Muhammad (Sebuah Terjemahan) – Bab 1

511ZcAV4jYL__SL300_

Judul Asli: Muhammad: His Life Based on Earliest Sources

Penulis: Martin Lings

Penerjemah: Labodalih Sembiring (bab 2 & 4 oleh Abmi Handayani)

I

Rumah Tuhan

KITAB Kejadian memberitahu kita bahwa Ibrahim tak punya anak, tanpa harapan ‘tuk punya anak, dan bahwa suatu malam Tuhan memanggilnya untuk keluar dari tenda dan berkata kepadanya: “Pandanglah kini ke arah langit, dan hitunglah bintang jika engkau mampu membilangnya.” Dan saat Ibrahim menatapi bintang-bintang ia dengar suara itu berkata: “Demikianlah kelak adanya benih-benihmu.”15: 5.

Sarah istri Ibrahim kala itu berumur tujuhpuluh enam, selagi ia sendiri delapanpuluh-lima; dan perempuan itu menyerahkan pelayannya Hajar, perempuan Mesir, supaya kiranya ia ambil sebagai istri kedua. Namun kegetiran hati meruap di antara nyonya dan si pelayan, hingga Hajar melarikan diri dari kemarahan Sarah dan memanggil-manggil Tuhan dalam deritanya. Maka Ia kirimkan kepadanya satu Malaikat berikut pesan: “Aku akan menggandakan benih-benihmu berlipat-lipat, sehingga tak terhitung lantaran banyaknya.” Malaikat itu juga berkata kepadanya: “Dengarlah, engkau tengah mengandung, dan akan melahirkan anak laki-laki, dan berikanlah ia nama Isma’il; sebab Tuhan telah mendengar keluh-kesahmu.”16: 10–11. Lalu Hajar kembali kepada Ibrahim dan Sarah dan memberitahu mereka yang apa telah disampaikan Malaikat; dan ketika kelahiran itu tiba, Ibrahim menamai anak lelakinya Isma’il, yang berarti “Tuhan mendengar.”

Ketika anak lelaki itu mencapai usia tigabelas, Ibrahim telah mencapai usia seratus, dan Sarah berumur sembilanpuluh tahun; dan Tuhan kembali berbicara kepada Ibrahim dan berjanji kepadanya bahwa Sarah pun akan melahirkan untuknya seorang anak laki-laki yang mesti dinamai Ishaq. Khawatir jika anaknya yang lebih tua kehilangan keistimewaan di mata Tuhan, Ibrahim berdoa: “Oh kiranya Isma’il diperkenankan hidup [mewarisiku] di hadapan-Mu!” Dan Tuhan berkata kepadanya: “Berkenaan Isma’il, telah Aku kabulkan doamu. Dengarlah, ia telah Aku berkati… dan akan kujadikan keturunannya bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Aku adakan dengan Ishaq, yang akan Sarah lahirkan bagimu pada waktu seperti ini tahun depan.”17: 20–1.

Sarah pun melahirkan Ishaq dan ia sendirilah yang menyusuinya; dan ketika anak itu disapih, Sarah mengatakan kepada Ibrahim bahwa Hajar dan anak lelakinya tak boleh lagi tinggal di rumah mereka. Teramat sedih Ibrahim oleh hal ini, sebab ia begitu mengasihi Isma’il; namun Tuhan kembali berfirman kepadanya, memerintahkannya agar mengikuti arahan Sarah, dan agar ia tak berduka; lagi-lagi Ia berjanji bahwa Isma’il akan diberkati.

Tidaklah satu melainkan dua bangsa besar akan menoleh ke belakang ‘tuk dapati Ibrahim sebagai bapaknya — dua bangsa besar, yang artinya dua kekuatan terbimbing, dua instrumen pelaksana Ketetapan Langit, sebab Tuhan tak mungkin menjanjikan berkat yang remeh-temeh, dan tiadalah keagungan di hadapan Tuhan melainkan keagungan Ruh. Dengan demikian Ibrahim adalah mata air bagi dua arus spiritual, yang tak bisa mengalir bersama, tapi pada jalurnya masing-masing; maka Ibrahim pun memercayakan Hajar dan Isma’il kepada berkat Tuhan serta penjagaan Malaikat-Malaikat-Nya dengan keyakinan bahwa mereka akan baik-baik saja.

Dua arus spiritual, dua agama, dua dunia bagi Tuhan; dua lingkaran, maka ada dua pusat. Tidaklah suatu tempat disebut suci lewat pilihan manusia, melainkan karena dipilih oleh Langit. Ada dua pusat bagi orbit Ibrahim: ia berdiam di salah satunya, sementara yang lain mungkin belum lagi ia ketahui; dan kepada yang lain inilah Hajar dan Isma’il dipandu, di lembah tandus Arabia, sekitar empat puluh hari perjalanan dengan unta dari Kanaan ke selatan. Disebutlah lembah ini Bakkah, sebab tempat ini sempit kata sebagian orang: bukit-bukit melingkarinya di semua sisi dan hanya tersedia tiga jalur keluar-masuk, satu ke utara, satu ke selatan, serta satu celah ke arah Laut Merah yang jaraknya limapuluh mil ke barat. Kitab-kitab tak memberitahu kita bagaimana Hajar dan anak lelakinya mencapai Bakkah; barangkali beberapa pengembara membantu mereka, karena lembah itu terletak di salah satu jalur besar para kafilah, disebut juga “jalur dupa,” sebab wewangian dan dupa serta beragam barang dibawa ke sana dari Arabia Selatan hingga Mediterania; dan tentunya Hajar diarahkan untuk meninggalkan rombongan begitu sampai di tempat tersebut. Tak lama berselang sang ibu dan anak dicengkeram kehausan, hingga titik di mana Hajar mencemaskan bahwa Isma’il sedang sekarat. Berdasarkan tradisi keturunan-keturunan mereka, anak itu memanggil-manggil Tuhan dari tempatnya berbaring di pasir, dan ibunya berdiri di atas batu di kaki sebuah bukit untuk mencari siapa kiranya yang bisa menolong. Tak menemukan siapa-siapa, ia bergegas ke titik awas lainnya, namun dari situ pun tak jua satu jiwa terlihat. Setengah putus asa, ia melewati jalur di antara dua titik itu sebanyak tujuh kali, hingga di ujung langkahnya pada bilangan yang ketujuh itu, selagi ia duduk letih di atas batu yang agak jauh, satu Malaikat berseru kepadanya. Dalam redaksi Kejadian:

Dan Tuhan mendengar suara pemuda itu; dan malaikat Tuhan memanggil Hajar dari arah langit dan berkata kepadanya: Apa yang meresahkanmu, Hajar? Janganlah takut, karena Tuhan telah mendengar suara anak itu dari tempatnya berada. Bangkitlah dan bangunkan anakmu serta bopong ia di tanganmu, sebab Aku akan jadikan keturunannya bangsa yang besar. Lalu Tuhan membukakan matanya, dan ia melihat sumur berisi air.21: 17–20.

Itulah mata air yang diperintahkan Tuhan agar meluap dari pasir berkat sentuhan tumit Isma’il; dan setelahnya lembah tersebut menjadi tempat perhentian bagi kafilah-kafilah oleh karena kesegaran dan berlimpahnya air itu; dan dinamailah sumur itu Zamzam.

Kitab Kejadian merupakan kitab mengenai Ishaq dan keturunannya, bukan tentang garis Ibrahim yang satunya. Perihal Isma’il, disebutkan: Dan Tuhan bersama pemuda itu; dan ia tumbuh dan menetap di belantara serta menjadi seorang pemanah.ibid Setelah itu hampir tak lagi namanya disebut; kecuali demi menyampaikan kepada kita bahwa dua bersaudara Ishaq dan Isma’il bersama-sama menguburkan bapak mereka di Hebron, dan bahwa beberapa tahun kemudian Esau menikahi sepupunya, anak perempuan dari Isma’il. Namun terdapat pujian tak langsung atas Isma’il dan ibunya dalam Mazmur yang dibuka dengan Alangkah menyenangkan rumah-Mu, ya Tuhan balatentara surga, dan lantas menceritakan mukjizat Zamzam sebagai akibat dari melintasnya mereka di lembah itu: Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau; yang pada hatinya jalur-jalur ziarah mereka yang melintasi lembah Bakkah dan menjadikannya bermata air.Mazmur 84: 5–6

Ketika Hajar dan Isma’il mencapai tujuan mereka, Ibrahim masih punya tujuhpuluh-lima tahun untuk dijalani dan ia mengunjungi anaknya di tempat suci yang didatangi Hajar lewat bimbingan langit. Al-Qur’an memberitahu kita bahwa Tuhan menunjukkan lokasi itu kepadanya, di dekat sumur Zamzam, yang di atasnya ia dan Isma’il diwajibkan membangun satu tempat kudusXII, 26; dan mereka diberitahu bagaimana ia harus dibangun. Namanya, Ka’bah, sesuai dengan bentuknya yang menyerupai kubus; keempat sudutnya mengarah kepada empat titik mata angin. Namun benda paling keramat di tempat suci itu adalah sebuah batu dari surga yang, menurut kisah, dibawakan oleh satu Malaikat kepada Ibrahim dari bukit Abu Qubays yang dekat, di mana batu itu terpelihara sejak tiba di bumi. “Ia turun dari Jannah lebih putih daripada susu, namun segala dosa putra-putra Adam menjadikannya hitam.”Tir. VII, 49 Batu hitam ini mereka muatkan ke dalam sisi timur Ka’bah; dan ketika tempat kudus itu selesai, Tuhan kembali berbicara kepada Ibrahim dan memintanya menetapkan ritus Haji ke Bakkah — atau Makkah, sebagaimana ia kelak disebut: Sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang rukuk dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu, dengan berjalan kaki atau mengendarai setiap unta kurus, dari segenap penjuru yang jauh.QS XII, 26–27

Di titik ini, Hajar telah menceritakan kepada Ibrahim kisahnya mencari pertolongan, dan Ibrahim menjadikan hal itu bagian dari Haji sehingga para peziarah mesti melintas tujuh kali antara Safa dan Marwah, demikianlah kedua bukit yang telah dilalui Hajar pada akhirnya dinamai.

Dan kelak Ibrahim berdoa, barangkali di Kanaan, sembari memandangi padang nan hijau berikut ladang-ladang jagung serta gandum: Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah tanpa tanam-tanaman di dekat Rumah Engkau yang suci … Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.QS XIV, 37

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s