/transsexual) sebagai sesuatu yang tak lagi relevan. Bagi mereka seksualitas begitu cair, sehingga berhubungan badan sesama laki-laki maupun perempuan tak ada kaitannya dengan orientasi seksual, melainkan eksperimen.

Dan aktivisme LGBT di kampus-kampus bukanlah hal baru. Semasa saya kuliah, diskusi-diskusi di kampus-kampus serta pelatihan-pelatihan berlabel budaya dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang melibatkan mahasiswa-mahasiswi LGBT sering dilakukan. Sebagai mahasiswa yang melibatkan diri dalam organisasi-organisasi kebudayaan, saya senantiasa mencari-cari posisi saya dalam berbagai isu, tidak terkecuali soal “seksualitas alternatif” — sebuah istilah yang terdengar menantang secara akademis, namun sesungguhnya akan membuat siapapun limbung.

Redundansi Label
Pada titik ini, ada baiknya saya jelaskan posisi saya sekarang terhadap isu LGBT. Setelah kembali mengaji dan mendekati orang-orang yang insya-Allah gemar beramal sholeh, saya turut menganggap “LGBT” sebagai label yang memang pada akhirnya tidak relevan. Yang lebih pas adalah melihat sekelompok orang yang sampai pada titik di mana mereka diberi pilihan untuk “tidak melampaui batas” atau “melampaui batas.” Istilah “melampaui batas” sering kita temui dalam (terjemahan) Al-Qur’an, dan salah satunya ketika mendeskripsikan kaum negeri Sadum. Kepada mereka diutus Nabi Luth ‘alayhis salaam.

Kelompok manusia yang berada pada titik memilih di antara dua kutub ini bisa jadi ditawari label-label yang kemungkinan besar tak mereka mengerti. Misal, seorang lelaki yang awalnya mengaku dirinya gay mungkin nantinya merasa label dan definisi “biseksual” lebih cocok untuk ia sandang. Kemudian dia mencoba mengenakan pakaian-pakaian perempuan — “cross-dressing” istilahnya — lantas merasa “transgender” adalah label yang lebih cocok. Atau barangkali “questioning” lebih pas, karena ternyata ia tak mau lekas-lekas memutuskan dan masih bertanya-tanya. Apabila ia akhirnya memutuskan melakukan operasi kelamin, ia pun menjadi “transsexual.” Ketika ia lantas telah menjadi perempuan secara biologis, tapi notabene jatuh cinta kepada perempuan juga, maka ia pun disebut “intersexual.” Ada keperluan akan label-label yang seolah tak ada habis-habisnya. Bahasa kerennya “redundansi.” Dalam bahasa (terjemahan) Al-Qur’an, barangkali ini merupakan contoh dari “terombang-ambing dalam kesesatan.” Entah itu kesesatan berpikir maupun bersikap.

Saking luasnya “kesesatan” ini, para psikolog dan psikiater pun dijamin akan kewalahan menghadapi fenomena “seksualitas alternatif” apabila mereka tidak berpegang pada pengkategorian yang tegas. Dari pengalaman pribadi, sepanjang berkecimpung dalam aktivisme organisasi berlabel budaya dan HAM, penulis menemui pula orang-orang berilmu agama maupun lembaga-lembaga agama yang sepertinya telah jatuh ke dalam kategori “melampaui batas.” Ada kelompok perempuan dari salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang merangkul organisasi LGBT dalam aktivisme hukum. Satu kelompok mahasiswa di universitas di Yogyakarta yang membawa nama Islam menerbitkan buletin yang mencantumkan klaim fantastis, yang bunyinya kira-kira: “Di zaman Nabi Luth a.s. jumlah manusia masih sedikit, sehingga hubungan seksual yang non-reproduktif dianggap dosa; tapi sekarang jumlah manusia sudah terlalu banyak.” Ada pula para “ustadz” yang menyatakan bahwa liwath tidak pernah dilarang dalam Al-Qur’an, dan bahwa dosa utama kaum Sadum yang mendatangkan azab Allah adalah kebiasaan melakukan kekerasan atau pembunuhan serta mengurangi sukat/timbangan. Ada pula tokoh-tokoh Islam bahkan ahli dakwah yang berani condong pada anggapan bahwa pernikahan sesama jenis pada akhirnya sah-sah saja, dan ini tentunya diikuti tepuk-tangan riuh dari kelompok-kelompok aktivisme LGBT.

Bayangkan anak-anak muda “galau dan labil” (belum lagi “alay”) yang mengutip, menyebarkan, dan menelan bulat-bulat pernyataan-pernyataan serta mengikuti panduan para tokoh agama semacam itu. Ada pula yang telanjur menemukan tatapan sinis dan sikap bengis dalam Islam, sementara sebagian orang dan organisasi liberal membuka tangan mereka lebar-lebar untuk kemudian mencekoki mereka dengan pernyataan, “Be whoever you want to be, and do whatever you want to do” — “Jadilah siapapun dan lakukan apapun yang kamu mau.” Dan “terombang-ambing dalam kesesatan” lantas menjadi sebuah kenyataan. Jika demikian adanya, maka sepertinya kita (Anda) perlu turut memastikan, di mana posisi Anda terkait isu ini.

Di zaman Rasulullah S.A.W., label yang dipakai bisa dibilang tegas, yakni “mereka yang melakukan liwath.” Itu cukup untuk menjadi dasar pemberian hukuman, yakni dibunuh, meski terdapat perbedaan pendapat mengenai metodenya. Ada hukuman berupa ditimpa bangunan, dilemparkan dari gedung tertinggi, atau dipenggal. Dalam sebuah riwayat, Ali bin Abu Thalib r.a. menyarankan pembakaran hidup-hidup, dan saran ini dilaksanakan oleh Khalid bin Walid r.a. terhadap seorang laki-laki yang senang disetubuhi layaknya perempuan (dan penulis lantas bertanya-tanya apakah hal serupa juga dilakukan kepada yang menyetubuhi). Ada pula yang menyarankan pengucilan bagi yang bertobat. Pencarian dalil bagi kesemua hukuman di atas tentunya harus diserahkan kepada mereka yang ilmunya lebih mumpuni.

Baca juga: Islam Izinkan Homoseksualitas? Sejumlah Argumen dan Bantahannya

Jalan Tengah
Di zaman ini, adakah jalan tengah untuk isu yang sedemikian sensitif? Rasanya tak cukup ilmu saya ‘tuk berikan jawaban, dan ini adalah bagian dari usaha untuk berjalan pelan-pelan, tak gegabah, hati-hati. Namun ada orang-orang dan lembaga-lembaga yang telanjur getol “membela hak-hak LGBT,” bahkan akan kehilangan banyak apabila “perjuangan” mereka dihentikan karena sebagian dari mereka memperoleh dana operasional dari donor-donor besar. Penulis akhirnya melihat mereka sebagai marabahaya, meskipun tetap berharap mereka sempat mengetuk pintu tobat.

Di sisi lain, bisa dipahami apabila sebagian dari kaum Muslim akan cepat-cepat pasang wajah garang dan mengutuk, atau bahkan melakukan kekerasan, terhadap “pejuang-pejuang” LGBT itu. Sebab masalah terbesarnya kini terkait dengan generasi muda — orang-orang Muslim dengan usia di bawah penulis dan Anda, kalangan yang (akhirnya penulis sadari) membutuhkan panduan yang penuh kehati-hatian sekaligus ketegasan. Karena menyelamatkan dan memberikan perlindungan terhadap pikiran dan hati mereka merupakan tugas orang-orang yang berilmu. Semoga saja perlindungan dan bimbingan bagi mereka adalah salah satu kunci melawan atau setidaknya memperkecil ruang gerak orang-orang yang telah melampaui batas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s